Bumi Terbelah

Ilustrasi akibat gempa bumi. 2.bp.blogspot.com

TANAH Rencong kembali terbelah. Menjelang 12 tahun peringatan gempa dan tsunami superhebat di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Rabu (7/12/2016), gempa berkekuatan 6,4 pada skala Richter (SR) kembali mengguncang. Tak satu pun kekuatan mampu menahan bencana subuh itu. Yang tersisa hanyalah tangisan pilu. Ratusan korban jiwa berjatuhan, jalan retak, rumah dan gedung rata dengan tanah. Sungguh menyedihkan!

Bencana yang didahului suara dentuman pagi buta itu, tak sehebat gempa yang terjadi di Aceh juga pada Minggu, 26 Desember 2004. Berkekuatan 9,3 SR pada kedalaman 10 km lepas pantai barat Aceh, Bumi Serambi Mekah bergoyang seperti beras dalam ayakan. Tak berapa lama, gelombang besar—tsunami—menyapu bersih kehidupan di pantai kawasan Samudera Hindia. Aceh luluh lantak dibuatnya. Tak ada yang menyangka, pagi yang cerah itu berubah mencekam.

Dalam tayangan video amatir. Tak henti-hentinya warga menyebut Asma Allah melihat ganasnya air laut menggulung apa yang ada di depannya. Tak kurang 230 ribu nyawa manusia melayang sekejap mata. Sedikitnya 37 ribu orang dinyatakan hilang. Belum lagi ratusan ribu tempat tinggal hilang tanpa bekas disapu habis oleh ombak besar.

Menyaksikan keganasan bencana, dalam dan luar negeri mengirim bantuan kemanusiaan agar penduduk Aceh segera keluar dari penderitaan. Gempa terhebat dalam sejarah bangsa ini, menyentuh ribuan hati sukarelawan, baik sipil maupun militer, untuk segera datang ke Aceh. Dunia internasional mengerahkan peralatan supercanggih untuk mengangkat puing-puing.

Mereka bekerja tidak mengenal lelah. Ratusan mayat membusuk yang tergeletak berminggu-minggu dimakamkan dalam satu kuburan massal. Semua kekuatan dan energi bangsa ini tercurah demi Aceh. Tanah Serambi Mekah adalah simbol kebangsaan. Peristiwa mahadahsyat itu menyatukan kembali anak bangsa dari berbagai kepentingan. Tak ada lagi yang bicara suku, agama, etnis, atau golongan. Hanya ada satu kalimat: menolong dan menyelamatkan Aceh dari keterpurukan.

Dalam hitungan hari, bantuan kemanusiaan mengalir. Dana digalang di mana-mana. Doa untuk Aceh tak putus-putus agar mereka diberikan kekuatan menghadapinya. Badai pun berlalu. Solidaritas kebangsaan yang mengikatnya. Tak ada lagi perbedaan. Gempa dan tsunami Aceh ternyata mampu menciptakan rasa keharmonian yang indah.

Dan bencana alam Pidie, Rabu lalu itu, akankah mengulangi kesuksesan aksi solidaritas gempa tahun 2004? Korban sudah menyentuh angka 100 orang tewas. Mampukah mengetuk hati massa aksi damai 212 dan 412 di Ibu Kota, pada pekan lalu. Anak bangsa yang menggetarkan bumi Jakarta itu, akankah mampu membantu Aceh keluar dari penderitaan? ***

Tanah longsor, banjir di mana-mana, juga gempa bumi di negeri ini sebuah pertanda alam. Ebiet G Ade mengingatkan kita dalam lagunya berjudul Untuk Kita Renungkan. Bangsa ini pantas untuk bertobat. Kata Ebiet, anugerah bencana adalah kehendak-Nya agar kita sadar.

Hutan yang mengeluarkan asap panas membakar. Gunung memuntahkan lahar dan badai menyapu bersih bumi ini. Jika sudah datang bencana itu tadi, tak ada lagi tempat bersembunyi. Tapi Ebiet kembali mengingatkan agar manusia segera bersujud pada Sang Pencipta.

Gempa Pidie adalah momentum bangsa ini bersatu dan kembali membela korban gempa. Jika anak bangsa di negeri ini mampu bersatu mengawal kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, harusnya kerusakan akibat gempa bisa diatasi tanpa harus menunggu perintah. Digambarkan seperti semut bersatu membangun gundukan tempat sarangnya terbuat dari tanah dan pasir.

Mengetuk hati nurani, bersatu kembali anak bangsa membangun Pidie, sebuah harapan. Rakyat Aceh menunggu belas kasihan dan uluran tangan! Gempa itu, menurut ahli dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), menyebutkan bencana Pidie setara dengan kekuatan empat hingga enam kali bom di Hiroshima.

Mampukah rasa kebangsaan dari Pidie bisa menyatukan bangsa ini yang pernah nyaris terbelah akibat kasus penistaan agama? Jawabnya, mampu dan bisa! Tsunami yang pernah membunuh kehidupan di Aceh, ternyata membawa hikmah perdamaian. Rakyat Aceh yang dinilai keras, melunak—menyetujui isi perjanjian damai yang diteken di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005.

Tak ada lagi yang perlu diperebutkan di Aceh. Ikrar setia Helsinki mampu mengakhiri konflik bersenjata, saling bunuh sesama saudara. Perjanjian Helsinki merajut Aceh kembali bangkit untuk setia kepada negeri ini dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dari Helsinki-lah, Aceh tak sendiri lagi memperbaiki daerahnya akibat gempa Desember 2004. Sungguh indah damai itu. Aceh sangat terbantu dan merasakannya.

Belajar dari banyaknya gempa yang membelah bumi ini, saatnya peta dan informasi kegempaan harus di-update sehingga publik menerima informasi terkini, termasuk faktor kebencanaannya. Ilmu tentang bencana alam serta infrastruktur yang kokoh dibangun adalah harapan. Karena sebagian besar negeri ini dikelilingi oleh daerah rawan bencana alam. ***