Anak-Anak Pesisir Barat Rentan Alami Tindak Kekerasan

Ilustrasi tindak kekerasan kepada anak-anak. Dok. Lampost.co

KRUI -- Menjadi salah satu wilayah kunjungan wisata utama di Provinsi Lampung, dengan kedatangan ribuan wisatawan luar dan dalam negeri setiap tahunnya, menyebabkan Pesisir Barat menjadi daerah ekstrem untuk anak-anak. Mereka rentan menjadi korban kasus penjualan anak (tracfiking), prostitusi di bawah umur, seks bebas, korban kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan seksual, dan berbagai ekses negatif lainnya yang dapat menimpa anak-anak di Bumi Para Ulama dan Para Saibatin tersebut.
Hal itu diakui Kabid Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Pesisir Barat Nasri Ramadhan, kepada Lampung Post, Rabu (11/1/2017), ditemui di kantornya. Menyikapi hal itu, pihaknya akan mengoperasikan satu sekretariat pusat pelayanan terpadu DP3A yang berfungsi di antaranya untuk menampung anak-anak yang mengalami tekanan mental ,trauma, korban kekerasan pelecehan seksual, pemerkosaan, hamil di luar nikah, yang nantinya diberikan bimbingan pembinaan agar bisa menjalani hidup kembali secara normal.
"Sekretariat itu kami menyewa rumah warga di Kelurahan Pasar Krui mulai beroperasinya pada bulan Februari atau Maret 2017 ini. Nantinya ada dokter, psikolog yang akan melayani kesehatan anak anak yang menjadi korban memberikan bimbingan dan pembinaan, ini kami harapkan dapat membantu para korban baik secara fisik dan kejiwaan," kata Nasri.
Selain akan berkoordinasi dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kata dia, tahun 2017 ini DP3A akan mengeluarkan surat edaran ke sekolah-sekolah di seluruh pekon melalui kecamatan, yang mengimbau jika terjadi tindak kekerasan yang melibatkan anak-anak di kabupaten itu agar segera melaporkan kepada DP3A . "Untuk program ini kami melibatkan dan berkoordinasi dengan kepolisian, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan para pihak terkait lainnya termasuk masyarakat," kata Nasri.