Kebangkitan Sepak Bola Lampung | Lampung Post
Sepak bola. waktuku.com

Kebangkitan Sepak Bola Lampung

KOMPETISI sepak bola resmi di bawah naungan PSSI mulai bergulir. 15 April 20017, di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi secara resmi membuka Liga 1 Indonesia.
“Kita akan saksikan Liga 1 Indonesia. Kita semua akan jadi saksi sejarah kemajuan sepak bola Indonesia,” kata Menpora.
Setelah kompetisi Liga 1 Indonesia resmi berputar, kompetisi Liga 2 Indonesia pun segera bergulir. Pada kompetisi lapis kedua tersebut, dari 60 klub peserta salah satunya berasal dari Provinsi Lampung, yaitu PS Lampung Sakti. Keikutsertaan klub Lampung Sakti pada Liga 2 Indonesia bukan hanya menorehkan kembali sejarah sepak bola di Sang Bumi Ruwa Jurai, melainkan kembangkitan kembali sepak bola Lampung di kancah sepak bola nasional.
Jika kita melihat surut ke belakang ke era kompetisi Galatama (Liga Sepak bola Utama) dan era kompetisi Divisi Utama Perserikatan, kiprah tim sepak bola Lampung sudah lama tertinggal. Kelahiran era sepak bola di Lampung bisa ditelusuri sejak era perserikatan saat adanya Persil (Persatuan Sepak bola Lampung). Pada era ‘70-an, Komda (Komisariat Daerah) PSSI Lampung memiliki lima perserikatan: Persil, Persilu (Lampung Utara), Persilat (Lampung Tengah), Persilas (Lampung Selatan), dan Perspan (Panjang).
Dulu pada era tersebut, saat duduk di bangku SMP saya pernah merasakan bermain sepak bola di lapangan Enggal dan lapangan Garuda Hitam. Menduduki bangku SMA, saya pernah merasakan bermain sepak bola di Stadion Pahoman yang pada masa itu merupakan satu-satunya stadion termegah di Provinsi Lampung. Saya kemudian menjadi penikmat atau penonton sepak bola dari beberapa klub atau bond sepak bola yang ada di Lampung, seperti PSTT, PS Jaka Utama, PSBL, dan PS Lampung Putra.
Bagi saya, PSTT (Persatuan Sepak Bola Tanjungkarang–Telukbetung), PS Jaka Utama, PSBL (Persatuan Sepak Bola Bandar Lampung), dan PS Lampung Putra adalah klub legenda sepak bola di Provinsi Lampung pada eranya masing-masing. PSTT lahir dan menjadi salah satu kekuatan sepak bola di Sumatera saat mengikuti turnamen Piala Bukit Barisan yang diikuti perserikatan yang ada di Sumatera, dari Aceh sampai Lampung.
Kemudian masuk pada era Galatama, Lampung hadir dengan klub sepak bola PS Jaka Utama. Jaka Utama menjadi salah satu klub era sepak bola semiprofesional. Kebangkitan sepak bola Lampung pada era Galatama tidak terlepas dari tokoh sepak bola Lampung saat itu, Marzuli Warganegara, pengusaha yang juga menjadi pemilik klub.
Prestasi para pemain Jaka Utama sempat menorehkan prestasi monumental saat mereka menjadi tulang pungung tim sepak bola PON Lampung pada PON X 1981 di Jakarta. Tim sepak bola PON Lampung yang ditangani pelatih Jakob Sihasale mampu mempersembahkan emas—prestasi tertinggi sepak bola Lampung sampai saat ini—setelah pada babak final mengalahkan tim sepak bola Sumatera Utara yang saat itu diperkuat pemain klub Mercu Buana melalui adu tendangan penalti dengan skor 4-2.
Pasca-PON X, prestasi Jaka Utama mulai menurun setelah dirundung kasus suap yang melanda pemainnya. Jaka Utama pun hengkang dari Lampung setelah diambil alih pengusaha dari luar Lampung dan berganti nama menjadi PS Yanita Utama, kemudian menjelma menjadi PS Krama Yudha dengan homebase di Palembang.
Setelah PS Jaka Utama tiada, lalu muncul PS Lampung Putra yang juga berlaga di kompetisi Galatama. PS Lampung Putra hadir dengan melibatkan tokoh pers Lampung yang juga pendiri Lampung Post, Solfian Akhmad. PS Lampung Putra pun meredup dan bubar.
Pada waktu yang bersamaan lahir PSBT yang merupakan pergantian nama dari PSTT, seiring dengan berubahnya nama administratif Kota Tanjungkarang menjadi Kota Bandar Lampung. PSBL sempat merasakan kompetisi level tertinggi era perserikatan dengan berlaga di Divisi Utama. Nama pelatih PSBL asal Inggris, Paul Cumming, sangat melekat diingatan pendukung dan pencinta PSBL.

Lampung Bangkit

Era itu telah berlalu. PS Lampung Sakti memang lahir dan besar bukan di Bandar Lampung. Klub ini cikal-bakalnya adalah Persires Rengat yang berlokasi di Provinsi Riau, kemudian sebelum berganti nama menjadi PS Lampung Sakti telah melalang buana, berganti kepemilikan dan nama menjadi Persires Bali Devata FC, Persires Cirebon FC, Persires Kuningan FC, Persires Banjarnegara, dan Persires Sukoharjo.
Dari mana pun asal kelahiran klub tersebut? Setelah PT Great Giant Pineapple mengakuisisi klub Persires, kini klub tersebut bernama PS Lampung Sakti yang menjadi milik dan kebanggaan masyarakat Lampung. Kehadiran klub PS Lampung Sakti tidak jauh berbeda dengan Sriwijaya FC, salah satu klub besar di Indonesia peserta Liga 1 Indonesia.
Sriwijaya FC yang berjuluk Laskar Wong Kito kini menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan, sebelumnya bernama Persijatim atau Persija Jakarta Timur yang sempat pindah kandang ke Solo dan menjadi Persijatim Solo FC. Kemudian Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mengakuisisi kepemilikan Persijatim yang kini berganti nama menjadi Sriwijaya FC.
PS Lampung Sakti harus jadi momentum kebangkitan sepak bola di Provinsi Lampung. Harapan yang digantung pada klub berjuluk Gajah Sakti itu tentu klub bisa lolos naik peringkat, masuk ke Liga 1 Indonesia. Jalan untuk meraih prestasi tersebut masih panjang, seiring dengan sepak bola yang telah menjelma menjadi sebuah industri, manajemen PS Lampung Sakti harus berbenah dengan memberikan sentuhan profesional pengelolaan klub.
Bubar dan hengkangnya PS Jaka Utama serta bubarnya PS Lampung Putra harus menjadi pelajaran. Komitmen PT Great Giant Pineapple membesarkan PS Lampung Sakti harus mendapat dukungan dari seluruh pemangku kepentingan sepak bola di Lampung. Dukungan pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten dan kota juga sangat dibutuhkan untuk terus mendorong bangkitnya kembali sepak bola di Tanah Lada menuju kompetisi nasional.

BAGIKAN


REKOMENDASI