Aleppo

Abdul Gafur, wartawan Lampung Post

TUJUH hari lalu, pesan pilu itu datang dari tanah Aleppo. Kabar di pertengahan Desember 2016 yang dingin begitu menyayat rasa kemanusiaan kita pada palung hati yang paling dalam.
Lina, seorang aktivis, mengunggah video mencekam teror Aleppo dari akun Twitter-nya. “Manusia di seluruh dunia jangan tidur. Anda bisa protes, hentikan genosida ini sekarang juga!”.
Bana Alabed, gadis tujuh tahun, turut memberi kesaksian pada dunia lewat kicauannya. “I am talking to the world now live from east #aleppo. This is my moment to either live or die.”
Begitu pula dengan kicauan dari akun White Helmt, grup sukarelawan kemanusiaan Suriah yang bekerja di Aleppo Timur. “Semua jalan dan gedung gedung runtuh dipenuhi orang orang mati.”
Nyanyian kematian dari Suriah juga Aleppo bukan hanya sepekan terakhir, melainkan telah melantun sejak 2011 silam ketika warga sipil di berbagai negara di Timur Tengah bergolak menggulingkan pemerintahan lalim.
Namun, musim semi di tanah Arab itu jelas bukanlah kidung indah bagi warga Suriah juga Aleppo. Ia nyanyian kematian yang telah merenggut 500 ribu jiwa, serta memaksa 11 juta lainnya hidup mengungsi.
Suriah adalah benang kusut berbagai macam plot kepentingan. Ini bukan satu peperangan, melainkan baku hantam antarbanyak kubu yang berkelindan satu sama lain. Negara itu benar-benar telah tercabik-cabik oleh perbedaaan dan perpecahan.
***
Konon, muasal Aleppo adalah kota tua bernama Halab. Kota kuno bangsa Semit itu telah ada bahkan 3.000 tahun sebelum Masehi (SM). Di kota itu pada bagian bukitnya pernah menjulang kuil Hadad, Sang Dewa Badai.
Sepekan berlalu, badai kemanusiaan di tanah Aleppo tak menunjukkan episode akhir. Sehari lewat, puluhan bus evakuasi untuk warga sipil justru diselimuti kobaran api dan kepulan asap, lantaran dibakar!
Sepekan berlalu, lolongan kepedihan warga Aleppo tidak jua senyap. Segala pesan dan deskripsi tentang Aleppo menjadi “kiamat kemanusiaan” bagi kita semua. Jelaslah, manusia tanpa hati nurani dapat menghadirkan neraka bagi manusia lainnya.
Dan, dalam peperangan, hati nurani itu amat sulit ditemukan. Rakyat jelata non-combatan selalu menjadi korban, bahkan jumlahnya lebih besar dari para serdadu yang berperang. Bagaimana pun kekejaman ini haruslah menemukan titik akhir. Semoga. n