Nilai Estetis Budaya Lampung | Lampung Post
Ilustrasi budaya ulun Lappung. 4.bp.blogspot.com

Nilai Estetis Budaya Lampung

BERDASAR analisis kultural, kehidupan sehari-hari membentangkan diri manusia dalam susunan yang berarti. Oleh sebab itu, sebagai contoh, inti budaya arsitektur tradisional perlu dikaji dan dikenali melalui budaya nonfisik sebagai cerminan budaya fisik sehingga dapat dipasarkan ke dunia luar.
Banyak nilai-nilai estetis yang berkembang dalam masyarakat berupa gambaran motif kapal pada kain adat, arsitektur rumah adat (mahan adat: jung syarat, jung meulabuh dan jung kedah, serta nuwow balak dan nuwa tuha), serta peninggalan benda-benda kuno (keris, tumbak, pepadun, dan perlengkapan rumah) yang bernilai tinggi lainnya. Berarti, setiap orang ingin dan perlu mengerti serta dapat membenarkan perbuatan-perbuatannya serta tatanan masyarakat, tempat perbuatan itu berlangsung.
Mereka mendapati pengertian dan pembenaran itu dalam dunia pengetahuan yang dimiliki bersama, yaitu budaya lokal yang dipahami sebagai sistem persepsi, falsifikasi, dan penafsiran diri dari apa yang mereka miliki. Sistem itu ada dalam kepalanya sebagai suatu model mental, yaitu suatu model pengenalan yang berfungsi untuk memberi makna bagi kehidupan masyarakat dan generasi muda di masa depan.
Dalam kerangka mengkaji budaya diperlukan peningkatan jaringan informasi untuk pengembangan budaya lokal, kerja sama antarpemuka adat untuk pemberdayaan masyarakat adat dapat diawali dari memahami arti dan makna piil pesenggiri, penyimbang, dan muakhi. Kapasitas utama yang dibutuhkan untuk membangun jaringan informasi budaya lokal dibutuhkan perencanaan teknoratis dan proses politik.
Untuk itu, kapasitas utama yang dibutuhkan untuk pengembangan dan manajemen jaringan, yang terdiri dari pengembangan jejaring (network) ke arah network management dan pengembangan kemitraan (patnership) ke arah partnership management. Pertanyaannya, apakah Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) dan akademisi telah berperan dalam membentuk lembaga kajian, mengkaji berbagai persoalan budaya lokal dan pembangunan daerah. Dukungan banyak pihak makin dibutuhkan sebagai bukti adanya rasa memiliki dan peduli.

Jaringan Informasi
Pembentukan jaringan informasi pengembangan budaya Lampung didasarkan atas adanya: (1) kepentingan berupa interests supply driven network dan interests demand driven network; (2) dipicu oleh informasi berupa information supply driven network dan information demand driven network.
Selanjutnya, dalam pengelolaan jaringan melalui network structuring dapat dilakukan dengan cara: (a) mendorong lembaga mitra untuk berkepentingan membangun jaringan. (b) mendorong kesetaraan visi dan komitmen lembaga. (c) mendorong lembaga mitra mengalokasikan energi (anggaran; unit organisasi) untuk komunikasi dan kerja sama. (d) mendorong lembaga mitra menyepakati agenda komunikasi, manajemen konflik, dan kerja sama. (e) menyediakan informasi profil lembaga berupa: website, leaflet yang mengundang mitra dari berbagai kalangan pengusaha, akademisi, dan peneliti.
Pengelolaan jaringan informasi pengembangan budaya lokal, penerapan teknologi, dan pemberdayaan masyarakat adat dapat dilakukan melalui game management sehingga dapat dikembangkan jaringan antarindividu dan lintas organisasi dalam rangka pengembangan jaringan kelembagaan. Selain itu, memanfaatkan jaringan sosiokultural yang sudah ada untuk komunikasi antaraktor lintas organisasi, badan-badan atau lembaga-lembaga melalui aktivitas organisasi sosial, hobi, dan kegiatan alumni.
Kemudian, secara spesifik dapat juga dilakukan dengan cara mendorong munculnya kepemimpinan pada organisasi mitra yang kondusif bagi pengembangan jaringan, mengembangkan aktivitas bersama dalam bentuk pendidikan dan pelatihan, sarasehan, dan dialog budaya. Lebih luas, dapat juga manajemen jaringan diaplikasikan untuk (a) pengembangan kerja sama antarkomunitas adat di berbagai daerah, (b) pengembangan sinergi antara pemerintah, lembaga swasta, lembaga swadaya masyarakat, tokoh adat, akademisi, serta peneliti untuk perumusan kebijakan dan kegiatan jaringan, (c) penerapan manajemen konflik yang membangun harmoni dalam masyarakat.
Dalam kerangka itu, visi Lembaga Kajian, Pusat Informasi Pengembangan Budaya, Penerapan Teknologi, dan Pemberdayaan Masyarakat dapat diarahkan agar lebih responsif terhadap perkembangan sosial, ekonomi, budaya, penerapan iptek, serta berdaya saing di era global, yang selanjutnya dapat dirumuskan sebagai visi lembaga kajian.
Mengenai misi lembaga dapat dirumuskan menciptakan integralisme nilai-nilai kemanusian dan budaya lokal yang diperlukan untuk memfasilitasi aktualisasi nilai-nilai etika dan estetika, seni berbasis moral yang religius, norma sosial yang mengekspresikan filsafat hidup masyarakat untuk pemberdayaan lembaga-lembaga, badan-badan, forum-forum, majelis penyimbang adat, komite-komite yang dibentuk pada tingkat nasional sampai tingkat lokal sebagai wahana koordinasi struktural, serta fungsional di dalam perumusan kebijakan-kebijakan pembangunan untuk setiap bidang kehidupan masyarakat. Sungguh, Lampung Cultural Center (LCC) menjadi harapan banyak kalangan komunitas adat, akademisi, dan para penyimbang Lampung. Semoga filsafat budaya Lampung ini bermakna dan bermanfaat.n

BAGIKAN


REKOMENDASI