Akar Benalu Pungli

Pungli menciptakan ekonomi biaya tinggi, harus dibersihkan. (ilustrasi)


PUNGUTAN liar atau pungli menjadi benalu pembangunan Indonesia karena dampak dari aksi itu menimbulkan kerugian dan menjadi batu sandungan geliat perekonomian. Pungli menciptakan high cost economy alias ekonomi berbiaya tinggi.
Betapa tidak, dari proses perizinan hingga distribusi barang, benalu pungli bertebaran bak jamur pada musim penghujan. Jika terus dibiarkan, pengusaha dan calon investor gentar meneruskan atau menanam investasinya di Indonesia, termasuk di Lampung ini.
Karena itulah pada akhir Oktober 2016, Presiden Joko Widodo Perpres No. 87/2016 tentang Pembentukan Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli) untuk menyapu bersih aksi pungli, termasuk oleh para preman di jalan raya.
Di Lampung, Tim Saber Pungli pun beraksi menangkap belasan preman jalanan Oktober 2016. Di Tulangbawang dan Tulangbawang Barat, para “Pak Ogah” memungut antara Rp2.000—Rp500 ribu kepada sopir angkutan melintas jalan lintas timur Sumatera.
Di Bandar Lampung pun, preman jalanan itu tidak luput dari incaran Tim Saber Pungli. Dari 11 kejadian, 28 pelaku pungli di kawasan Kota Tapis Berseri itu ditangkap akibat memalak para pengguna jalan pada beberapa titik perlintasan jalan.
Namun, efektivitas Tim Saber Pungli masih perlu dikritisi karena para preman masih berani memungli. Misalnya pengurusan penyeberangan, oknum preman berlindung dalam lembaga jasa penyeberangan memungut sejumlah uang kepada pengemudi.
Selain itu juga, di Way Kanan masih ada saja preman yang memalak pengemudi di jalan lintas tengah Sumatera. Mereka seolah tidak gentar dengan operasi tangkap tangan (OTT) yang telah beberapa kali digelar aparat penegak hukum.
Salah satu cara memerangi aksi preman jalanan adalah dengan patroli polisi, pemasangan spanduk sosialisasi jerat hukum bagi pelaku pungli dan sosialisasi quick wins Polri dengan nomor telepon (0723) 461047 untuk memudahkan pelaporan para korban.
Yang paling menarik ditawarkan ialah memberi kegiatan positif para pemuda dalam wadah Karang Taruna. Hal ini menjadi masuk akal dengan adanya pembinaan bagi pemuda yang selama ini diindikasi pelaku pungli, mereka akan lebih produktif.
Akar masalah maraknya pungli di jalanan tentunya ialah motif ekonomi. Ketimpangan ekonomi dan minimnya lapangan kerja menyebabkan mereka mencari jalan pintas menjadi pemalak di pinggir pinggir jalan memangsa sopir yang melintas.
Kita mendukung Tim Saber Pungli di Lampung untuk terus melakukan aksi tangkap tangan pelaku pungli. Meskipun demikian upaya pencegahan lewat program-program pemberdayaan masyarakat juga tidak boleh dikesampingkan. n