Akhirnya Trump Rangkul Alibaba!

H. Bambang Eka Wijaya

MESKI awalnya mengancam untuk memasang tarif tinggi terhadap barang asal Tiongkok, ternyata Presiden terpilih AS Donald Trump akhirnya merangkul CEO e-commerce Alibaba Jack Ma dengan bertemu di New York. Usai pertemuan itu Selasa (10/1/2017) Trump dan Ma menyatakan hubungan AS-Tiongkok harus diperkuat, lebih bersahabat, dan lebih baik.
Menurut BBC, Ma menuturkan ia akan membantu bisnis AS dalam menciptakan jutaan lapangan kerja baru dengan cara menggunakan Alibaba untuk menjual produk di Tiongkok. "Jack dan saya akan melakukan beberapa hal besar," timpal Trump di depan Trump Tower bersama Ma. (Kompas.com, 10/1/2017)
Jack Ma mengatakan perusahaannya berencana untuk memikat satu juta usaha kecil AS untuk menggunakan platformnya menjual produk mereka kepada konsumen Tiongkok. Jubir Alibaba Bob Christie menuturkan setidaknya satu juta lapangan kerja baru akan tercipta dalam lima tahun ke depan.
Secara spesifik Ma menyebut para petani dan produsen pakaian skala kecil di kawasan Midwest bisa menggunakan marketplace Alibaba untuk menjual produk. Tiongkok memiliki 300 juta masyarakat kelas menengah, tingginya permintaan terhadap produk AS, dan 450 juta orang pembeli di marketplace Alibaba.
Jack Ma mendirikan aneka bisnis online Alibaba Group di Hangzou, Zhejiang, RRT, 4 April 1999. Hingga Maret 2015 mempekerjakan 34.985 orang. Melantai di Bursa New York pada 19 September 2014 dengan nama BABA, kapitalisasi sahamnya menurut Wikipedia sebesar 212 miliar dolar AS pada akhir 2015. Grup ini sejak September 2014 melayani 80% penjualan online di Negeri Tirai Bambu itu.
Produk UMKM Indonesia sudah sejak awal 2016 masuk Tiongkok melalui platform Tmall.com, anak usaha Alibaba Group. Langkah ini lebih mantap lagi setelah Lazada, ritel dan marketplace online terkemuka Indonesia, diakuisisi Alibaba Group Holding Ltd senilai Rp6,5 triliun dalam bentuk equity capital pada 12 April 2016.
Dengan dirangkulnya Jack Ma oleh Trump, terlihat betapa kuatnya bisnis Alibaba hingga mampu dijadikan jangkar bagi hubungan antara Tiongkok yang berpenduduk 1,3 miliar jiwa dan AS yang berpenduduk hampir 400 juta jiwa.
Namun, perangkulan Trump terhadap Ma ini menjadi indikator ketidakkonsistenan alias mencla-menclenya Trump, dari semula mengancam dengan tarif tinggi produk Tiongkok. Itu akibat tak komprehensifnya Trump melihat masalah, jadi kontroversial. Dengan begitu, kemungkinan adanya perubahan sikap lagi nanti, tak tertutup. ***