Banting Setir Sujoko ke Jamur Tiram

Pemuda asal Desa Sukabakti, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, itu pun memulai usaha pengolahan limbah gergaji pada kayu menjadi bibit jarum tiram sejak sebulan lalu. (Foto:Lampost/Armansyah)

KALIANDA--Pengusaha muda ini memberanikan diri keluar dari tempatnya bekerja. Berbekal pengalaman tahunan di pertanian, Hendrikus Sujoko banting setir untuk mengembangkan hobinya. Pemuda asal Desa Sukabakti, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, itu pun memulai usaha pengolahan limbah gergaji pada kayu menjadi bibit jarum tiram sejak sebulan lalu.
"Selama membuka budi daya jamur tiram bulan lalu, sudah ada tiga warga memesan bibit jamur tiram. Masing-masing orang memesan 2.000 backlog (bungkus),” ujarnya, Minggu (10/3/2017).

Dengan bangga Sujoko menyatakan, “Total ada 6.000 bungkus bibit jamur yang harus ia kerjakan," kata pemuda lajang kelahiran Maret 1976 itu menceritakan usaha barunya yang langsung bergeliat.
Ketika diwawancarai Lampung Post, ia tengah mengolah limbah gergaji menjadi bibit jamur tiram di sebuah bekas pabrik penggilingan padi desa Sukabakti, Palas. Dibantu Romadhon (36), pemuda yang belum ada niat menikah itu membungkus bakal bibit jamur tiram kedalam plastik bening ukuran 15 x 35cm dengan harga jual Rp2.500 per bungkus.
Keduanya bahu-membahu menakar bahan baku bakal calon bibit jamur tiram, seperti 10 ember bubuk gergaji, 1 ember dedak, 3 kg jagung, 2 kg dolomit (kapur), dan 30 ml molesis (tetes tebu).
Joko tak sungkan memaparkan usahanya itu. Berbagai jenis media yang diaduk menjadi satu itu menghasilkan sekitar 70 bungkus, dengan berat media 1 kg/bungkus. "Per backlog bisa panen hingga lima kali. Sekali panen per bungkusnya bisa menghasilkan 7 ons jamur tiram," kata pria lajang lulusan SMA Setia Dharma Godean, Yogyakarta, itu.
Pria yang kini menginjak usia 40 tahun itu sempat bekerja di perusahaan di bidang pembibitan udang windu sejak 1997. Pada 2010 ia memutus keluar dari pekerjaan untuk belajar mandiri. Sujoko memutuskan keluar dari pekerjaan untuk belajar mandiri dengan bercocok tanam berbagai tanaman hortikultura, seperti sawi, kol, ketimun, jagung, hingga cabai merah.
“Sekarang coba-coba membuat jamur tiram, karena hasilnya menjanjikan. Harga jamur tiram Rp1.000—1.500 per ons," ujarnya.
Ia berharap budi daya jamur tiram yang ia geluti berkembang dengan baik dan dikenal masyarakat luas. Menurutnyam usaha budi daya jamur tiram dan pembibitan jamur tiram ini menjadi pilihan terakhir untuk menopang masa depannya.
Usaha yang ia rintis bersama Romadhon juga ia awali dengan mengembangkan 2.000 bungkus bibit jamur tiram. "Usia 50 hari, ke-2.000 bungkus jamur tiram ini sudah bisa dipanen dengan hasil panen bisa mencapai 15 kg jamur tiram per hari," ujarnya.