Brigadir Medi Menangis Lihat Gambar Potongan Tubuh Pansor

Terdakwa Medi Andika menangis saat ditunjukan barang bukti berupa foto-foto potongan bagian kepala anggota DPRD Kota Bandar Lampung M Pansor. (Foto:Dok.Lampost)

BANDAR LAMPUNG--Terdakwa Medi Andika menangis saat ditunjukan barang bukti berupa foto-foto potongan bagian kepala anggota DPRD Kota Bandar Lampung M Pansor dalam sidang lanjutan dengan agenda keterangan terdakwa di PN Tanjungkarang, Selasa (7/3/2017).
Terdakwa yang sempat memberi keterangan berbeli-belit lantaran tidak mengakui perbuatannya sehingga membuat majelis Hakim geram. Terdakwa mengaku mengenal korban sejak delapan tahun lalu. Kemudian Medi menjelaskan saat mendengar berita penemuan mayat itu, ia langsung membantu mencari informasi keberadaan mayat korban tersebut.
Ketika ditanya apakah anda turut serta dalam kasus pembunuhan ini? Terdakwa hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan majelis Hakim. Lalu, Hakim anggota Yus Enidar sempat memperingati kepada terdakwa agar dapat terus terang saat memberikan keterangan.
Kenapa hanya diam? Kemudian majelis Hakim Yus Enidar, kembari berucap "saya thau kamu tertekan dengan kondisi ini jadi silahkan kamu berterus terang apakah kamu ada hubungan dengan potongan kepala korban itu?" Lalu terdakwa hanya menganggukkan kepalanya sembaru menangis terdakwa menjawab, "Iya bu, saat tertekan dengan keadaan saat ini," kata Medi.
Selain itu terdakwa membenarkan jika ada hubungan emosional antara dirinya dengan korban. Tidak hanya itu, Medi berkali-kali sempat terdiam saat beberapa kali melihat barang bukti berupa gambar potongan kepala korban yang diajukan ke persidangan.
Bahkan Medi juga sempat menangis ketika ditanya tanganmukah yang memotong kepala Pansor? Medi terdiam lagi sambil menghapus air mata.
Medi mengaku ada hubungannya dengan potongan kepala Pansor itu, Kemudian saat kembali ditanya apakah masih bergerak ketika tubuh Pansor dipotong? Medi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Silakan siapkan saksi yang meringankan untuk sidang berikutnya dan saksi tersebut harus disumpah. Dari keterangan anda ini kami akan mempertimbangkannya nanti," kata Majelis Hakim.
Usai persidangan, keluarga korban yang geram menyaksikan persidang itu, langsung menunggu didepan ruang sidang sambil menjerit histeris serta menunjuk-nujuk dan berkata kasar terhadap Medi.
Sopian Sitepu, penasihat hukum terdakwa Medi Andika, mengatakan keberatan pada kebutusan hakim, karna pada dasarnya ada bukti atau ada bahan yang diberikan penyidik dari Polri yang tidak di muka umum, di mana di persidangan harus terbuka dan harus seimbang.