Buku 25 Tahun Rekam Jejak Lampung Barat Diluncurkan

Suasana peluncuran buku "Secangkir Kopi Bumi Sekala Brak, Jejak Langkah 25 Tahun Kebangunan Lampung Barat" di Ballroom Hotel Emersia, Bandar Lampung, Sabtu (18/3/2017) . Lampung Post/Ikhsan Dwi Nur Satrio

BANDAR LAMPUNG -- Kemajuan pembangunan Kabupaten Lampung Barat sebagai penghasil kopi terbesar di Lampung terekam dalam buku "Secangkir Kopi Bumi Sekala Brak, Jejak Langkah 25 Tahun Kebangunan Lampung Barat" yang diluncurkan Sabtu (18/3/2017) di Ballroom Hotel Emersia, Bandar Lampung.
Peluncuran buku itu dihadiri Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri sebagai pencetus buku, Wakil Bupati Pesisir Barat Erlina, Ketua DPRD Lampung Dedi Afrizal, Perdana Menteri Kerajaan Sekala Bkhak Ike Edwin, Pemimpin Redaksi Lampung Post Iskandar Zulkarnain, dan Dewan Redaksi Media Group Bambang Eka Wijaya.
Mukhlis Basri menuturkan buku tersebut disusun dalam rangka ulang tahun ke-25 Kabupaten Lampung Barat. Peluncuran buku sempat tertunda karena pelaksanaan pilkada pada Februari 2017 lalu. Selain memaparkan Lambar sebagai penghasil kopi terbesar di Lampung, buku tersebut juga menceritakan sejarah kebangkitan Lambar pascagempa bumi 1994.
Dalam pembangunannya, kata Mukhlis, Lampung Barat memiliki tantangan tersendiri dengan kondisi geografis yang terletak di daerah rawan gempa. Kondisi tersebut membuat pembangunan Lampung Barat memerlukan anggaran yang lebih besar.
"Kami harus mempertimbangkan ketahanan gempa jika biasanya hanya memerlukan anggaran Rp10 miliar, dengan pertimbangan gempa itu kami bisa mengeluarkan anggaran mencapai Rp15 miliar," kata dia.
Selain itu, Lampung Barat juga memiliki kendala lainnya, yaitu anggaran belanja daerah yang masih kecil, karena pemasukan daerahnya yang minim. Hal itu disebabkan tidak adanya perusahaan besar yang berinvestasi di daerah tersebut di tengah banyak potensi yang dapat dieksplorasi, salah satunya panas bumi.
Ike Edwin mengatakan Lambar membutuhkan dukungan investor, pengusaha, dan pemerintah untuk meningkatkan produksi kopinya. Saat ini produksi kopi Lambar 1.200 kg/ha. Jumlah itu sudah meningkat dibandingkan sebelumnya 900 kg/ha.
"Kopi robusta adalah bagian dari cerita yang tak terpisahkan dari kehidupan Lampung Barat," ujarnya.
Pemimpin Redaksi Lampung Post Iskandar Zulkarnain mengatakan buku yang digarap Lampung Post Publishing tersebut merupakan hasil kerja keras jurnalis untuk mendokumentasikan sejarah yang tersebar di Lampung Barat.
"Mudah-mudahan buku ini bisa menjadi bacaan generasi penerus, terutama kaum muda, untuk melihat dan memberi kontribusi yang terbaik seperti para pemimpin pendahulunya," kata Iskandar.