Bukan Ronda Setengah Hati

Ilustrasi ronda malam. rt4jomblangan.files.wordpress.com

MENCIPTAKAN lingkungan aman adalah tugas kita bersama. Secara kelembagaan, tugas pengamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah diletakkan di bahu aparat kepolisian dan TNI. Namun, untuk keamanan lingkungan adalah tanggung jawab seluruh anak bangsa.
Untuk menjaga keamanan lingkungan ini, masyarakat telah lama mengenal sistem keamanan lingkungan (siskamling) melalui ronda. Ronda atau patroli keliling menjaga keamanan kampung biasanya dilakukan warga dengan membentuk kelompok yang bertugas bergantian setiap malam.
Program ronda terlahir atas kesadaran rakyat untuk bersama-sama mencegah berbagai ancaman dan gangguan keamanan dan ketertiban. Kegiatan ini pula mencerminkan kearifan lokal budaya Nusantara, terutama semangat bergotong royong menjaga keamanan.
Ronda pun menjadi program pilihan kepala daerah menjaga wilayahnya. Bupati Lampung Tengah Mustafa, misalnya, memilih ronda sebagai langkah efektif meningkatkan kondusivitas dan stabilitas daerahnya. Terbukti, angka kriminalitas di kabupaten termasuk rawan itu dapat ditekan hingga berkurang 70%.
Ronda pun menjadi wadah menjaring aspirasi warga. Melihat keberhasilan program ronda di Lampung Tengah ini, Kapolda Lampung Irjen Sudjarno pun menjadikan ronda sebagai program Polda Lampung pada 2017 ini. Kapolda pun akan mengolaborasi ronda dengan patroli malam aparat kepolisian.
Pemilihan program ronda ini karena dianggap sebagai langkah paling efektif untuk pencegahan. Lebih-lebih, Polri saat ini berupaya mengedepankan langkah preventif dalam menekan angka kejahatan ketimbang penindakan. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati.
Penyakit masyarakat sudah semestinya dicegah dari tingkat lingkungan terdekatnya. Program ronda diyakini bisa mencegah aneka penyakit masyarakat ini. Mengingat angka kriminalitas di Lampung yang terus meningkat setiap tahunnya, upaya-upaya pencegahan memang amat dibutuhkan.
Data Polda Lampung, tingkat kriminalitas di Tanah Lada menembus 8.000 hingga 10 ribu kasus setiap tahunnya. Tahun 2013 sebanyak 9.500 kasus, 2014 (10.007 kasus), 2015 (8.900 kasus). Belum lagi potensi konflik sosial mengingat heterogennya penduduk di provinsi ujung Sumatera ini.
Pemilihan program ronda untuk menekan angka kriminalitas harus didukung seluruh daerah. Polda pun akan menerapkan program kolaborasi ronda dan patroli keamanan ini di seluruh polres di Lampung. Kegiatan ronda yang juga merupakan warisan budaya seharusnya sudah menjadi kesadaran warga.
Kolaborasi ronda dan patroli kepolisian juga bisa membangun kedekatan aparat keamanan dengan masyarakat sehingga polisi tidak lagi menjadi sosok yang ditakutkan warga, tapi sebagai partner kerja dalam menciptakan keamanan dan ketertiban.
Namun, perlu kita ingatkan, program ronda tidak boleh setengah hati alias hanya hangat di permulaan, tapi surut di kemudian hari. Sebab, seperti yang sudah-sudah, imbauan ronda hanya gencar saat pilkada atau tertangkapnya kelompok teroris di indekos milik warga, setelah itu meredup lagi. n