Benturan Lembut | Lampung Post
2017 15 April
1648
Kategori Opini
Ilustrasi. 3.bp.blogspot.com

Benturan Lembut

MULANYA bangsa Ibrani merayakan Paskah untuk mengenang sejarah bangsa itu melintasi gurun pasir. Sebuah perjalanan panjang, melewati bentangan yang luas, untuk tiba di dataran yang hijau. Mereka keluar dari perbudakan di Mesir, untuk menikmati kemerdekaan di negeri berlimpah “susu dan madu.”

Lalu seperti banyak perayaan yang lain, juga perayaan keagamaan, berubah jadi selebrasi yang megah dan meriah. Perayaan itu kehilangan makna yang sejati: meresapi kembali pembelaan Tuhan. Lebih buruk lagi, malah jatuh dalam sikap normatif. Perayaan mesti diselenggarakan dengan cara, aturan, bentuk, ukuran, dan berbagai ketentuan. Norma yang lalu menjebak dan mencekik umat.

Hari itu Yesus memilih duduk di atas seekor keledai muda. Bukan naik kuda yang adalah tunggangan panglima dan pejabat politik. Yesus memilih keledai sebagai lambang kerendahan hati, pelayanan, dan kelembutan cinta. Tidak ada satu pun simbol kekuasaan, perebutan, apalagi kekerasan. Yesus mengemban amanat surgawi: Tuhan melawat umat-Nya.

Murid-muridnya melepaskan baju mereka menjadi pelana. Orang banyak rela menghamparkan busana menjadi bagai “karpet merah.” Keledai itu melangkah anggun di atas busana itu, diiring lambaian daun palma, dan seruan yang ramai, “Hosana.... Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!”

Tapi bagi para pemimpin Bait Allah dan pemuka agama itu bukan arak-arakan yang anggun. Itu ancaman bagi kebobrokan dan kemunafikan yang dikemas dalam banyak regulasi. Itu adalah sehelai sapu tangan yang menyeka lembar demi lembar halaman hitam dari agama. Atau, bisa membuka aib: siapa, dapat apa, bagaimana, bersama siapa, dan disembunyikan di mana.

Pun bagi imperium Roma. Arak-arakan itu ancaman pada kekuasaan penjajah yang sudah mapan. Padahal, belenggu penindasan tidak boleh menjadi kendur, apalagi dilepaskan. Tanah subur di Timur Tengah itu memberi komoditas dan keuntungan ekonomi yang tidak sedikit, karena itu segera dibangun konspirasi dengan para pemuka agama dan atas nama agama.

Yesus memang memberi benturan lembut pada kesesatan sikap beragama, dan kegelapan kekuasaan, serta militerisme. Tapi benturan yang lembut itu dijawab dengan kekerasan yang ditegakkan dengan agama! Benturan itu segera beralih menjadi ledakan yang minta darah, air mata, dan jerit tangis. Seperti yang selalu terjadi, suara perempuan dan tangis anak-anak tak digubris siapa pun.

Hosana yang penuh rahmat berubah menjadi teriakan, “Salibkan Dia!” yang disuarakan parau dan sarat kesumat. Dikawal suara derap kuda, barisan militer yang menyeringai, para pemimpin Bait Allah menginjak kekudusan Tuhan dalam kebencian dan keserakahan. Alam yang gelisah, bergerak resah, menimbulkan kegelapan dan menggetarkan tanah dengan gempa.

Benturan Lembut Vs Kekerasan

Benturan lembut dari cinta itu dihantam dengan kekerasan. Murid-murid Yesus kocar-kacir dalam ketakutan. Beberapa yang setia, disertai Bunda Maria dengan beberapa perempuan, mengiring Yesus sampai di Golgota. Raja Damai yang telah dianiaya, tubuh-Nya dibalut darah, keringat, dan ludah banyak orang, lalu dinaikkan ke atas kayu salib. Di sana Dia mati tergantung.

