Raja Petrodolar Berlibur | Lampung Post
2017 26 February
3601
Kategori Refleksi
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud. www.hidayatullah.com

Raja Petrodolar Berlibur

MENYAMBUT kedatangan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud ke Indonesia pada 1—9 Maret mendatang, membuat gegap gempita seisi negeri ini. Tidak tanggung-tanggung, Sang Raja Petrodolar itu membawa 1.500 orang, termasuk 10 menteri dan 25 pangeran. Kunjungan kenegaraan itu menggunakan tujuh pesawat khusus termahal dan terlengkap.

Kendaraan dan tangga pesawat khusus–lift pun didatangkan langsung dari Arab Saudi untuk melayani raja penjaga dua kota suci umat Islam atau khodimul haramain. Kunjungan ke negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini merupakan simbol penting bagi pembangunan perdamaian. Indonesia bagi Saudi adalah partner untuk memerangi terorisme dan menyebarkan Islam yang toleran, damai, dan Islam rahmatan lil alamin.

Ketika naik takhta, Salman yang pernah menjabat menteri pertahanan–dalam pidato penobatan sebagai raja, menyinggung kekacauan di Timur Tengah, Irak, dan Suriah akibat aksi kelompok Islamic State. "Negara-negara Arab dan Islam sangat membutuhkan solidaritas dan kohesi," kata Salman saat itu. Kegigihan dia memerangi pemberontak ditunjukkan dengan mengangkat putranya, Pangeran Mohammed, menjadi menteri pertahanan.

Negara kaya minyak itu menjadi bagian terpenting dalam perdamaian di Teluk. Sebab itu, kunjungan Salman bagi Indonesia sangat bersejarah. Sebelumnya, Raja Saudi pernah mengunjungi Jakarta 46 tahun lalu, tepatnya 10—13 Juni 1970, ketika itu Kerajaan Arab dipimpin Raja Faisal. Sebelum berkunjung, sebagai buah tangan untuk Indonesia, Raja Salman menambah kuota haji sebanyak 10 ribu orang dan mengembalikan kuota dari 168.800 orang menjadi 211 ribu mulai tahun 2017.

Karena menjaga dua kota suci, Raja Salman berjanji memberikan santunan kepada keluarga korban kecelakaan robohnya crane di Masjidil Haram, Mekah, pada musim haji dua tahun lalu. Setiap korban meninggal atau cacat seumur hidup mendapatkan santunan 1 juta riyal atau Rp3,8 miliar, sedangkan korban luka diberikan biaya 500 ribu riyal atau Rp1,9 miliar.

Tapi, santunan untuk korban 111 jemaah haji yang meninggal dunia, termasuk 11 orang dari Indonesia, hingga kini belum ada realisasinya. Adalah Duskarno, keluarga korban crane dari warga Desa Cibogo, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, berharap janji raja itu benar-benar direalisasikan. "Sampai sekarang saya belum mendapat kabar soal kapan pencairan itu akan dilakukan," kata Duskarno.

Istri Duskarno, Iti Rastiwi Darmini, adalah korban yang meninggal saat musibah itu terjadi pada 11 September 2015. Jemaah haji lainnya, Zulfitri Zaini, yang kehilangan kaki kanan, menunggu kejelasan santunan yang telah dijanjikan Arab Saudi. Guru SMAN 1 Talang, Kabupaten Solok, mengadukan nasibnya kepada LBH Padang untuk membantu agar mendapat santunan. ***

Salman tiba di Jakarta, 1 Maret mendatang. Selama di Indonesia, Raja Saudi itu mengadakan pembicaran bilateral dengan Presiden Jokowi di Istana Bogor. Setelah itu, bertandang ke gedung DPR/MPR untuk menyampaikan pidato di depan anggota parlemen Indonesia. Raja Salman juga membahas perjanjian kerja sama terkait tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi, kuota haji, dan kerja sama investasi antara pengusaha kedua negara.

Usai menikmati Jakarta, raja ketujuh dalam dinasti Alsaud itu melanjutkan kunjungan ke Bali pada 4 Maret. Dalam lawatan di Pulau Dewata, Salam berlibur–melihat objek wisata terkenal dunia. Liburan Raja Salman makin memperkuat citra pariwisata Indonesia yang penuh keberagaman, kedamaian di pulau berpenduduk mayoritas beragama Hindu.

Menteri Pariwisata Arief Yahya berucap Raja Saudi ini menjadi endorser yang istimewa, seorang raja, pemimpin, dan panutan negara akan diikuti oleh rakyatnya. Liburan seorang raja pasti akan menjadi perhatian dunia, terutama negara Timur Tengah. Media dunia meliput liburan Salman. Ini memiliki nilai yang tinggi dan berdampak bagi pariwisata Indonesia.

Raja Salman juga pernah berlibur di Pantai Cote d'Azur, ujung tenggara Prancis, Agustus 2015. Dia tidak sendirian menikmati Laut Mediterania. Ditemani 1.000 delegasi, Salman memborong vila kerajaan di Vallauris Golfe-Juan, Cote d'Azur. Pengamanan untuk sang raja dan rombongan superketat. Kehadirannya memicu pro-kontra bagi pelancong lainnya.

Mereka tidak terima. Pantai yang sedianya dibuka untuk publik, justru ditutup demi kepentingan seorang raja yang berduit. Pelancong berhasil mengumpulkan 120 ribu tanda tangan menuntut dibukanya akses ruang untuk publik itu. Sebaliknya, sebagian warga juga membela kehadiran Raja Saudi. Alasannya, kunjungannya itu memberikan manfaat ekonomi. Selama Raja Salman di Prancis, sedikitnya 400 mobil sedan mewah disewa.

Ketika menunaikan ibadah haji, seorang guide–pemandu wisata religius di Tanah Suci, Abdul Kohar, pernah berucap penduduk Arab, baik di Mekah, Madinah, maupun kota lainnya—selama musim haji atau musim panas, mereka pasti berlibur dengan keluarga ke luar negeri. “Katanya sih, mereka takut dengan virus penyakit yang dibawa oleh jemaah ketika musim haji. Mereka pada kaya-kaya berliburan ke luar negeri,” tutur Kohar.

Hal itu memperkuat pernyataan Menteri Arief Yahya. Pelancong asal Arab dikenal paling royal membelanjakan uangnya saat berwisata. Mereka sangat suka belanja, menginap di hotel berbintang. Duit yang keluar dari koceknya paling sedikit 1.800 dolar AS, dan paling lama melancong. Ini menjadi bidikan Indonesia. Apalagi memiliki konsep wisata halal yang sangat cocok bagi warga negara yang berasal dari Timur Tengah.

Lawatan Raja Salman ke Indonesia akan menghiasi halaman utama media massa. Hubungan kedua negara banyak dipengaruhi kedekatan keagamaan, pendidikan, dan sosial ketimbang ekonomi. Saatnya perekonomian dan pariwisata akan melesat pascaliburan raja dan pengusaha Arab Saudi. Pastinya hasil lawatan, mereka butuh ahli agronomi pertanian anak bangsa negeri ini untuk menyulap lahan tandus menjadi subur di Tanah Arab. ***

BAGIKAN


REKOMENDASI