Tabungan Beras dari Ngasak Padi | Lampung Post
2017 9 April
3809
Kategori Feature
Penulis Agus Susanto
Darmi dan keluarganya mengumpulkan padi dengan "ngasak" untuk bertahan hidup, Minggu (9/4/2017). (Foto : Lampost/Agus Susanto)

Tabungan Beras dari Ngasak Padi

Lampost.co--Tangan Darmi (70) menyekap kedua kaki yang ditekuk sambil bersandar di geribik rumah, menunggu masakan di atas tungku kayu bakar, matang. Darmi yang tinggal bersama suami, anak, menantu, dan cucu, hidup sangat sederhana. Ketika Lampost.co menyambangi rumah di Kecamatan Wayjepara, Lampung Timur, Darmi menjelaskan anak dan suaminya pergi ke sawah.

"Lagi pada ke sawah, ngasak padi, mumpung musim panen," ujar Darmi sambil menambah kayu bakarnya, Minggu (9/4/2017). Darmi menjelaskan anak-anaknya ke sawah sejak pukul 06.00, mencari sisa sisa padi yang tercecer setelah dipanen pemiliknya alias "ngasak". 

Jika tidak musim panen, ujar dia, anak-anaknya bekerja serabutan, ada yang kuli bangunan, ada pula yang berjualan makanan di sekolah.

Di depan rumah seluas 6x5 meter berlantai tanah itu, ada dua karung padi yang siap jemur. Padi 80 kilogram itu bukan dari hasil panen sendiri melainkan dari "ngasak" di sawah sawah yang baru dipanen.

Menurut dia, saat ini pemilik sawah memanen dengan menyewa mesin penggerek, tidak lagi sepertti dulu dengan membayar buruh. " Padi yang tercecer di sekitar mesin kami kumpulkan, biasanya setengah hari bisa dapat 10 hingga 20 kilo," ujarnya.

Padi hasil ngasak, tidak dijual melainkan dijemur dan disimpan untuk konsumsi pribadi. Selama 3 pekan panen, di geribik Darmi telah tersimpan 7 karung padi kering. Itu jadi tabungan beras bagi keluarganya untuk beberapa bulan ke depan.

 

BAGIKAN