Nafsu Politik | Lampung Post
2017 2 April
3922
Kategori Refleksi
Ilustrasi. ppm-alhidayah.sch.id

Nafsu Politik

NEGERI ini, Indonesia, berhasil bertransformasi sistem pemerintahan yang demokrasi tanpa perang saudara. Lihat negara-negara di belahan dunia, peralihan pemerintahan berlangsung dengan meneteskan darah anak bangsa yang tidak berdosa. Itu pun waktunya berlangsung sangat lama menghabiskan energi dan materi. Barulah sistem demokrasi bisa berdiri.

Bangsa ini patut bersyukur. Konflik yang terjadi menambah keberagaman yang dirajut oleh Pancasila. Dalam dasar negara, yang dimulai dari sila pertamanya, berketuhanan yang mahaesa. Bukan ketuhanan yang maha esa dari satu agama saja. Namun, lebih dari satu agama yang percaya pada Tuhan yang Mahaesa. Itulah kehebatan kebinekaan negeri ini.

Faktanya, anak bangsa tidak pandai merawat keberagaman itu. Cerita sedih menimpa warga Jakarta. Hanya karena cara pandang politik yang berbeda,  jenazah Hindun binti Raisan (77) di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Dan Siti Rohbaniah (80), warga Pondok Pinang, Jakarta Selatan, disalatkan dengan cara yang tidak elok sebagai bangsa yang beragama dan beradab.

Ada jemaah masjid menolak menyalatkan. Akhirnya jenazah dibawa lagi ke rumah duka. Ada juga mayat baru bisa disalatkan setelah keluarga meneken  surat pernyataan mendukung salah satu calon gubernur yang disodorkan ketua RT. Sebegitunya politik di negeri ini mengatur agama. Padahal negara yang sudah merdeka 72 tahun, yang menjamin kehidupan beragama untuk rakyatnya.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta masyarakat tidak membedakan jenazah yang ingin disalatkan.  Kalau tidak ada orang menyalatkan di sebuah kampung, semua orang di kampung itu berdosa.

Bahkan Nabi Muhammad saw mengajarkan berdiri, ketika ada rombongan mengantar jenazah berlalu di depannya.  Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah, "Bukankah ini jenazah seorang Yahudi?" Nabi menjawab, "Jika kamu menyaksikan jenazah maka berdirilah. Hormatilah".

Indah. Dan sangat indah politik inklusif permaafan nabi kepada umatnya. Berbagai literatur mengisahkan ketika menengakkan agama Allah, Nabi diteror penduduk Mekah. Apa yang terjadi, ketika Mekah sudah ditaklukan? Nabi saw berada di atas angin—berkesempatan membalas dendam. Namun, seorang Muhammad malah memaafkan dan membebaskan musuhnya agar  berbuat kebajikan.

Lalu apa kata Rasulullah?  "Maafkanlah orang yang menganiaya dirimu. Hubungilah orang yang memutuskan engkau, balaslah dengan kebaikan orang yang berbuat buruk kepadamu. Dan berkatalah yang benar sekalipun terhadap dirimu sendiri." Adakah teladan anak bangsa yang dicontohkan Rasulullah? Yang ada malah balas dendam, caci maki, mengubar fitnah.  

***

Pernah Nabi dicaci maki seorang Yahudi dengan menyebut, assammu 'alaikum (kecelakaan bagimu). Nabi pun menjawabnya,  waalaikum.  Sang istri Nabi,  Siti Aisyah lalu memprotes seraya balik menyahut dengan cacian yang tajam; assammu’alakum wa la'natuh (bagi kamu kecelakaan dan laknat).  Nabi pun menegur, "Jangan berlebihan, istriku".

"Saya marah karena engkau telah dihina Ya Rasul," sahut Siti Aisyah.  "Tapi aku kan telah menjawab setimpal dengan wa’alaikum (bagimu juga)," ujar Nabi.  Itu mengapa tugas seorang Rasul diutus hanya menyempurnakan akhlak manusia dalam kegelapan. Seperti halnya isi Piagam Madinah, sebuah kontrak sosial inklusif yang melambangkan bagaimana penghormatan Nabi kepada pluralisme dan multikulturalisme.

Sangat elegan. Tidak ada paksaan. Tidak ada perbedaan. Hanya keyakinan satu sama lain untuk saling menghormati. Oleh karena itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa mengatakan kegelisahan karena format berbangsa dan bernegara saat ini sudah melenceng jauh dari cita-cita awal pendirian negara Indonesia.

"Bagaimana kemudian perbedaan yang ada di tengah-tengah masyarakat dapat dilihat sebagai rahmat, bukan membuat perpecahan dan friksi," ujar Khofifah, dalam sebuah diskusi Refleksi Kebangsaan di Jakarta, pekan lalu.

Di era Indonesia sekarang ini tidak penting mempertentangkan kembali  antara keindonesiaan dan keislaman; negara dan agama.

Dalam acara diskusi itu juga, Gus Solah panggilan Salahuddin Wahid berucap bagaimana menjaga dan merawat keindonesiaan? Caranya adalah menjaga perpaduan keindonesiaan dan keislaman yang sudah dirajut anak bangsa selama ini.

“Jangan lagi memperdebatkan apakah kita ini orang Indonesia beragama Islam atau muslim yang tinggal di Indonesia. Kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam, sekaligus orang Islam yang berbangsa Indonesia," kata cucu pendiri ormas NU.

Ungkapan Gus Solah itu menunjukan bahwa masih terjadinya sekelompok anak bangsa di negeri ini mengobarkan antikeberagaman. Kian hari kian menjadi-jadi. Sikap mencemaskan anak bangsa. Karena sudah tidak lagi mengenal ruang dan waktu. Pelaku dan korbannya tak mengenal lagi usia dan jenis kelamin. Bangsa yang besar ini diuji nyalinya untuk menegakkan kebenaran dan berkeadilan.

Ketika anak-anak bangsa sudah terjangkit virus antikemajemukan dan menebarnya racun kebencian. Di situ pula, harus waspada bahwa negeri ini  dalam peringatan dini. Masa depan bangsa tengah dipertaruhkan. Sekali lagi, kita tidak ingin Indonesia seperti Uni Soviet. Demokrasi Indonesia saat ini jauh lebih baik dibandingkan di era Orde Baru apalagi Orde Lama.

Patut disadari demokrasi yang dibangun pascareformasi harus dibarengi dengan penegakkan hukum yang kuat dan elegan. Penyebaran kebencian , umpatan, dan fitnah tidak boleh dibiarkan berlama. Praktik itu akan menjurus perpecahan, memporakporandakan sendi-sendi demokrasi yang sudah dibangun susah payah.

Kita saling mengingatkan, instrumen politik untuk meraih kekuasaan menjadikan isu suku, agama, dan ras harus diberi jarak jauh. Janganlah dicampuradukan hanya untuk kepentingan hawa nafsu sesaat.  ***

BAGIKAN


REKOMENDASI