Mengasi Rezeki dari Gunungan Sampah di TPA Bakung | Lampung Post
2017 14 April
1181
Kategori Feature
Penulis Febi Herumanika
Editor Sri Agustina
Gunungan sampah di TPA Bakung menjadi harapan puluhan pemulung mengais rezeki. Potret kemiskinan kota terlihat di sini. (Ilustrasi/Antara)

Mengasi Rezeki dari Gunungan Sampah di TPA Bakung


BANDAR LAMPUNG--Tempat Pembuangan Akhir(TPA) sampah Bakung, Kecamatan Telukbetung Barat, merupakan 'surga' mengais rezeki buat  anak-anak putus sekolah. Setiap hari, puluhan anak di bawah umur mengumpulkan barang bekas yang masih laku untuk dijual.

Tidak ada sedikit perasaan jijik tergambar dari raut wajah mereka, mengais tumpukan sampah yang mengunung buat mencari sampah yang masih bernulai, seperti plastik maupun besi di TPA Bakung.

Pengumpul sampah pelastik, Iwan (40) di temui dilokasi TPA, mengungkapkan  sudah tak asing lagi dengan aktivitas para pemulung anak di sekitar lokasi pembuangan akhir sampah yang telah bertahun-tahun beroperasi  itu. Keberadaan mereka justru setiap hari terlihat membantu kedua orangtuanya mencari nafkah.

Ratusan pemulung dan belasan pengumpul barang bekas setiap hari memang mengandalkan penghasilan dari TPA yang berada di pinggiran ibu kota Provinsi Lampung.
"Ratusan orang termasuk saya setiap hari harus bergumul dengan sampah, menahan bau dan berkotor badan, untuk dapat mengais dan memilih-milih sampah berupa barang bekas yang masih dapat diambil buat dijual kembali kepengepul," ujar Iwan.

Iwan bahkan meyebut para pemulung itu, bukan hanya orang dewasa, terdapat pula belasan anak-anak yang diketahui sebagian di antaranya tidak bersekolah lagi, karena setiap hari musti mencari uang dari sampah yang berserakan dan ditumpuk di TPA sampah satu-satunya di kota ini.
"Mereka berebutan mendatangi truk pengangkut sampah yang baru saja membuang sampah dari rumah-rumah warga kota dari seluruh kecamatan," ucap Iwan.

Rumah yang terbuat dari kardus sengaja dibuat tempat keseharian anak-anak yang rata-rata masih di bawah umur itu untuk sekadar beristirahat serta menampung hasil jerih payah mencari sampah. 
"Mereka rata-rata orang sini yang sengaja dibawa orang tuanya mencari nafkah, kondisinya sudah seperti ini mau diapakan lagi mereka juga sudah terbiasa dengan hidup begini, kalau mau dilihat dari jiwa sosial kita ya miris tapi apa mau dikata, kita orang yang sama seperti mereka, disinilah kalau mau melihat letak kemisikinan kota dan disinilah kalau pemerintah mau memberi bantuan," katanya.

Beberapa pemulung di sini mengaku sudah menggeluti sampah untuk mendapatkan penghasilan di TPA Bakung ini selama 20 tahun. Mereka terbiasa bergelut dengan kotoran dan bau, untuk mendapatkan uang bagi nafkah keluarga masing-masing.

Dari puluhan pemulung itu diantaranya perempuan yang sudah berusia lanjut Mereka mengaku sengaja menjadi pemulung, untuk membantu menambah penghasilan keluarga masing-masing, mengingat para suami mereka umumnya berpenghasilan minim dan pas-pasan.

"Mau bagai mana lagi, dari pada mencari rezki yang tidak halal lebih baik begini, disini nyaman meski sebagian orang memandang rendah. Tapi buat kami yang terpenting halal," kata permpuan yang takut namanya dikorankan ini.
Perempuan mengenakan pakaian hitam dengan topi dikepala ini mengaku, jika penghasilan yang mereka dapat berpariasi, bergantung paada barang bekas buangan yang bisa dijual. "Kisaranya bermacam-macam ada yang dapat Rp20 ribu hingga Rp50 ribu setiap harinya," katanya. 

BAGIKAN