Ajarkan Anak Berjiwa Sosial

Para siswa TK Pembina Sukarame, Bandar Lampung, bermain lego bersama di sekolah setempat, beberapa waktu lalu. Bermain secara berkelompok melatih kecerdasan sosial anak. LAMPUNG POST/RUDIYANSYAH

BANDAR LAMPUNG -- Salah satu karakter yang harus sudah ditanamkan kepada anak-anak saat memasuki usia emasnya adalah rasa menyayangi sesama atau jiwa sosial. Tidak hanya kepada teman, guru atau orang tua, dan keluarga, anak-anak harus diajarkan memiliki jiwa welas asih kepada sesama yang membutuhkan.
Maka itu, kegiatan menggalang sumbangan dan mengunjungi panti asuhan kerap menjadi agenda di beberapa sekolah, seperti yang dilakukan di TK Dwikarsa, Gunungterang, Bandar Lampung.
Kepala TK Dwikarsa Agestiya mengatakan sebagai bagian dari karakter religius dan sosial, para siswanya diajarkan untuk saling mengasihi dan diajarkan sejak usia dini. Untuk menumbuhkan jiwa sosial anak, di sekolah diadakan gerakan sedekah bersama oleh para siswa.
Sebuah kotak infak yang biasa dibuat oleh para siswa menjadi media mereka menyisihkan sebagian rezeki dan di akhir tahun mereka akan langsung mendonasikan infak yang terkumpul ke panti asuhan terdekat.
“Anak-anak sudah harus diajarkan untuk memiliki inisiatif membantu sesama untuk merangsang rasa empati mereka,” ujar Agestiya. Hal serupa juga dilakukan di TK Salsabila, Bandar Lampung.
Meski bukan sekolah Islam terpadu (IT), menurut Kepala TK Salsabila Saudah, sekolahnya tetap menerapkan pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai agama kepada para siswanya. Sesuai denagan visi sekolah, yaitu menciptakan generasi yang memiliki karakter takwa dan berakhlakul mulia, berbagai pengetahuan agama menjadi ilmu wajib yang juga diberikan kepada para siswanya.
Di sekolah, selain diperkenalkan dengan ibadah wajib seperti salat lima waktu dan ibadah sunah seperti salat duha para siswa juga diajarkan memiliki rasa empati kepada sesama, melalui gerakan sedekah bersama.
Para siswa dan guru juga selalu ditumbuhkan rasa empatinya dengan mengunjungi para siswa yang sedang sakit. Berdiri sejak 2007 di bawah Yayasan Al Hidayah pimpinan Taji Ahmad, saat ini Kelompok Bermain dan TK Salsabila yang telah terakreditasi B memiliki sekitar 50 siswa dengan 5 tenaga pendidik.
Di TK Karunia Imanuel, Bandar Lampung, karakter religius dan sosial yang sejak dini sudah dikenalkan kepada para siswanya adalah tolong-menolong kepada sesama dan berlaku jujur. Hal tersebut, menurut Kepala TK Karunia Imanuel Hana Kusetyaningsih, sangat dibutuhkan para siswa untuk dapat bersosialisasi dengan sesama teman.
“Kami tetap mengutamakan nilai keagamaan dan sosial kepada siswa usia dini, karena mereka akan terus tumbuh dan berkembang dengan tetap memegang nilai tersebut," kata dia.
Sebelum mengikuti kegiatan belajar, setiap pagi siswa TK Karunia Imanuel selalu mengikuti kegiatan renungan pagi. Anak-anak diajarkan untuk selalu berdoa sebelum dan seusai melakukan kegiatan. Setiap Sabtu para siswa juga diajarkan secara langsung mengikuti kegiatan peribadatan.
“Kami ajak mereka mengikuti kebaktian. Saat itulah anak-anak diajarkan memuji Tuhan dan mendengarkan cerita cerita Alkitab hingga memberikan uang persembahan,” ujar Hana. Secara langsung para gurulah yang memimpin kebaktian tersebut.