Bikin Film Sendiri Lebih Seru!

Muhammad Burhan dan Lutfi Yulisa berkarya lewat film dan mendapat prestasidi kancah nasional. (Foto:Lampost)

MASIH rajin antre tiket bioskop dan enggak pengin ketinggalan menonton film keluaran terbaru? Saat industri perfilman semakin maju, menonton film saja enggak cukup, guys! Banyak anak-anak muda yang kini mulai menekuni bidang perfilman.

Menyalurkan ide-ide yang mereka punya menjadi sebuah film yang keren. Hasilnya beragam film karya anak-anak negeri pun kini semakin bermunculan dan wajib diapresiasi dengan cara menontonnya.

Prestasi di bidang perfilman baru-baru ini diraih dua anak muda Lampung, Muhammad Burhan dan Lutfi Yulisa. Film karya dua sahabat Muda ini berhasil menjadi juara favorit dalam ajang Eagle Award Documentary Competition 2016. Keduanya menggarap sebuah film berjudul Sketsa Dua Kisah yang berkisah tentang orang-orang dengan HIV/AIDS di Lampung. Menurut Burhan, jika biasanya ia hanya dapat menonton film hasil karya orang lain, pengalaman membuat film jauh lebih seru dari sekadar menonton film.

Proses pembuatan film yang tidak mudah justru menjadi hal yang paling seru. Jauh berbeda dengan keseruan menonton film di bioskop sambil duduk manis dan ngemil popcorn lo. "Menulis skenario hingga berlarut-larut supaya jalan cerita yang keren, pengambilan gambar di lapangan, dan diskusi bareng kru itu hal yang paling seru," ujar Burhan, saat diwawancarai, Jumat (27/1/2017).

Membuat sebuah film bukan dilakukan karena seru atau tidak seru, melainkan bagaimana ide-ide cerita atau pesan dari film karyanya tersebut bisa tersampaikan kepada penonton. Mendapatkan kesempatan untuk belajar membuat film di Eagle Institute Indonesia bagi Burhan adalah sebuah pengalaman yang luar biasa yang bisa ia rasakan.

Karena tidak banyak orang yang mendapatkan kesempatan yang sama. "Tidak akan terlupakan deh," kata dia.

Selain kreativitas sebagai anak muda yang dapat tersalurkan melalui media film, dari kesempatan tersebut Burhan mengaku mendapatkan banyak ilmu perfilman dari orang-orang yang luar biasa hebat di bidangnya. Mulai dari sutradara, editor, hingga videografer.

Menurut Lutfi Yulisa, membuat film adalah sebuah proses yang mengasyikkan karena ia secara langsung berinteraksi dengan banyak orang untuk dapat mentransfer sebuah ide menjadi karya audio visual yang menarik. Hal seru lainnya adalah ketika seorang sutradara melakukan pendekatan dengan para aktor sekaligus narasumber karena yang digarapnya adalah sebuah film dokumenter.

Meski baru pertama kali terlibat membuat sebuah film, dia sangat bangga dan tidak menyangka sebelumnya jika film karya mereka berdua terpilih menjadi film terfavorit dari pilihan penonton. Selain mendapatkan penghargaan, hal penting dari membuat film adalah karyanya tersebut memberi dampak kepada masyarakat, khususnya yang telah menonton.

* Enggak Kalah Keren

Di tengah banyaknya film-film baru, menurut Burhan, film-film karya sineas Indonesia saat ini tidaklah kalah keren dengan film karya sutradara luar negeri. Walaupun secara teknologi ia mengakui perfilman indonesia masih tertinggal. Namun, ide-ide film indonesia yang disuguhkan sangat menarik.

Bahkan, akhir-akhir ini banyak film Indonesia, terutama di layar lebar, yang jumlah penontonnya menembus rekor baru dan sudah go international, baik itu film bergenre komedi, horor, action maupun drama. Seperti film bertema sejarah yang kini cukup dinikmati para penonton, salah satunya film berjudul Istirahatlah.

Kata-kata yang mengangkat sosok Wiji Thukul yang dikenal kritis pada masa reformasi tahun 1996?1998 yang membuatnya menjadi buronan pemerintah.

Agar perfilman Indonesia semakin maju, menurut Burhan, keberadaan komunitas anak-anak muda yang menggeluti film, serta dukungan fasilitas dan teknologi sangat memungkinkan karya-karya film yang keren dapat diciptakan anak-anak muda Lampung. "Dengan berkomunitas kita bisa saling sharing ide-ide kreatif membuat film sehingga memperkaya wawasan si pembuat film, karena dari ide yang kreatif dan unik akan menghasilkan sebuah film yang juga berkualitas dan mampu bersaing," kata dia.

Menurut Burhan, jika masih banyak anak Indonesia yang lebih suka film luar negeri tidaklah salah, hal ini mungkin menunjukkan film luar negeri mempunyai kualitas lebih dari film Indonesia. Namun, kita juga harus tetap menghargai buah karya anak bangsa sendiri, minimal dengan menontonnya.

Sementara bagi Lutfy, mendukung film dalam negeri justru harus dilakukan anak-anak muda dengan ikut membuat karya film. "Apalagi sih yang lebih penting untuk kawula muda selain terus menghasilkan karya-karya keren, baik di bidang film, nulis, atau yang lainnya, untuk berkreasi," kata dia.