Air Mata, Perempuan, dan Lingkungan Hidup

Ilustrasi. shutterstock.com

AIR mata adalah bentuk ekspresi seseorang dalam sistem metabolisme tubuh. Proses keluarnya air mata dalam bahasa ilmiah disebut lakrimasi, air mata tersebut diproduksi oleh kelenjar air mata (lacrimal gland).
Kelenjar air mata mengeluarkannya dalam berbagai sebab bisa sedih, marah, bahkan air mata bisa keluar dalam kondisi bahagia. Publik digegerkan dengan tangisan Ahok dalam sidang perdana. Ada yang iba, ada yang skeptis, dan ada yang menganggap hal tersebut biasa saja. Air mata dalam tradisi kepemimpinan SBY juga kita lihat sebagai bentuk keprihatinan yang acap terulang. Dalam politik, air mata ini bisa membangun empati, kecaman, bahkan pujian.

Aksi 9 Perempuan
Mungkin kita masih ingat perjuangan para perempuan Rembang yang menggelar aksi fenomenal di depan Istana Merdeka, pada 12 April 2016. Dalam aksi tersebut, sembilan perempuan petani Rembang melakukan aksi mengecor kaki di depan Istana. Kesembilan perempuan itu adalah Supini, Surani, Rieb Ambarwati, Deni, Ngadinah, Sukinah, Karsupi, Murtini, dan Surani.
Melalui aksi tersebut, para petani berharap persoalan dan aspirasi mereka dapat diterima pihak Istana dan menemui titik terang. Kita susah menghitung berapa kali mereka mengeluarkan air mata atas penindasan perusahan semen yang mengancam sawah mereka.
Namun, para petani Rembang masih harus berjuang keras untuk melindungi pegunungan Kendeng dari eksploitasi tangan-tangan pemodal. Pasalnya, materi gugatan tentang pembatalan izin lingkungan PT Semen Indonesia di wilayah Rembang yang telah dimenangkan Mahkamah Agung pada 5 Oktober 2016 tidaklah berarti sebuah kemenangan akhir.
Maka, para petani Rembang kembali melakukan ikhtiar untuk menagih janji keadilan agar Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo membatalkan izin pendirian pabrik semen tersebut. Mereka melakukan aksi jalan kaki (longmarch) sejauh 150 kilometer dari tenda perjuangan yang berada di sekitar pembangunan pabrik semen wilayah Rembang ke kantor Gubernur di Semarang selama kurang lebih 4—5 hari.
Namun, kenyataan di lapangan sungguh sangat terbalik, Gubernur Jawa Tengah telah mengeluarkan SK izin lingkungan yang baru tentang kegiatan penambangan serta pengoperasian PT Semen Persero pada tanggal 9 November 2016. Ditambah pula penuturan Rini Soemarno, Menteri BUMN, yang menjamin operasi PT Semen Indonesia tahun 2017. Harapan warga Rembang menjemput kemenangan dengan restu Gus Mus kembali pupus akibat dari kekuasaan yang mencla-mencle. Gubernur Ganjar Pranowo kembali melanggar janjinya tentang ora korupsi ora ngapusi (berbohong) saat kampanye untuk Jawa Tengah.
Jika dipikirkan lagi, sejatinya para petani Rembang adalah para pejuang lingkungan yang tak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk sekadar menganalisis dampak lingkungan dari pendirian tambang semen. Persengkongkolan antara para kapital dan penguasa yang terkadang justru merusak lingkungan itu sendiri.
Aksi longmarch pada tanggal 5—9 Desember lalu yang didominasi para perempuan tersebut semakin membuka mata publik bahwa telah banyak air mata pejuang rembang khususnya para perempuan telah tertumpah. Bahwa perjuangan ekofeminisme itu tetap bergerak, perempuan-perempuan tangguh Rembang itu tetap melindungi lingkungan. Mereka khawatir pembangunan pabrik semen akan menghancurkan mata pencaharian mereka sebagai petani
Tanpa disadari, perempuan dengan modal kelembutannya dapat berjuang dengan gigih melakukan perlawanan atas upaya eksploitasi pemodal yang berdampak rusaknya ibu bumi. Sejak tahun 1970-an, mulai berkembang suatu paham kepedulian perempuan terhadap lingkungan (alam). Dengan sifat feminim/keibuan yang dimiki oleh seorang perempuan yaitu merawat, menjaga, melindungi, dan sebagainya, gerakan perempuan merawat bumi semakin menyebar ke berbagai penjuru.
Vandana Shiva dalam bukunya Staying Alive, Women Ecology, and Development menyatakan berdasarkannya pengalamnannya di India, pembangunan dari globalisasi membuat para perempuan di India terekslusi dari alam sumber pendapatannya. Hal ini jugalah yang akan menimpa para perempuan Rembang, pembangunan pabrik semen tersebut akan menghancurkan alam dan merenggut sumber pendapatan mereka.

Ekofeminisme
Di Indonesia gerakan ekofeminisme telah berkembang, salah satu tokoh ekofeminime yaitu mama Aleta Baun yang melakukan edukasi atau pendidikan bagi masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap pembukaan tambang marmer di wilayah suku Mollo selama kurang lebih 11 tahun.
Dengan kegigihannya mempertahankan tanah leluhur dan membangun solidaritas masyarakat telah membawanya memperoleh penghargaan Goldman Enviromental Prize 2013. Perempuan lulusan SMA ini hanya berbekal kemauan, keberanian, dan kepedulian untuk berjuang mengusir pengusaha tambang. Dengan memegang teguh kepercayaan adatnya yaitu batu adalah tulang, hutan adalah rambut, tanah adalah daging, dan air adalah darah. Dan, semua makhluk hidup memerlukan semua unsur itu dari alam, sehingga tidak diizinkan siapa pun bahkan koorporasi manapun datang dan merusak tatanan alam yang ada untuk sebaik-baik kebutuhan suku Mollo.
Tak sedikit pengorbanan yang dilakukan oleh para pejuang lingkungan tersebut, tak terkecuali cucuran air mata yang terus berderai di saat melihat alam yang akan porak-poranda karena ulah tangan-tangan tak bertanggung jawab. Air mata Ahok yang mengucur saat persidangan tidak sebanding dengan para rakyat yang selama ini terus mengalami penindasan oleh kekuasaan.
Jika air mata penguasa keluar karena proses kritik oleh rakyat, hal itu tidak membuat masa depan kehidupan mereka akan jatuh miskin. Namun, warga Rembang, Jakarta, Bali, dan lainnya sampai saat ini masih terus menangis akibat ulah kekuasaan yang menindas. Mereka menangis karena masa depan hidup mereka tidak ada yang bisa memastikan apakah lebih baik atau tidak. Yang pasti kata Soekarno, “Tuhan bersemayan di gubuknya orang miskin.”