Berdoa dalam Puisi

Berdoa (Ilustrasi)

MUNGKIN tidak ada yang lebih khusyuk dari ibadah dan doa. Dalam ibadah kedudukannya seperti roh/jiwa dalam tubuh manusia sehingga ibadah yang dilakukan tanpa khusyuk adalah ibarat tubuh tanpa jasad. Demikian pula doa. Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara lembut.

Kadang sebuah doa menjelma dalam puisi, sebuah puisi menjelma doa. Banyak doa berkelindan dalam puisi-puisi. Sebab, seperti halnya puisi, doa adalah perantara. Doa adalah penghubung pendoa dengan Tuhan, orang tua, kekasih, dan orang lain. Doa melipat jarak. Doa kadang dapat kita ibaratkan seperti pak pos yang setia mengantarkan pengharapan, syukur, rindu, bahagia, sendu, bahkan kematian. Kita hidup dalam doa-doa. Demikianlah pula penyair ketika sedang berdoa, menasbihkan semesta lewat puisi-puisinya.

Seperti halnya doa, puisi pun adalah medium. Setidaknya itu yang dipercayai penyair Sapardi Djoko Damono dalam prosanya, Hujan Bulan Juni (2015), yang juga merupakan gubahan puisinya. “Puisi itu medium dan medium itu dukun,” bisik Sawono, tokoh dalam novel tersebut. Kita mudah menduga, pandangan Sapardi mengenai puisi seperti termanifestasi dalam diri tokoh Sarwono–yang juga dikisahkan sebagai seorang penyair.
Sarwono percaya kalau manusia yang sama-sama masih hidup bisa berkomunikasi tanpa harus bertatap muka. Dalam kerinduan yang melelahkan hati, ia percaya puisi adalah doa yang dapat menghubungkan perasaannya dengan kekasihnya, Pingkan. Ia yakin puisi yang ia tulis akan sampai ke tambatan hatinya. Meskipun kemudian, pembaca akan menyadari puisi yang ditulis oleh Sarwono tersebut layaknya medium, seperti pesan perpisahan.
Dalam puisinya Tiga Sajak Kecil, Sarwono berfirasat, kita tidak akan pernah bertemu:
/aku dalam dirimu/tiadakah pilihan/kecuali di situ?/kau terpencil dalam diriku.
Sama halnya Sarwono, Sapardi memang kerap “berdoa” dalam puisi-puisinya. Ia dikenal sebagai Penyair Hujan lantaran koleksi puisinya tentang hujan, seperti: hujan turun sepanjang jalan, di beranda waktu hujan, percakapan malam hujan, kuhentikan hujan, dan sihir hujan. Bukan hanya Sapardi, banyak penyair mengubah puisi tentang hujan. Momen hujan turun kerap diasosiasikan melahirkan suasana transendental. Kita menyangka dalam hujan para penyair berdoa lewat puisinya.

