Bastian Tito

Abdul Gafur, wartawan Lampung Post

SAYA mungkin termasuk satu dari sekian anak belum cukup umur yang terlalu cepat membaca cerita silat mahakarya penulis legendaris Bastian Tito. Karya masyhur itu bertitel Wiro Sableng, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Mulai mengikuti murid Sinto Gendeng melanglang buana sejak kelas IV SD hingga bangku kuliah, kesetiaan panjang itu terputus manakala Senin pagi, 2 Januari 2006, Om Tito—sapaan akrap sang pengarang—tutup usia. Petualangan Wiro pun berakhir pula.
Dulu tak ada batasan ketat dalam hal membaca atau menonton serial televisi seperti sekarang. Karya Om Tito memang tak harus dibaca anak seusia saya ketika itu. Kontennya memang kadang berbau saru. Maka itu saya katakan saya beruntung. Aguy!
Bagi saya, karya Om Tito justru jauh lebih berkesan dari serial novel remaja impor yang kala itu tengah ngehits macam trio detektifnya Alfred Hitchcock, ataupun novel karya Enid Blyton dengan lima sekawan dan pasukan ingin tahunya.
Dua novel impor genre remaja itu memang menarik, tetapi Om Tito punya resep tersendiri untuk mengemas karyanya demikian asyik untuk saya nikmati. Kekuatan itu ada pada kemampuan mendeskripsi, penokohan, dan bahasanya yang demikian khas.
Dalam hal penokohan, petualangan Wiro dari Andalas, Jawadwipa hingga Latanah Silam memunculkan banyak tokoh macam Pangeran Matahari, Setan Ngompol, Tua Gila, Kakek Segala Tahu, Bujang Gila Tapak Sakti. Entah berapa ratus tokoh telah tercipta.
Dalam suatu momen Om Tito kadang tak perlu menyebut nama si tokoh. Hampir tiap tokoh rekaannya mempunyai karakter atau ciri demikian kuat. Baik tokoh utama hingga tokoh pendukung cerita memiliki porsi setimpal untuk Om Tito perkenalkan.
Misal, ketika bau pesing demikian menyengat pembaca lekas tahu kakek Setan Ngompol telah melompat ke gelanggang pertarungan. Atau jika dengungan laksana selaksa lebah menderu itu menandakan kapak maut Naga Geni tengah mencari sasaran. Bahasa Om Tito juga tak kalah nyentrik.
Penggunakan frasa kira-kira “sepeminuman teh”, “sepenanakan nasi”, “lima hari berkuda”, “tiga purnama berlalu”, “terpental lima tombak ke belakang”, “berkelit satu depa ke samping” adalah sekian contohnya.
Ah, saya sungguh tak sabar kisah Wiro Sableng akan kembali ke layar lebar menjadi nyata. Tidak tanggung-tangung produser film Hollywood, Fox International Productions (FIP), divisi dari 20th Century Fox Film Corporation akan terlibat.
Benarlah kata Bung Pramoedya Ananta Toer, “Menulis adalah kerja untuk keabadian.” Saya kira begitu halnya dengan Bastian Tito. Karya Wiro Sablengnya itu adalah sebentuk keabadian. Bukankah begitu, kisanak? Tabik. n