2013-01-20 20:08:00
BANDAR LAMPUNG: Manajemen BRT Mangkir Lagi

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co): Pihak manajemen Bus Rapit Transit (BRT) Trans Bandar Lampung kembali melanggar janji kepada para karyawan yang seyogyianya akan membayar gaji November dan Desember 2012 lalu pada 20 Januari ini.

Hal ini, dikarenakan sesuai kesepakatan antara pihak manajemen BRT Bandar Lampung bersama karyawan pada Kamis (27-12) lalu di Gedung Semergou, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung, akan membayar tunggakan gaji bagi karyawan, sebelum tanggal (20-1).

Kesepakatan tersebut pun disaksikan oleh Wali Kota Bandar Lampung Herman HN beserta Direktur SDM BRT Benny HN Mansyur dan bagian Legal BRT Agus Bakti Nugroho beserta ratusan karyawan BRT.

Namun lagi-lagi, hingga batas waktu yang telah ditentukan. Para karyawan harus rela menelan rasa kekecewaan kembali, pasalnya janji tersebut tidak ada realisasinya.

Oleh sebab itu, para karyawan BRT akan kembali melakukan aksi unjuk rasa pada Senin (21-1). Aksi tersebut dengan tuntutan yang sama, mereka menuntut hak gaji dan uang transport mereka yang belum terbayarkan oleh manajemen BRT.

Salah satu karyawan yang bertugas sebagai pramudi Toni Nugraha mengatakan, aksi tersebut akan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB dan akan para karyawan akan berkumpul di Terminal Induk Rajabasa. Setelah semua berkumpul, sekitar pukul 09.00 akan melaju menuju Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Bandar Lampung berkonvoi menggunakan sepeda motor.

"Kami ini kurang sabar apa lagi, kami disuruh bersabar menunggu hingga tanggal 20 Januari. Sudah kami ikuti, ini sudah sampai waktunya. Tapi buktinya mana, sampai sekarang gaji dan uang makan dan uang transport kami belum juga dibayarkan. Kami capek dibohongi terus," kata Toni, Minggu (20-1).

Menurut Toni, sebelum mereka mengadakan aksi ini. Mereka sudah melayangkan surat pemberitahuan kepada dinas terkait dalam hal ini pihak Disnaker, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandar Lampung, pihak Terminal Induk Rajabasa, dan Polresta Bandar Lampung.

"Secara umum surat tersebut sebagai pemberitahuan kepada kami, terkait aksi kami sebelumnya di halaman Pemkot Bandar Lampung pada 27 Desember 2012 lalu," ujarnya.

Toni menjelaskan, semenjak manajemen BRT tidak memenuhi hak mereka sebagai pekerja. Semua karyawan BRT, banyak yang mengalami permasalahan dalam keluarga.

Ada yang ribut dengan istri, motor ditarik oleh dealer, diusir dari kontrakan sampai dengan anak yang dikeluarkan dari sekolah karena tidak bisa membayar administrasi.

"Pokonya kami ini sudah merasa benar-benar di dzolimi betul oleh manajemen BRT ini. Tapi kami akan tetap melakukan aksi unjuk rasa damai," jelas Toni yang sudah bekerja selama delapan bulan sebagai pramudi ini. (MG-5/L-4)

komentar facebook