Universalisme Islam di Tengah Keutuhan Bangsa | Lampung Post
Universialisme Islam. .bp.blogspot.com

Universalisme Islam di Tengah Keutuhan Bangsa

WILLIAM James dalam bukunya Relegion of Pysco Social and Human Interes (1978), menandaskan bahwa sepanjang sejarah manusia, kita bisa saja tidak menemukan pasar dan tempat hiburan, tetapi hampir dapat dipastikan kita akan temukan tempat ibadah.
Mengapa demikian James, mengintrodusasi, bahwa pada dasarnya setiap manusia tidak terlepas dari dua hal, yakni rasa cemas dan berharap. Dengan dua hal inilah sesorang kemudian secara teologis mendorong dirinya ke dalam nilai-nilai submission to God (berserah diri kepada Tuhan). Kita pahami bersama, bahwa tidak ada satu agama pun yang tidak menganjurkan ritual salat atau sembahyang. Kata terakhir ini di Indonesia menunjuk pada ritus Hindu, yakni Sang Hiyang Widhi Washe.
Agama, apakah itu agama samawi, seperti Yudaisme (Taurat), Nasrani (Injil), dan Islam (Alquran) sampai pada agama-agama yang supranaturalnya tercipta dalam konteks teologi pembebasan kemanusiaan yang dibawa Sidartha Ghautama, Konghucu, dan yang lainnya, niscaya mempunyai rujukan yang satu, suatu postulat khusus yang disebut kitab suci. Agama Hindu mempunyai kitab Wedha, Budha dengan Tripitaka, Zoroaster dengan Zen Afesta. Bahkan, aliran kepercayaan pun mempunyai kitab serat sentani atau darmo gandul.
Merujuk dari mikro analisis di atas, kitab-kitab tersebut memberi wawasan kepada pemeluknya agar dapat menjadikan agama sebagai variabel kontrol, ini bila kita berasumsi, bahwa agama sebagai premis moral, ini selalu ditransformasikan oleh para pemuka agama, semuanya merujuk pada ritualitas dan pertahanan moral. Meski kita kemudian bisa saja kecewa ternyata dengan pendekatan ini, justru ada keterpisahan nilai antara ritualitas dan pertahanan moral, mestinya satu sama lain menguatkan, tetapi faktanya berjalan sendiri-sendiri, akibatnya kemungkaran justru makin merambah di negeri ini.
Pertanyaannya kemudian, apakah agama tidak mampu menjawab hiruk pikuknya semangat ubu dunia, sehingga pemeluknya terpelanting dan terjerembab ke arah kebatilan yang mamnun (kejahatan moral yang berkelanjutan)? Memang tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Globalisasi yang membawa penetrasi berbagai kenikmatan melumpuhkan inherentes agama dalam konteks jaringan tauhid, dalam arti tauhid yang bermuara pada satu kesatuan kekuatan nilai supranatural lewat ritualitas pemahaman keghaiban (baca: tuma'ninah), dan mensublimasi hakikat ritual dalam atmosfir yang berijtihad tanpa reserve, ditelan oleh liberalisasi teknologi dan pesona dunia, belum lagi gangguan dari para kelompok orientaslis, dan berbagai penyimpangan harakah yang keluar dari semangat tauhid, sehingga tergeruslah kekuatan agama yang universal (dalam hal ini Islam). Agama universal tersebut tidak down to earth (membumi).

Universalisme Islam

Menurut Abu A’la Almaududi dalam esainya What’s Islam stand for, tegas ia mengatakan Islam is the total region which can not be comparementalized (Islam adalah agama yang menyeluruh dan tidak dapat dipilah-pilah). Inilah yang dimaksud dengan uthulu fisillmi kaffah, sebagaimana yang termaktub dalam Surah Al Baqarah. Dengan demikian, universalisme Islam bukan saja tidak membeda-bedakan personal dalam konteks kemaslahatan, tetapi lebih jauh lagi Islam melampaui seluruh kegiatan positif umatnya, termasuk umat di luar agama Islam yang ingin melakukan kemaslahatan.
Ibnu Rusdy pun mengingatkan kepada kita, bahwa kejayaan Islam pada abad pertengahan bukan karena sekadar mendorong nilai-nilai normatif yang tidak dapat diingkari, tetapi untuk menjawab tantangan Islam justru membangun normatif ritualnya dengan elan dan etos kerja yang tinggi, dus tidak berada di mihrab semata. Ini relevan dengan Ibnu Sina yang mengatakan bahwa sesungguhnya Islam itu value loaded (padat nilai), simultan pula value free (bebas nilai), dalam visi meaktualisasikan rasionalitas kekuatan umatnya untuk menjangkau inovasi baru. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dalam jangka kurang dari 23 tahun mampu mereduksi imperium Romawi dan Persia.
Beranjak dari sikap kita untuk mengasumsikan Islam sebagai teologi modern yang padat nilai dan bebas nilai, kiranya patut disayangkan, bila Islam melalui ulamanya dimainkan secara serampangan lewat politik kontemporer yang justru mereduksi nilai-nilai Islam itu sendiri, semisal turun ke jalan untuk sekadar ngeyel tidak menghormati hukum yang sedang berjalan.
Kalau pemahaman yang sumir semacam ini tetap bergulir, Islam akan bersinggungan dengan gugusan dan gagasan lama. Gagasan lama upaya mereduksi nasionalisme dengan semangat khilafah dan gugusan lama dengan atmosfer tergeret dan terjebaknya Islam pada nilai-nilai konservatif.
Dalam masyarakat global yang multiinteraktif dewasa ini, Islam sepatutnya makin memperkuat diri ke dalam isu-isu yang mengglobal, sambil mengidentifikasi aroma romantisme dan radikalisme diri dan agama lain di luarnya. Pada titik ini, secara sederhana, seyoginyalah peran cendekiawan muslim dan ulama sampai pada mubalik di seluruh pelosok, mulai melihat dan memaknai semangat ukhuwah islamiah, ikhuwah wathoniah, dan ukhuwah bariyah, sehingga Islam tampil dalam bentuk yang jauh dari bipolarisasi antarumat, terlebih lagi multipolar yang cenderung merangsang des integrasi bangsa. Inilah sesungguhnya  manifestasi dari nilai-nilai kafah (menyeluruh dalam satu kesatuan), baik dalam hakikat maupun makrifat, ketika para ulama mampu mengajak umatnya menuju pencerahan, keluar dari aneka kegelapan, sebagaimana yang di firmankan oleh Allah swt dalam Surah Ibrahim Ayat 1.
Dalam perspektif di atas, kesepakatan kita untuk membangun negara bangsa (nation state) sesungguhnya sudah final dan difinalkan oleh kekuatan Islam sebagai agama yang terus-menerus mengaktualisasikan inovasi di tengah-tengah arus globalisasi dan eksistensi agama-agama lain di luar Islam. Ini berarti tokoh-tokoh Islam mundur ke belakang bila mendorong umatnya untuk mencerabut akar hubungan Islam dengan semangat Ipoleksosbud yang notabene juga dibawa oleh agama-agama lain di tengah arus globalisasi dalam masyarakat Indonesia. Bila konteks nation state diformulasikan sebagai keinginan bersama untuk terus memajukan bangsa dan negara bersama agama, niscaya akan terwujudlah the return of Islam. n

BAGIKAN


REKOMENDASI