SETITIK AIR: PR di Hari Kartini | Lampung Post
2017 21 April
1081
Kategori Nuansa
Wandi Barboy, wartawan Lampung Post. Dok Lampost.co

SETITIK AIR: PR di Hari Kartini

PADA mulanya adalah ide. Kemudian berkembanglah harapan. Demikian itu barangkali pemikiran–pemikiran Kartini tentang kemerdekaan, persamaan hak atau emansipasi, persaudaraan, dan lainnya menjadi embrio bagi gerakan nasionalisme di Indonesia.
Dalam buku yang ditulis oleh tim Tempo seri perempuan-perempuan perkasa berjudul Gelap Terang Hidup Kartini. Ide itu tidak muncul secara tiba-tiba. Semua berawal dari lingkungan keluarga jua. Terlahir dari keluarga ningrat yaitu putri seorang Bupati Jepara RM AA Sosroningrat, sedari kecil Kartini menentang feodalisme, tradisi kolot yang tidak sesuai dengan zaman modern pada awal abad ke-20.
Kartini mendapat julukan kuda kore (kuda liar) karena sebagai anak Bupati bergelar Raden Ajeng, Kartini menolak berjalan seperti siput. Ia juga tak sungkan tertawa hingga giginya terlihat. Dari dua hal kecil itu saja sudah menandakan bahwa Kartini pada masa itu memiliki pemikiran yang revolusioner.
Meski hidupnya singkat, yaitu 25 tahun 4 bulan beberapa hari, pemikiran putri Jawa kelahiran 21 April 1879 itu tetap hidup. Melalui surat-menyurat dengan sahabatnya di Belanda, lahirlah buku Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Soal ia seorang revolusioner bisa dilihat dari surat kepada Stella Zeehandelaar, sahabatnya yang bekerja sebagai pegawai departemen kantor pos dan telegram di Amsterdam dan kontributor beberapa jurnal.
Saya mengutip dari bonus sampul buku Tempo. “Peduli apa aku dengan segala tata cara itu, segala peraturan, semua itu bikinan manusia dan menyiksa diriku saja.” Ia ingin sekali mendobrak feodalisme yang sakit.
Terkait persamaan hak perlakuan pria dan wanita, Kartini juga menuliskannya kepada Stella pada 23 Agustus 1900. “Aku akan mengajari anak-anakku baik laki-laki maupun perempuan, untuk saling menghormati sebagai sesama dan membesarkan mereka dengan perlakuan sama, sesuai dengan bakat mereka masing-masing.
Hal-ihwal pemikiran Kartini terhadap kaumnya memang telah terpenuhi. Namun, masih jauh dari sempurna jika dikatakan perempuan sekarang telah berbahagia dan bangga dengan kondisinya sekarang. Namun, di Indonesia masih sering diberitakan kekerasan seksual terhadap perempuan.
Selain itu, pemenuhan hak kesehatan reproduksi perempuan juga masih dinilai jauh panggang dari api. Padahal, negara wajib menjamin hak tersebut dengan adanya kebijakan dan tindakan yang menyediakan perawatan agar person yang bersangkutan terhindari dari penyakit yang mengganggu fungsi reproduksi dan banyak lagi hal lainnya. Inilah PR yang mesti dijawab semua pihak, tidak hanya perempuan. Kartini telah melakukan upayanya dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya. Bagaimana peranan perempuan masa kini? n

BAGIKAN


REKOMENDASI