Ulun Lappung Memahami Manusia | Lampung Post
Ilustrasi memahami manusia. www.investmedan.com

Ulun Lappung Memahami Manusia

MANUSIA hidup harus memahami arti dan makna hidup dan kehidupan yang tidak bisa ditunda-tunda, tetapi justru harus dicapai selama masih hidup, untuk mendidik anak, menyekolahkan, membimbing, menikahkannya, dan menyaksikan cucu, yang merupakan bagian dari menunaikan tugas sebagai orang tua. Di antaranya, lahir, remaja, dewasa, dan meninggal atau mati, itu jelas merupakan tugas dan kewajiban dalam hidup serta kehidupan manusia.

Pandangan orang Lampung tentang manusia, terlihat jelas pada adanya pengaruh pemikiran para filsuf dan ulama yang sama-sama sepakat mengakui, di balik jasmani manusia masih terdapat unsur rohani yang sulit untuk diterangkan. Untuk mendekati pengertian hakikat manusia menurut Islam, dalam pandangan pakar ilmu pendidikan Islam: “Manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki bentuk yang paling indah dan sempurna dari antara makhluk Tuhan yang lain, adalah terbentuk dari dua unsur jasmaniah dan rohaniah, yang dinamis dan mempunyai kemampuan pembawaan untuk berkembang dan bertumbuh, tidak mudah untuk diselidiki oleh ilmu pengetahuan”. Arifin (1977: 52).

Pemikiran selain itu, menurut seorang filsuf Islam terkemuka Al-Ghazali, yang menulis tentang Keajaiban-Keajaiban Hati menyatakan hakikat manusia adalah hati (qalb) dalam arti halus dan lembut, tidak kasat mata, tidak dapat diraba, yang bersifat ketuhanan dan rohaniah (Rabbani ruhani) yang dapat menangkap segala pengertian, pengetahuan dan arif, yang menjadi sasaran dari segala perintah dan larangan Tuhan, serta yang akan disiksa, dicela, dan dituntut segala amal perbuatannya, tetapi tetap memiliki hubungan dengan hati (qalb) yang bersifat materi atau jasmani”. (Al-Baqir, 2000 : 25).

 

Jasmani dan Rohani

Hakikat manusia justru terletak pada aspek jasmaniah dan aspek rohaniah, yang keduanya saling memengaruhi, dan aspek rohaniah berkembang bersama-sama dengan aspek jasmaniah. Untuk itu, perlu tercipta keseimbangan hidup yang serasi.

Makin banyak pengertian-pengertian, latihan-latihan, serta ilmu syariah dan hakikat yang diperoleh, makin sempurnalah perkembangannya. Mengenai penciptaan manusia dapat merujuk dari Alquran dalam Surah At-Tin, Ayat 4, "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik- baiknya”.

Persepktif filsafat, ternyata pemahaman masyarakat tentang hakikat manusia itu sudah benar. Sebab, kedudukan manusia di muka bumi sebagai khalifah di samping sebagai hamba Allah adalah suatu keterpaduan yang tidak terpisahkan. Kekhalifahan adalah realisasi dari pengabdian manusia terhadap Allah sebagai penciptanya. Hal ini memperlihatkan, manusia berdasarkan fitrahnya adalah makhluk sosial yang cenderung bersifat membantu orang lain.

Menilik fitrahnya ini, manusia memiliki potensi atau kemampuan untuk bersosialisasi, berinteraksi sosial secara positif, dan konstruktif dengan orang lain, atau lingkungannya. Sebagai khalifah manusia mengemban amanah atau tanggung jawab (responsibility) untuk berinisiatif dan berpartisipasi aktif dalam menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang nyaman dan sejahtera; serta berupaya mencegah terjadinya pelecehan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan perusakan lingkungan hidup.

Dalam Surah Al-Baqarah Ayat 30, Allah berfirman, "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (Depag RI, 1998: 11). Seorang ulama terkemuka, Ibnu Katsir (1999, jilid 1: 104) mengemukakan makna khalifah di muka bumi yakni suatu kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi.

Selanjutnya, dalam Alquran Surah Al-Fatir, yang terjemahnya: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”.

Dalam tradisi Islam, warga masyarakat belajar ilmu agama (mengaji di masjid atau surau, sekolah, madrasah, pesantren, taman pendidikan Alquran, dan majelis taklim) dengan tujuan menjadi manusia beriman, takwa, berkemampuan beramal saleh, dan berakhlak mulia.

Dengan tradisi dan kesaksian manusia terhadap Allah sebagai Tuhannya ini, jelas berarti setiap manusia yang lahir dengan jiwa yang diberi oleh Allah, telah muslim. Setelah lahir pun Allah memperingatkan kembali dengan firman-Nya dalam Alquran Surah Ar-Rum Ayat 30: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakanan manusia tidak mengetahui” (Depag RI, 1998: 805). 

Dengan fitrahnya ini, manusia mempunyai kemampuan untuk menerima nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari agama Islam dan sekaligus menjadikan kebenaran itu sebagai ukuran perilakunya. n

BAGIKAN


REKOMENDASI