Berat Anak Tidak Naik, Indikasi Gizi Buruk

Gizi buruk. lagizi.com

BANDAR LAMPUNG -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Lampung mencatat kasus balita dengan gizi buruk di Lampung dalam kurun waktu 4 tahun terakhir turun, yaitu 134 kasus pada 2013 turun menjadi 127 kasus (2014), 114 kasus (2015), dan hingga 30 Desember 2016 jumlah kasus gizi buruk di Lampung tercatat sebanyak 86 kasus.
Sebaran kasus gizi buruk sepanjang 2016 masih terjadi di seluruh kabupaten/kota di Lampung. Kasus terbanyak terjadi di Lampung Timur yaitu 15 kasus disusul 14 kasus di Tulangbawang Barat, dan 12 kasus di Lampung Utara. Sementara itu, 7 kasus gizi buruk terjadi di Tulangbawang, 6 kasus di Pesisir Barat, masing-masing 5 kasus di Lampung Selatan, Lampung Timur, dan Kota Metro. Di Bandar Lampung, Pringsewu dan Way Kanan ditemukan masing-masing 3 kasus anak balita dengan gizi buruk.
Kabupaten dengan kasus anak balita dengan gizi buruk terendah sepanjang 2016 terjadi di Kabupaten Lampung Barat, yaitu 2 kasus serta di Kabupaten Mesuji, Pesawaran, dan Tanggamus yang hanya ditemukan 1 kasus.
Humas Dinkes Lampung, Asih Hendrastuti menyebut kasus gizi buruk pada balita bukanlah disebabkan murni karena kekurangan asupan pangan, melainkan biasanya terjadi karena seorang balita juga memiliki penyakit penyerta. “Kecenderungan bayi yang mengalami gizi buruk sdalah bayi yang memiliki penyakit penyerta, sehingga harus segera dilakukan pengobatan,” ujarnya sata diwawancarai Lampung Post, Jumat (30/12/2016).
Beberapa penyakit yang kerap menjadi penyerta pada kasus gizi buruk di antaranya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang terjadi berulang ulang pada balita, infeksi tuberkulosis (TB), bronkopneumonia, kelainan jantung, hidrocephalus hingga down syndrom.
Untuk mencegah gizi buruk pada balita, menurut Asih, deteksi tumbuh kembang balita sangat diperlukan. Caranya dengan rutin menimbang balita setiap bulan di posyandu. Cara mudah yang dapat diamati orang tua apakah anak balitanya mengalami gizi buruk adalah dengan melihat kenaikan berat badan sang anak. Jika selama dua bulan berturut-turut tidak terjadi kenaikan berat badan pada balita, anak tersebut dapat dipastikan mengalami gizi buruk.
Hal tersebut, menurut Asih, akan langsung terlihat pada perbandingan antra usia dan berat badan bayi yang tercatat di kartu menuju sehat (KMS) yang menunjukan garis tumbuh kembang anak di bawah garis merah.
“Harus segera dikonsultasikan kepada petugas kesehatan setempat untuk memastikan apakah balita tersebut masih dianggap normal, gizi buruk ataupun gizi kurang,” tutur Asih.
Setelah pendeteksin awal tersebut, menurut Asih, petugas kesehatan dan orang tua disarankan segera mengintervensi gizi pada anak. Intervensi gizi dapat dilakukan tim puskesmas dengan formula gizi khusus selama tiga pekan. Bila status balita sudah masuk ke gizi kurang, intervensi dilakukan dengan memberikan pemberian makanan tambahan (PMT) gizi kurang yang akan diberikan selama 90 hari. Bila belum ada perbaikan, formula khusus akan diberikan tiga pekan kembali.

Persebaran Kasus Balita Gizi Buruk Tahun 2016

1. Lampung Timur (15 kasus)

2. Tulangbawang Barat (14 kasus)

3. Lampung Utara (12 kasus).

4. Tulangbawang (7 kasus)

5. Pesisir Barat (6 Kasus)

6. Lampung Selatan (5 kasus)

7. Lampung Timur (5 kasus)

8. Kota Metro (5 kasus)

9. Bandar Lampung (3 kasus)

10. Pringsewu (3 kasus)

11. Waykanan (3 kasus)

12. Lampung Barat (2 kasus)

13. Mesuji (1 kasus)

14. Pesawaran (1 kasus)

15. Tanggamus (1 kasus)

Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Lampung 2016.