Buta Emosi

Dian Wahyu Kusuma, wartawan Lampung Post

ILMU psikologi menjadi unik karena periset atau yang mendalami bidang ini saya pikir bisa menjadikan dirinya lebih baik dibanding yang kurang mempelajarinya. Lembaga ataupun perusahaan yang memiliki karyawan puluhan, ratusan, sampai ribuan, tentu harus memiliki manajer yang paham tentang psikologi karyawan.
Jika saya renungkan, pasti keluarga yang di dalamnya ada pembelajar psikologi bisa menyelesaikan masalah rumah tangga dengan bijak. Belajar psikologi saat ini selain pengalaman, kuliah, dan konsultasi, juga ada ribuan artikel di media maya.
Mengenai dunia maya, ada kabar terbaru yang layak diketahui. Periset Universitas Indonesia, Yunita Faela Nisa, serta UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Harry Susianto dan Roby Muhammad, merilis hasil penelitian yang menunjukkan berita yang mengandung emosi negatif atau marah akan lebih banyak dibagikan daripada berita dengan kandungan emosi positif. Hasil menunjukkan bahwa gairah tinggi yang dihasilkan oleh artikel tersebut dapat menjadi potensi artikel itu untuk dibagikan.
Yunita menggunakan 1.611 artikel berita selama periode 1 Mei sampai 31 Juli 2013. Tujuannya membuktikan bahwa pengaruh negatif dari konten berita dapat membuat artikel tersebut menyebar lebih cepat. Data artikel berasal dari portal berita daring Detik.com. Ia menilai artikel Detik.com merupakan artikel yang paling banyak dibagikan.
Pada studi lain, Yunita menggunakan metode yang bersifat eksperimental. Hal ini untuk menguji pengaruh isi berita yang membangkitkan kemarahan dan sifat alexithymia pada artikel berita yang dibagikan. Alexithymia diketahui sebagai kepribadian membangun yang ditandai dengan ketidakmampuan subklinis untuk mengidentifikasi dan menggambarkan emosi dalam diri.
"Individu yang menderita alexithymia biasanya memiliki kesulitan dalam menghargai dan membedakan emosi orang lain.”
Yunita menjelaskan orang yang menderita alexithymia cenderung merupakan individu yang terlalu logis, tidak sentimentil, dan kurang empati. Mereka ini kerap membuat keputusan berdasarkan prinsip ketimbang perasaan. Hal ini dikarenakan penderita tidak mampu untuk mengungkapkan perasaannya. Dalam bahasa awam, gangguan jiwa ini sering disebut sebagai buta emosi.
Sebaiknya kita musti berhati-hati ketika hendak mem-posting kabar buruk di media sosial. Sebuah artikel dapat menyebar cepat karena memiliki kandungan emosional yang tinggi. Pembelajar psikologi di setiap rumah mesti terbuka, jangan ada buta emosi antara anggota keluarga, karena organisasi terkecil di keluarga bukan? n