9 Saksi Dihadirkan dalam Sidang Mutilasi M.Pansor

Sidang lanjutan pembunuhan anggota DPRD M. Pansor di PN Tanjungkarang, Selasa (10/1/2017), dengan terdakwa Medi Andika menghadirkan 9 saksi. (Foto:Dok.Lampost)

BANDAR LAMPUNG--Sembilan saksi dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan terdakwa Berigadir Medi Andika di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Selasa (10/1/2017).

Sembilan saksi yakni Rima Rodita karyawan BRI kas Polresta Bandar , Fadilah dan Asri yang menemukan sim card Pansor, Rahmat Sopian petugas mata pensil Pelabuhan Merak, kemudian Sherly Anggraini dan Desna Atrida keduanya PNS DPRD Bandar Lampung. Serta 3 saksi lain adalah tetangga Medi, yakni Suharto, Lekok dan Herman ketiganya adalah warga Perumahan Permata Biru

Rima dalam kesaksianya mengaku Medi datang ke kantor kas BRI Polresta Bandar Lampung pada 25 Apri 2016 yang menanyakan soal pembukaan rekening di kantor kas tersebut. Siangnya, yang datang Tarmidi untuk membuka rekening. Namun dalam persidangan Medi membantah, bahwa ketika itu dia hanya menyakan gangguan sms banking.

Saksi lainya dalam persidangan yakni Fadilah yang menemukan sim card milik Pansor di pabrik peleburan baja di Tigaraksa, Tangerang, Banten. Fadilah mengatakan ketika itu ia sedang bekerja di pabrik dan menemukan sebuah ponsel dalam keadaan rusak di bawah tumpukan besi rongsokan. "Waktu itu saya buka ponselnya di dalamnya ada sim card," ujar Fadilah.

Sampai di rumah Fadila meminta adikntam, Asri untuk mengecek pulsa dari sim card tersebut dari hasil pengecekan pulsa masih berisi pulsa Rp120 ribu. Karena pulsanya masih banyak Fadilah menggunakan sim card itu untuk menelepon rekan-rekanya dan kerabatnya. Polisi melacak sinyal sim card yang diketahui milik Pansor itu setelah Fadilah menggunakannya.
Dua hari kemudian polisi datang ke rumahnya dan membawa ponselnya yang berisi sim card tersebut.

Saksi lainya dua staf DPRD Bandar Lampung, Sherly Anggraini dan Desna Atrida yang mengaku bertemu Pansor sehari sebelum Pansor dinyatakan hilang, tepatnya 14 April 2016.
Pansor menyuruh Sherly dan Desna mengantar uang perjalanan dinas ke rukonya.
Kedua perempuan ini datang ke ruko Pansor sekitar pukul 13.00 WIB. "Kami bertemu menyerahkan uang perjalanan dinas," ujar Desna.

Pada saat itu Pansor sempat mentraktir Sherly dan Desna makan mie ayam di Pasar Koga. Keesokan harinya, Jumat 15 April 2016, Sherly menghubungi Pansor. Sherly meminta tandatangan Pansor untuk pencairan uang perjalanan dinas. "Abang bilang nanti dikabari," kata Sherly dalam persidangan.

Seusai salat Jumat sekitar pukul 13.00 WIB, Sherly kembali menelepon Pansor. "Saya tanya abang lagi dimana. Jadi ketemuan ga," ucap Sherly.
Pansor ketika itu mengaku masih di rumah dan mengajak bertemu di depan Rumah Sakit Graha Husada. Sembari menunggu, Sherly dan Desna makan bakso di depan Rumah Sakit Graha Husada, sekitar setengah jam, Pansor baru tiba. Desna menghampiri Pansor yang berada di dalam mobil di depan Rumah Sakit Graha Husada sembari membawa berkas yang akan ditandatangani Pansor.

Menurut Desna, kala itu Pansor seorang diri di dalam mobil. Pansor mengaku akan pergi ke rumah saudara istrinya yang sedang ada acara pernikahan di Labuhan Dalam untuk mengantar amplop. Setelah Pansor menandatangani berkas, Sherly dan Desna balik lagi ke kantor.

Saat itu kedua Staf DPRD lupa menyakan KTP Pansor sebagai syarat pencairan dana perjalanan dinas. Sherly menghubungi Pansor kembali melalui telepon meminta KTP. Selama berbincang di telepon itu, Sherly mengatakan, Pansor seperti terburu-buru. Di dalam percakapan telepon itu, Pansor awalnya mengajak Sherly bertemu di depan rumah Wali Kota Bandar Lampung Herman HN di Jalan Cut Nyak Dien, Palapa.
"Karena jauh abang meminta bertemu di depan Cosmo Jalan Pangeran Emir M Noer. Tapi akhirnya dia (Pansor) bilang akan ke kantor (DPRD Bandar Lampung) karena mau mengantarkan amplop ke rumah saudara istrinya," jelas Sherly.

Sampai di kantor DPRD Bandar Lampung sekitar pukul 14.30 WIB, Sherly kembali menelepon Pansor sebanyak tiga kali namun tidak diangkat. Akhirnya Sherly memutuskan mengirimkan pesan singkat ke Pansor yang menanyakan kenapa Pansor tidak tiba ke kantor. "Pesan singkat saya itu terkirim tapi tidak dibalas sampai sekarang," katanya.