Makna Paskah menjadi lebih dalam. Lebih dari pembelaan Ilahi melintasi gurun pasir untuk meraih negeri penuh “susu dan madu.” Paskah menjadi pelintasan melalui lembah dosa dan maut demi meraih cinta Tuhan. Manusia dibebaskan dari belenggu dosa, hukuman dosa, dan kegelapan kematian, untuk menerima rumah di hati Tuhan, Sang Pemilik Kehidupan.

Yesus selalu mengibaratkan diri-Nya dengan air. Diri-Nya adalah kasih Bapa-Nya, yang mengalir bagai sungai kecil. Anak-anak bisa bermain, tertawa, menyanyi, dan menari di tepi sungai itu. Kaum ibu tersenyum membawa ember penuh air yang memberi harapan untuk seisi rumah. Mereka yang susah, sakit, terimpit, menerima kelegaan, dan penyembuhan.

Air kehidupan itu menyusup ke seluruh relung kehidupan, menggenangi hati semua orang, tapi berubah menjadi benturan pada kegelapan yang beku, licik, dan dingin. Lalu kegelapan itu memakai aturan agama menjadi legitimasi, untuk melakukan kekerasan. Sehingga tidak ada lagi anak menari, kaum perempuan yang menyanyi, dan yang terhimpit berhenti menaruh harapan.

Dia yang mengajar dengan rendah hati, “Kasihilah musuhmu dan berdolah bagi mereka yang menganiaya kamu,” lalu direndahkan dan dihajar sampai remuk oleh yang memusuhi-Nya. Namun, Dia tak berubah, tak bergeser. Dari tiang salib itu, dengan suara tersendat, Dia menutur, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” 

Yesus menjadi anak domba Paskah yang dikurbankan untuk membuat nyata isi hati Sang Pencipta. Kehidupan dan kematian-Nya adalah gerbang dari hati Tuhan yang penuh ampunan, sarat belas kasih, dan merangkul semua orang tanpa dibatasi agama, ritual, dan seremoni. Hati-Nya kita rayakan dan cinta-Nya menjadi alasan untuk terus melakukan perayaan.

Masihkah iman kita diisi Paskah? Tentu perayaan seperti Minggu Palma, Rabu Abu, Kamis Putih, Jumat agung, Sabtu Sunyi, dan Minggu Paskah patut terus dilaksanakan. Tapi tidak boleh berhenti sebatas ritual atau selebrasi umat dalam ber-gereja. Paskah, sebagai peristiwa melintasi ruang gelap kehidupan, adalah milik semua orang. Siapa pun dan di mana pun.

Masihkah umat kristiani rela berbagi agar sesama menikmati pembebasan dan kemakmuran. Siapa yang rela mengambil kesusahan dan kesedihan orang lain, lalu menaruh di hatinya. Siapa yang rela mengulur tangan untuk berbagi cinta dari Tuhan? Apakah semua orang yang tersisih dan tertindas telah menikmati kasih karunia yang mengalir dari hati Tuhan?

Problema semakin rumit karena agama kini jadi wahana politik. Agama dipakai untuk merebut kekuasaan, untuk menimbulkan ketakutan, juga untuk membuat para pemuka agama bisa meraih berbagai fasilitas. Tidak ada doa bagi musuh. Karena kebencian disemai, permusuhan ditingkatkan menjadi kekerasan, darah menjadi sah untuk ditumpahkan.

Pelan, tapi terus berlanjut, agama telah jadi akses bagi sebagian orang meraup kekuasaan dan kekayaan. Tak peduli ada yang dikorbankan. Padahal, dengan pikiran yang jernih, dan hati yang bening, kita bisa menghitung berapa “berkat” yang patut disyukuri.  Berapa yang layak digunakan untuk membawa keluarga, terutama anak-anak, menuju masa depan yang sarat belas kasih.

Perayaan Paskah selalu menyisakan air mata. Teguran Yesus pada perempuan-perempuan Yerusalem kembali mengiang, “Janganlah kamu meratapi Aku, tapi ratapilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!” Paskah terus mewariskan amanat: berubahlah, bergegaslah, dirikan rumah. Kehidupan penuh susu dan madu! n

BAGIKAN


REKOMENDASI