Bangkit Menuju Kesejahteraan | Lampung Post
2017 15 April
1645
Ilustrasi kesejahteraan rakyat. seword.com

Bangkit Menuju Kesejahteraan

BERKORBAN untuk sesama manusia mudah diucapkan, tetapi sangat sulit diwujudkan. Keinginan untuk berkorban sering terbebani oleh kepentingan dunia yang dikuasai pertimbangan untung dan rugi.

Semangat untuk berkorban semakin sulit ditemui manakala kehidupan manusia bertabur dengan kemudahan dan kenikmatan. Tidak heran, dewasa ini sangat sulit mencari tokoh yang dapat diteladani atas keikhlasan berkorban demi sesama.

Teladan pengorbanan itulah yang dilakukan Yesus Kristus dalam peringatan Jumat Agung, kemarin. Pengorbanan diri yang sehabis-habisnya untuk menebus dosa manusia. Tidak ada kasih yang lebih besar selain kasih seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabatnya.

Jika Jumat Agung menjadi simbol pengorbanan, Kamis Putih adalah simbol pelayanan. Sama halnya dengan berkorban, tidak mudah untuk menjadi pelayan. Menjadi pelayan dengan menempatkan diri di posisi paling rendah, membasuh dan mencium kaki sesama manusia. Hanya sedikit orang yang memiliki kesadaran penuh untuk melayani orang lain dengan sebaik-baiknya.

Sebaliknya, manusia selalu ingin dilayani dalam segala hal hingga sering lupa daratan. Para pemimpin yang seharusnya menjadi pelayan masyarakat acap lupa diri ingin mendapat privilese berlebihan. Setelah Kamis Putih dan Jumat Agung, besok umat Kristiani merayakan Minggu Paskah sebagai simbol kebangkitan untuk melengkapi Tri Hari Suci. Bangkit dari kematian, bangkit dari kesedihan, dan bangkit dari keterpurukan.

Kebangkitan itulah yang kini sangat diharapkan segenap rakyat di negeri ini, khususnya di Lampung. Seluruh elemen di provinsi ini harus bangkit bersama-sama untuk mengangkat harkat, martabat, dan kesejahteraan jutaan keluarga miskin.

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional, pada September 2016 jumlah penduduk miskin di Lampung sebanyak 1,140 juta jiwa atau 13,86% dari total jumlah penduduk. Mereka inilah yang harus mendapat prioritas untuk dilayani dengan penuh pengorbanan agar dapat segera bangkit dari kemiskinan.

Karena sebagian besar penduduk miskin terkonsentrasi di perdesaan, pemerintah sebaiknya mempercepat realisasi pembangunan bendungan dan perbaikan saluran irigasi untuk menjaga pasokan air di sawah dan perkebunan. Menjamin stabilitas harga komoditas pertanian juga perlu dilakukan agar hasil panen yang berlimpah berbanding lurus dengan penghasilan yang diterima petani.

Pembangunan dan rehabilitasi jalan raya, baik ruas jalan utama maupun ruas jalan perkampungan, serta jaminan keamanan juga sangat penting untuk mengangkat kesejahteraan petani.

Tidak mudah memang menjadi pelayan yang merelakan diri untuk berkorban, terlebih bagi pemerintah yang selalu ingin memerintah. Tetapi, dua syarat tersebut harus dipenuhi jika ingin membangkitkan kesejahteraan jutaan penduduk yang masih terbelit kemiskinan.

BAGIKAN


REKOMENDASI