Alami Gangguan Jiwa, Pria 30 Tahun di Lamtim Diikat Rantai

Mawardi

SUKADANA -- Selama empat tahun Mawardi diikat kaki dan tangannya. Ia menghuni bangunan kecil yang selama ini menjadi dapur di Desa Labuhanratu 1, Way Jepara, Lampung Timur.

Pria 30 tahun ini mengalami keterbelakangan mental sehingga dirantai oleh ibu kandungnya sendiri, Nanik. Tidak jauh dari tempat Mawardi diikat, ada lubang kecil yang dipakai sebagai tempat buang air kecil dan besar.

Kondisi Nanik (54) dan Mawardi sangat mengenaskan. Kedunya tinggal di rumah kecil dengan satu kamar dan satu ruang tamu. Di rumah itu tidak ada meja dan kursi.

Ia mengaku mencari makan dengan mengumpulkan singkong di lahan bekas panen milik orang lain. "Mau beli tidak punya uang. Mau nanam enggak ada lahan. Khanya sekadar untuk makan, singkong satu karung ini bisa untuk 3 bulan," ujar Nanik saat ditemui Lampost.co, Senin (26/12/2016).

Singkong itu kemudian dijemur dan diolah menjadi tiwul. Nanik, biasanya berjualan mainan anak-anak di depan sekolah. Setiap hari ia berkeliling ke sekolah untuk menjajakan dagangan. "Kadang bawa untung Rp10 ribu sampai RP15 ribu," kata dia.

Ia menerangkan anaknya yang kini dirantai, dahulunya sempat mengenyam pendidikan hingga kelas 2 SMP. Namun, tidak dapat melanjutkan pendidikan karena tidak ada biaya.

Saat masih sehat, kata dia, Mawardi selalu membantunya mencari nafkah dengan keliling berjualan gorengan. Setelah beberapa tahun, kondisi kejiwaan anaknya seperti tidak normal.

Awalnya Mawardi sering marah-marah tanpa sebab, sering memukul ibunya, bahkan tetangganya pun sering diamuk tanpa alasan. "Ia mulai gila 4 tahun ini," kata Nanik dengan bahasa Jawa yang kental.

Ia mengaku sudah dua kali mengobati anaknya, tapi tidak ada perubahan sedikit pun. Pengobatan bukan ke dokter sepesialis saraf, tapi ke dukun karena tidak ada biaya.