Esensi | Lampung Post
2017 17 April
835
Kategori Nuansa
Editor Sri Agustina
Mustaan Basran. (Lampost.co)

Esensi

KACUNG tertawa-tawa saat membaca media sosial di gadgetnya tentang status seorang aktivis kampung. Begini isinya: 'Oh Tuhan kucinta dia, kusayang Nia, kurindu Ria, inginkan Tia....'
"Oh... ini artinya dia banyak sekali pilihan untuk dijadikan istri." Begitu gumam Kacung sembari terus tertawa.
Tiba-tiba sahabatnya, Inem, muncul dan melihat polah aneh Kacung. Tiba-tiba, "Hoi... Bang. Ono opo to, sore-sore sudah mingkel gitu. Ndak bagus kalau diliat orang," tegur Inem kepada sahabatnya itu. "Oalah... pasti gara-gara medsos ya, emang banyak lelucon dibuat orang."
"Eh.... Inem. Ini lo, dari sekian banyak status, yang paling menarik dari aktivis ini," kata Kacung. "Ternyata esensinya aktivis itu emang aktif di segala bidang, termasuk percintaan."
Langsung saja Inem menjawab. "Welah Bang, esensi... esensi, la esensi ki opo to?????" Inem pun mendekat. "Awas kowe dadi sensi (sensistif...)."
"Mak kheno juga Nem. Sangking aktifnya, dia pun banyak yang diinginkan, termasuk keinginannya untuk cinta, sayang, dan rindu." Kacung pun menambahkan, "Padahal kan kata ulun tuha tumbai, dang lamon kehaga. kanah sakha. Itulah esensi Nem, inti itu kan artinya pokok, yang paling kecil dari segala hal atau atom."
Inem pun langsung nyerocos "Wes... wes bang... mumet aku, jelaskan saja apa itu esensi."
Maka dibahaslah esensi itu. Menurut Kacung, esensi itu adalah makna di balik peristiwa menurut pengamatan orang lain. Namun, Inem menjawab, "Ya tidak bisa Bang, esensi itu pokok masalah atau makna menurut aturan atau norma yang ada."
Inem pun menolak pendapat Kacung. "Kalau esensi atau makna itu menurut orang per orang, maka rusaklah dunia ini," kata Inem.
Namun, Kacung bertahan. "Ingatlah Nem, setiap peristiwa itu pasti ada maknanya. Dan makna itu tentu yang dapat menjawabnya adalah orang yang berkompeten." Dia pun memberi contoh, "Ini Nem contohnya. Ada orang mencaci, pokok masalahnya kan ada yang tidak disenanginya."
"Wah... ya enggak iso to bang. Tidak sekecil itu, bisa jadi karena orang itu dicaci lebih dulu," jawab Inem. "Tapi esensi yang jelas bukan dipandang dari sebelah pihak, namun menurut aturan yang ada."
"Tidak bisa Nem, pokoknya esensi itu adalah dari seorang yang berwenang seperti polisi atau pamong," kata Kacung. "Yang boleh menilai hanya mereka."
"Istigfar Bang... kalau ketemu pamong yang berpihak bagaimana. Yang paling aman ya esensi menurut aturan. Bukan pokoknya... pokoknya menurut orang, siapa pun dia," kata Inem. "Astagfirullah..."

 

BAGIKAN


REKOMENDASI