Biksu Buddha Nekat Bakar Diri Protes Perbudakan Seks

Patung perunggu simbol perbudakan seks di Konsulat Jepang di Busan, Korsel (Foto: AFP)

Seoul -- Seorang biksu Buddha asal Korea Selatan (Korsel) berada dalam kondisi kritis setelah membakar diri. Aksinya itu demi memprotes kesepakatan Korsel dengan Jepang mengenai kompensasi perbudakan seks di masa Perang Dunia II.

Biarawan 64 tahun tersebut menderita luka bakar tingkat tiga di sekujur tubuhnya dan kerusakan serius pada organ-organ vital.

"Dia tidak sadar dan tidak mampu bernapas," kata seorang pejabat dari Seoul National University Hospital, yang tidak mau disebutkan namanya seraya mengutip aturan kantor.

"Pria itu sengaja membakar diri dalam unjuk rasa besar-besaran di Seoul menyerukan penggulingan Presiden yang telah dimakzulkan Park Geun-hye," kata polisi seperti dikutip Daily Mail dari laporan Associated Press, Senin (9/1/2017).

Dalam buku catatannya, polisi menemukan biksu itu menyebut Park "pengkhianat" atas kesepakatan pemerintahnya dengan Jepang pada 2015 yang berusaha untuk menyelesaikan perseteruan panjang mengenai para wanita Korsel yang dipaksa menjadi budak seks oleh militer Jepang dalam Perang Dunia II.

Berdasarkan perjanjian tersebut, Jepang berjanji buat mendanai yayasan berbasis di Seoul yang didirikan untuk membantu para korban. Korsel, dalam ikatan tersebut, bersumpah menahan diri dari mengkritik Jepang atas masalah tersebut dan mencoba untuk menyelesaikan pengaduan Jepang soal patung perunggu yang menggambarkan budak seks masa perang di depan kedutaan besarnya di Seoul.

Perjanjian tersebut sejauh ini mendatangkan masalah emosional. Kesepakatan itu terus dikritik di Korsel karena dicapai tanpa persetujuan dari para korban. Para mahasiswa sudah menggelar protes duduk di sebelah patung itu di Seoul selama lebih dari satu tahun karena khawatir pemerintah mencoba untuk memindahkannya.

Pada Jumat, pemerintah Jepang bereaksi dengan marah atas penempatan patung yang sama di depan konsulat di kota Busan, mengumumkan penarikan duta besarnya dari Korsel, dan menunda pembicaraan ekonomi.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe juga mendesak Korsel agar memindahkan patung itu dan melaksanakan perjanjian 2015.

"Kami telah saling mengkonfirmasi bahwa inilah kesepakatan final dan tidak dapat diubah. Jepang sudah ikhlas memenuhi kewajibannya," kata Abe dalam acara bincang-bincang di NHK, yang disiarkan, Minggu. Dia katakan bahwa Jepang sudah membayar 1 miliar Yen (USD8,5 juta) sebagai kompensasi.

"Selanjutnya, saya pikir Korsel harus tegas menunjukkan ketulusannya," katanya, sembari menambahkan bahwa perjanjian harus dilaksanakan terlepas dari perubahan kepemimpinan sebagai "urusan kredibilitas."

Pada saat kesepakatan itu, Seoul mengatakan, ada 46 korban warga Korsel yang masih hidup.