Cabai Neolib

D Widodo (Lampost.co)

SEMUA berawal dari selembar daging dengan panjang sekitar delapan sentimeter bernama lidah. Ini soal citarasa. Hampir sebagian besar orang suka pedas meskipun ada juga yang kurang suka.
Tidak pas menyantap makanan gurih tanpa ada pedas-pedasnya. Menikmati gorengan tanpa nyeplus cabai ibarat naik perahu karet di jalan layang. Aneh! Padahal, urusan rasa pedas ini sebenarnya hanya untuk memanjakan selembar daging delapan sentimeter itu.
Tanpa rasa pedas pun tidak akan mengurangi nilai gizi makanan yang masuk ke lambung. Malah, kalau terlalu pedas, bisa membuat mulas. Lidah manusia terkadang memang aneh. Sama seperti pare atau daun pepaya. Sudah tahu pahit, kok tetap dimakan.
Kecenderungan orang suka makanan pedas sering tidak didukung stok cabai yang mencukupi. Alam juga sering kurang bersahabat untuk pertumbuhan tanaman cabai. Maka, yang terjadi kemudian adalah lonjakan harga cabai di luar kewajaran. Di beberapa daerah, harga cabai rawit merah sudah tembus Rp160 ribu/kg, lebih tinggi dibandingkan harga daging sapi dan memicu inflasi.
Kekurangan stok cabai juga akibat modernisasi demi keindahan. Apabila setiap keluarga menanam 1—2 batang cabai di rumah, tentu harga bumbu pemedas itu tidak setinggi sekarang.
Zaman semakin modern. Penduduk yang punya sedikit lahan di sekitar rumah tidak lagi menanam cabai, apalagi lengkuas, jahe, dan kunyit, tetapi bunga-bungaan. Lihat kebunku penuh dengan bunga, mawar-melati semuanya indah. Ada harga yang harus dibayar ketika kita lebih mendahulukan keindahan dibandingkan soal rasa.
Gejolak harga cabai tidak lepas dari pantauan parlemen. Anggota DPR menuding kenaikan harga cabai merupakan bentuk kegagalan menteri pertanian karena telah mengubah program Nawacita menjadi program neoliberalisasi pangan. Waduh, isu harga cabai pun sampai menyeret-nyeret paham neolib.
Saat harga cabai tinggi ada yang meminta pemerintah melakukan operasi pasar. Langkah operasi pasar bisa saja dilakukan, tetapi tidak akan efektif menekan harga di seluruh daerah dalam jangka waktu lama. Andaipun impor, kapasitas dan produksi cabai di pasaran dunia tidak sebesar komoditas lain.
Pengusaha lebih tertarik menampung komoditas lain yang harganya relatif stabil seperti gandum, apel, anggur, atau daging. Semua sudah ada hitung-hitungannya, termasuk risiko fluktuasi harga, biaya gudang, dan prediksi laba maksimal.
Jika sampai hari ini harga cabai masih tinggi, ya sementara waktu pakai saus pedas dulu. Toh, tidak selamanya cabai itu mahal. Ini cuma distorsi di sisi suplai akibat perubahan cuaca, tidak sampailah ke urusan neolib. n