Memeluk Sebuah Doa
Adalah Joko Pinurbo (Jokpin) yang menyebut Sapardi sebagai Penyair Hujan. Dalam puisi Kepada Penyair Hujan (1999), Jokpin menulis: Hujan yang riang, yang melenyap pelan/dengan derainya yang bersih/makin lama makin lirih dan akhirnya lengang. Puisi tersebut memang ditujukan untuk SSD. Mungkin puisi menjadi doa dari Jokpin kepada Sapardi sebagai kawan sesama pengubah sajak. Persis seperti di akhir puisinya: Musafir itu bikin unggun di atas sajakmu/aku akan menemaninya.
Banyak puisi-puisi yang memang sengaja ditulis untuk ditujukan khusus kepada seseorang. Para penyair senang berbalas puisi. Para penyair kerap saling bertemu lewat puisi di kolom sastra koran Minggu. Puisi dapat menjelma metafora tentang pertemuan dan perpisahan. Dengan kata lain, puisi identik dengan doa. Termasuk penyair, seseorang yang religius menjalankan ritus berdoa agar dapat bertemu dengan Tuhannya. Doa menjadi perantara seorang pemeluk agama untuk dapat memeluk Tuhannya. Sebuah doa kerap dipanjatkan lewat tebaran kata-kata indah dan syahdu. Para pemeluk agama percaya, Tuhan akan memeluk sebuah doa yang puitis. Tidak terkecuali para penyair.
Banyak sekali bertebaran puisi yang bertajuk Doa. Namun, mungkin puisi dengan judul Doa yang paling mengena bagi pembaca sastra kita adalah milik Chairil Anwar:
Kepada pemeluk teguh/Tuhanku/Dalam termangu/Aku masih menyebut namaMu/Biar susah sungguh/mengingat Kau penuh seluruh/cayaMu panas suci/tinggal kerlip lilin di kelam sunyi/Tuhanku/aku hilang bentuk/remuk.
Doa (1943) sejauh ini dianggap sebagai salah satu puisi Chairil Anwar paling penting. Dalam puisi Doa, Chairil tampak berusaha untuk menyatu dan pasrah total. Sang “aku” bersimpuh di hadapan Tuhan dengan cara berpasrah diri. Ada salah satu puisi Wiji Thukul dalam kumpulan puisi Nyanyian Akar Rumput (2014) yang kerap disandingkan dengan puisi Doa Chairil tersebut. Dalam sebuah puisi yang judulnya cukup panjang, Aku Dilahirkan di Sebuah Pesta yang Tidak Pernah Selesai, Thukul menulis:
“…. Selalu saja ada yang datang dan pergi hari ini/ ada bunga putih dan ungu dekat jendela/ di mana mereka dapat/ memandang dan merasakan kesedihan dan kebahagiaan/ tidak ada menjadi miliknya/ Tuhanku, aku terluka dalam keindahanmu.
Ada kemiripan sekaligus perbedaan dalam larik terakhir kedua sajak tersebut. Apabila Chairil tampak mengaduh: Tuhanku aku hilang bentuk-remuk, sementara Thukul mengungkapkan rasa kecewa dan sakitnya di hadapan Tuhan: Tuhanku, aku terluka dalam keindahanmu. Meskipun demikian, baik Chairil maupun Thukul sama-sama menciptakan hubungan kedekatan antara “aku” pendoa dan Tuhannya, dalam bentuk ketidakberdayaan, kepasrahan, dan ketertundukan seorang hamba kepada Tuhannya. Berbeda misalnya dengan apa yang disuguhkan seorang Jokpin dalam puisinya Pemeluk Agama.
Dalam doaku yang khusyuk/Tuhan bertanya kepadaku./hambanya yang serius ini,/“Halo kamu seorang pemeluk agama?”/“Sungguh saya pemeluk teguh, Tuhan”/“Lho Teguh si tukang bakso itu”/hidupnya lebih oke dari kamu,/gak perlu kamu peluk-peluk.
Dalam puisinya Jokpin, terasa hubungan antara hamba dan Tuhan memang berlangsung sangat hangat, akrab, bahkan lucu. Entah Jokpin sengaja atau tidak, kita akan mendapati teguh dalam puisinya Jokpin berbeda sekali dengan teguh dalam puisinya Chairil. Mungkin Chairil maupun Wiji Thukul tidak pernah membayangkan, Tuhan dan pemeluknya saling guyonan?
“Benar kamu seorang pemeluk?”/“Sungguh, saya belum memeluk, Tuhan.”/Tuhan memelukku dan berkata,/“Doamu tidak akan cukup. Pergilah/ Dan wartakanlah pelukanKu./Agama sedang kedinginan dan kesepian./Dia merindukan pelukanmu.”
Puisi Jokpin mungkin dengan mudah akan mengantarkan kita teringat dengan cerita pendek AA Navis, Robohnya Surau Kami (1986). Jokpin maupun AA Navis sama-sama berpandangan bahwa memeluk Tuhan tidak cukup hanya dengan “teguh” berdoa. Puisi Jokpin menohok kita dengan sebuah pertanyaan bernas: Benarkah kamu seorang pemeluk? Maka kita patut bersyukur telah diingatkan oleh penyair lewat puisi-puisi. Dalam puisi para penyair berdoa, dan dalam doa para penyair berpuisi. Mungkin kita pun perlu mendoakan para penyair? n

------------------------