Anak Masa Kini Penduduk Asli Dunia Digital

Anak maski kini telah menjadi penduduk asli dunia digital. metrotvnews.com

SAAT ini anak-anak, bahkan berusia bawah lima tahun (balita), yang bermain gadget dengan lihai sudah menjadi pemandangan yang tak langka. Bahkan, banyak anak yang kini sulit untuk bisa lepas dari benda elektronik tersebut. Apa yang harus dilakukan orang tua dalam menghadapi situasi tersebut?
Psikolog anak, Annelia Sari Sani, menyebut anak-anak saat ini adalah penduduk asli dunia digital. "Sebagai orang tua jangan bertindak salah, yang harus menjauhkan anak-anak sepenuhnya dengan benda tersebut," ujarnya dalam sebuah seminar di Jakarta beberapa waktu lalu.
Ia menyarankan sebaiknya orang tua membatasi kontak anak dengan gadget. Durasi yang disarankan untuk anak berusia di atas dua tahun adalah dua jam dalam sehari. Selain itu, penggunaan gadget juga sebaiknya diawasi oleh orang tua agar orang tua tahu apa saja yang telah diperoleh anak melalui benda elektronik tersebut.
"Bila perlu, masukkan aplikasi yang orang tua bisa ikut terlibat di dalamnya sehingga keduanya juga ada interaksi," ujarnya. Karena dalam masa perkembangan kecerdasan, setiap anak memerlukan stimulan yang dapat memacu mereka untuk mengembangkan ide-ide dan kreativitas mereka secara langsung.
Namun, Annelia mengatakan untuk anak yang berusia di bawah dua tahun tidak disarankan sama sekali untuk melakukan interaksi dengan gadget. Hal ini disebabkan pada usia emas tersebut anak lebih disarankan untuk belajar melalui apa yang ada di sekitarnya atau secara nyata. "Jika anak tidak dipapar dengan gadget pada usia dini, kecenderungan untuk kecanduan atau adiksi pun makin kecil," kata dia.
Dalam sebuah riset yang dilakukan, American Association of Pediatrics (AAP) kini anak-anak menghabiskan rata-rata tujuh jam sehari untuk menggunakan media, termasuk televisi, komputer, telepon, dan alat elektronik lain.
Padahal, penelitian menunjukkan penggunaan media pada anak-anak mengakibatkan beberapa masalah seperti sulit memusatkan perhatian, kesulitan belajar, gangguan tidur dan makan, serta obesitas. Akses internet dan ponsel pintar yang tak terbatas juga memberi ruang bagi anak-anak untuk menampilkan perilaku yang berisiko.
Oleh karena itu, pada 2001 AAP mengeluarkan panduan untuk mengedukasi orang tua mengenai dampak media bagi anak, baik dari segi jumlah waktu yang digunakan untuk mengakses media maupun isi media tersebut.
Dilansir dari parenting.co orang tua diimbau mencegah anak yang belum berusia dua tahun menonton televisi atau menggunakan gadget dan membatasi anak-anak di atas dua tahun hanya menggunakan gawai maksimal dua jam sehari.

Bermain Bersama
Masih mengacu pada hasil penelitian American Association of Pediatrics (AAP) disebutkan meskipun saat ini anak-anak tumbuh dalam dunia serbadigital, pola asuh setiap keluarga diharapkan tidak berubah.
Salah satu yang terpenting, untuk dapat mengalihkan perhatian anak-anak agar tidak sepenuhnya tertuju pada teknologi, seperti gadget, dibutuhkan peran orang tua seperti mendampingi anak bermain.
Orang tua disarankan untuk selalu meluangkan waktu untuk main bersama anak, karena saat itulah orang tua dapat mengajarkan tentang kebaikan. Terlibatlah dengan anak dan kenali teman-teman anak dan ketahui ke mana saja mereka pergi.
Dalam kesempatan yang berbeda, psikolog keluarga, Astrid Wen, mengatakan orang tua perlu menjadi contoh kepada anak untuk urusan penggunaan teknologi. Ia menjelaskan anak yang terlalu sering menggunakan gadget tanpa kontrol akan mengorbankan waktu si anak untuk bereksplorasi dengan lingkungannya dan berinteraksi dengan orang sekitar.
Kerugian lainnya ialah waktu istirahat anak akan berkurang sehingga berdampak pada perkembangan fisik dan juga dapat menurunkan kemampuan berpikir. "Pada akhirnya, anak tidak tumbuh menjadi orang-orang yang dapat merefleksikan dan mengekspresikan diri. Mereka akan cenderung cemas dan depresi," ujar Astrid.