Akulturasi Islam dalam Budaya Lampung

Ilustrasi acara begawi adat. yopiefranz.com

DALAM paradigma integratif, komunitas adat tampak bersifat responsif, tidak pasif. Komunitas adat yang responsif digunakan untuk memberikan status penuh, baik kepada perseorangan maupun kepada persatuan bersama atau kelompok. Komunitas yang responsif lebih terintegrasi dibandingkan dengan agregat individu yang memaksimalkan diri. Oleh karena itu, baik individu maupun komunitas, keduanya adalah esensial sehingga mempunyai kedudukan fundamental yang setara berdasar kebersamaan dan persaudaraan. Individu dan komunitas saling membentuk dan saling membutuhkan dalam kerangka membangun daerah.
Masyarakat adat Pubian dalam perspektif filsafat sosial adalah orang-orang yang dalam hidup kesehariaannya mengaktualisasikan moral, memiliki bahasa dengan ragam dialek, aksara, tradisi yang dinamis dan terjadi dalam proses interelasi dan terintegrasi dengan Islam. Sebab, apa yang terjadi, tradisi Islam berakulturasi dengan budaya Lampung dan ataukah Islam dan Lampung saling memengaruhi. Mungkin saja, yang tengah terjadi adalah integrasi nilai sebagai islamisasi kultur dalam masyarakat lokal.
Konteks itu memperjelas, sekiranya muakhi sebagai nilai-nilai etis teraktualisasi dan membudaya sejak lama dalam masyarakat adat di Lampung. Kesadaran kelompok itu memang realitas, bahkan kepentingan kelompok itu dirasakan dan dihayati oleh anggotanya sebagai kepentingan dirinya juga. Sikap demikian tampak pada waktu “saudara tua”-nya (bahasa Lampung: Kiay; Kanjeng) akan menyelenggarakan hajat pernikahan putranya dengan upacara perkawinanan secara adat.
Kesadaran dan kesediaan untuk berkorban guna membantu saudaranya itu menjadi nilai umum. Dan sekiranya ada di antara saudara yang lain tidak peduli terhadap hajat itu, tentu akan mendapatkan sanksi sosial dari warga adat. Secara lebih luas dapat dikatakan, nilai-nilai persaudaraan dalam budaya muakhi merupakan dasar moral yang berguna bagi pembangunan daerah Lampung.
Karakteristik utama yang dominan dalam komunitas adat Lampung Pubian adalah kehidupan mekanistis masyarakat yang sarat akan perasaan persaudaraan, kebersamaan, kerja sama, interaksi sosial yang intens, kearifan lokal, serta kedamaian yang mengejawantah dalam ke-muakhi-an. Karakteristik inilah yang harus dipertahankan dan bahkan diperteguh untuk mencapai aksi-aksi kolektif produktif masyarakat dalam merancang dan mencapai kesejahteraannya sendiri. Karakteristik vital dalam kehidupan komunitas inilah yang dapat dijadikan modal dasar dalam menggalang aksi-aksi kolektif dalam menghambat dampak negatif perubahan dan pembangunan.

Konsep Masa Depan
Kapital sosial yang dikembangkan dari kajian sosiologi dengan aliran struktural, meminjam konsep penting dari ilmu ekonomi untuk menggambarkan bahwa konsep yang dimaksud memiliki dampak positif pada aksi-aksi kolektif di masa yang akan datang. Kapital ini dapat diinvestasikan untuk kemanfaatan di masa yang akan datang, dapat dikembangkan, dan dapat dikonversikan, serta membutuhkan maintenance untuk mengembangkannya.
Interaksi timbal balik, jaringan sosial, kerja sama, nilai untuk saling memercayai, serta norma-norma adalah komponen yang sangat penting dalam kehidupan sosial manusia, demikian pentingnya sehingga perlu menggunakan kata kapital yang setara dengan kapital dalam konsep ekonomi yang tidak mungkin ditiadakan dalam proses produksi. Pengembangan masyarakat (community development) yang memanfaatkan kapital sosial dalam proses kerjanya.
Dapat kita sederhanakan pemahaman muakhi sebagai berikut:
Pertama, muakhi sebagai nilai dasar etika sosial terdapat dalam masyarakat adat Pepadun di Lampung. Budaya muakhi yang dilandasi filsafat hidup piil pesenggiri dapat dikembangkan secara substansial dan fundamental. Sebab, substansi budaya Lampung ada dalam pemahaman dan pengamalan orang Lampung sebagai pelaku budaya dalam berbagai aspek kehidupan. Pemahaman tentang muakhi dalam masyarakat adat Lampung menjadi urgen karena muakhi sebagai sikap dan nilai etika sosial berimplikasi terhadap persaudaraan dalam lingkungan keluarga, kerabat, kehidupan kemanusiaan, dan pembangunan masyarakat.
Kedua, budaya muakhi sebagai nilai etis berfungsi membangun kesadaran moral, perekat sosial, budaya, ekonomi, politik, dan persatuan bangsa. Budaya muakhi berpengaruh terhadap sikap dan perilaku produktif dalam keluarga dan masyarakat untuk pembangunan. Sebab, sikap dan perilaku produktif dalam keluarga menentukan arah keberhasilan pembangunan daerah, yang terjadi secara interaktif dan sinergis.
Ketiga, aktualisasi budaya muakhi memberi kontribusi pada dimensi moral, sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam pembangunan. Meski bentuk dan sifat kontribusi itu intensitas dan sifatnya beragam pada kelompok masyarakat. Muakhi sebagai nilai etis budaya Lampung dilandasi persaudaraan dan persamaan dapat dikembangkan dan dilestarikan melalui berbagai pendekatan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. n