Beauty Mams Tak Sekadar Line Dance

Koordinator Beauty Mams Bandar Lampung Puspawati Satio (tengah) foto bersama Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Bandar Lampung Rusli Taslim. DOK. BEAUTY MAMS

MENJAGA agar tubuh tetap sehat ternyata tidak sulit. Selain mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, melakukan olahraga fisik yang menyenangkan, seperti line dance, menjadi solusinya. Lewat cara tersebut, selain dapat menjaga kebugaran, line dance juga menjadi salah satu hobi yang menyehatkan.
Pagi itu, rumah besar di kawasan Villa Citra, Kedamaian, Bandar Lampung, terlihat ramai. Sekitar 15 perempuan yang rata-rata berusia di atas 40 tahun itu tampak asyik menarikan sejumlah gerakan. Irama yang mengiringinya berganti-ganti, kadang rancak musik country, evergreen, latin, tapi tak lama kemudian berganti Ca-ca-ca. Perempuan-perempuan ini sedang berlatih line dance. Line dance? Mungkin istilah ini masih asing di telinga banyak orang. Line dance adalah tarian koreografi yang langkah dan gerakannya dilakukan secara bersamaan dan berulang sesuai irama dan ketukan lagu.
Dansa tanpa pasangan ini biasanya dilakukan oleh sekelompok orang. Line dance bisa dibilang olahraga dengan sentuhan koreografi gerakan tari. Gerakannya beragam dan mengombinasikan berbagai gerakan dansa.
Kaum hawa di Bandar Lampung banyak yang menggandrungi tarian tersebut. Bahkan mereka membentuk komunitas, salah satunya Beauty Mams.
Komunitas line dance ini terbentuk sekitar tiga tahun lalu. Kini beranggotakan 30 orang. Mereka di bawah koordinator Puspawati Satio bersama Achun, serta pelatih Fung Fung, dengan latihan tiga kali seminggu. Komunitas ini kerap manggung di berbagai acara. Salah satunya mengisi acara Capgome 2017 di Mahan Agung, Rumah Dinas Gubernur Lampung, beberapa waktu lalu.
Selain mengikuti line dance, komunitas ini juga aktif berkegiatan sosial dengan membantu kaum duafa.
Menurut Koordinator Beauty Mams Bandar Lampung Puspawati Satio, line dance adalah dansa yang tidak harus dilakukan secara berpasangan, akan tetapi dilakukan secara individual. Biarpun dibawakan secara massal atau beramai-ramai, setiap orang berdansa dengan cara bergerak atau menari secara sendiri-sendiri dengan koreografi yang sama.
Namun, lebih menarik menyaksikan dansa berpasangan karena kombinasi dan keserasian gerak kedua penari akan semakin menonjolkan keindahan gerak tarian. Tapi, tentu saja dansa berpasangan memiliki tantangan lebih besar, karena jika salah satu penari salah langkah akan terjadi tabrakan atau saling injak.
"Line dance adalah tarian koreografi yang langkah dan gerakannya dilakukan secara bersamaan dan berulang, sesuai irama dan ketukan lagu. Dansa tanpa pasangan ini biasanya dilakukan oleh sekelompok orang,” kata Puspawati.
Karena line dance merupakan dansa tanpa pasangan, kalaupun sang penari salah langkah, maka tidak begitu kelihatan karena tarian ini banyak diikuti oleh peserta dan dilakukan secara berderet atau berbaris. Oleh karena itu disebut line dance.
"Berdansa membutuhkan kemampuan menyelaraskan telinga untuk mendengarkan irama musik agar gerak kaki tidak off beat, kelenturan dan penguasaan gerak tubuh, serta mengingat urut-urutan langkah kaki," kata Puspawati Satio, beberapa waktu lalu.
Selain itu, line dance menggabungkan semua jenis musik dan setiap gerakan diambil dari masing-masing jenis musik. "Line dance gerakannya mengikuti musik, kalau yang diputar musik cha-cha berarti langsung ikut gerakan menyesuaikan dengan musik. Dari slow langsung bugy," ujar perempuan awet muda itu.
Musik, terutama musik evergreen, country, dan latin, sudah menjadi satu kesatuan dengan komunitas line dance.

Mencegah Pikun
Menurut dia, dengan mengikuti line dance banyak manfaatnya. Selain menjaga kebugaran dan menyehatkan, juga untuk mengasah daya ingat supaya tidak mudah linglung dan mencegah pikun. Sebab, line dance setiap peserta dituntut untuk menghitung gerakan. "Yang paling penting kita ikut line dance bukan hanya happy, melainkan sehat. Kalau tubuh sehat, wajah juga awet muda," kata perempuan keturunan Tionghoa tersebut.
Kelebihan dari olahraga ini adalah menjaga kebersamaan, kekompakan, sekaligus melatih kedisiplinan. "Kalau tidak disiplin kita susah nangkap gerakannya," ujarnya.
Melakukan gerakan line dance minimal dimainkan oleh 10 orang. Semakin banyak yang memainkan akan terlihat semakin bagus. "Minimal 10 orang yang penting keseragaman gerakan tangan dan kaki, kalau cuma berdua mending cha-cha pasangan," ujarnya dengan ramah.
Line dance bukan sekadar olahraga biasa, melainkan sarat dengan unsur seni. Namun, ia menyayangkan masih sedikit generasi muda yang tertarik pada line dance. Saat ini peminat line dance lebih didominasi mereka yang berusia di atas 40 tahun.
Line dance mulai dikenal di Amerika pada 1800-an. Para penarinya menari bersama dalam bentuk barisan dengan diiringi musik country. Tapi, belakangan line dance berevolusi dan tidak hanya memakai lagu-lagu country. Hampir semua jenis musik bisa dikombinasikan dengan gerakan line dance. Gerakannya juga makin beragam dan mengombinasikan berbagai gerakan dansa.
Line dance diperkenalkan di Indonesia pada 2008 oleh The Universal Line Dance (d'ULD). Indonesia yang kaya dengan tarian tradisional sangat mendukung pengembangan line dance.