Cermin Buruk di Sawah Lama

Setop kekerasan dalam pendidikan. kompasiana.com

TAK disangka seorang guru begitu ringan tangannya memukul peserta didik, seperti hewan. Dibuktikan dengan tayangan dalam video berdurasi 1 menit 55 detik, seorang guru di SDN 4 Sawah Lama, Bandar Lampung, menampar delapan siswanya. Perbuatan pendidik ini mendapat kecaman publik. Dongkol, kesal, kasihan, prihatin setelah melihat tayangan video yang diunggah di media sosial dalam sepekan terakhir.

Masih banyak cara untuk mendidik—memotivasi siswa belajar tanpa kekerasan. Bangsa ini sangat lamban menyelesaikan persoalan. Semua dihitung dengan cita rasa politik dan hukum. Seperti halnya seorang kepala daerah yang diluruskan oleh publik karena kebijakannya salah; selalu ngedumel dikait-kaitkan politik. Alamak... Zaman sudah berubah, toh Mas!

Sekolah adalah harapan bangsa karena tempat agen dari perubahan sosial. Negeriku sebuah cermin retak yang dilakukan dalam rentang 30 tahun terakhir. Bangsa yang pernah dikagumi negara-negara Non-Blok, begitu banyak menghasilkan koruptor, provokator, dan otak penjahat. Mereka mempertontonkan kekerasannya. Anak bangsa saling sikat. Mengobarkan dendam kesumat. Itu, kini terjadi di mana-mana.

Harusnya kekerasan terhadap anak didik di SDN 4 Sawah Lama tidak perlu terjadi. Jika guru mengetahui hak dan kewajiban dalam mendidik siswa. Begitu juga sebaliknya, anak didik memiliki hak dan kewajiban. Pendidikan di sekolah amburadul, berarti negeri ini memang dalam kondisi amburadul. Guru harus mengembangkan kemampuan berempati, sabar dan mendidik dengan sepenuh hati. Ikhlas. Jadikan sekolah ramah anak.

Pepatah yang masih sangat melekat di masyarakat Indonesia; guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Begitu mendalam pepatah itu. Sekecil apa pun tindakan guru sangat membekas pada murid. Perlakuan seorang pendidik saat ini akan berimplikasi pada perilaku generasi mendatang. Sebuah keharusan manusia berakal, orang dewasa memberikan contoh nyata dan baik bagaimana menyelesaikan masalah siswa.

Janganlah malah memberikan yang contoh buruk dengan cara-cara kekerasan, seperti menampar dan mencubit, dilakukan sepanjang masa. Sikap ini memperburuk wajah pendidikan dari tahun ke tahun. Sudah seharusnya negeri ini memperbaiki sistem pendidikan dengan melibatkan orang tua agar siswa menjadi generasi yang tumbuh gemilang. Anak didik harusnya dijadikan kawan, bukan dijadikan lawan.

Guru yang cerdas adalah mereka yang lebih kreatif menumbuhkan minat belajar siswa. Guru yang malas selalu menjejali anak dengan berbagai jenis pelajaran dan memberinya hukuman. Perilaku seperti ini justru membuat jarak siswa. Guru harus memiliki keberanian melakukan perubahan cara berpikir anak sehingga sekolah menjadi tempat agen perubahan sosial. ***

Seorang pendiri pedagogi dari Negeri Paman Sam, Henry Giroux. Dia membedah pentingnya sebuah visi sosial yang egaliter dan tegas terhadap sistem pendidikan. "We must develop a social vision and commitment to make the liberal arts supportive of a democratic public sphere in which despair will become unconvincing and hope a practice for students and teachers alike, regardless of race, class, religion, gender, or age." (1988 hlm. 261).

Kupasan itu menginspirasi. Pendidikan demokratis akan memosisikan sekolah sebagai agen perubahan sosial. Guru memiliki kode etik untuk tidak membuat siswanya stres dan trauma. Banyak cara memberikan peringatan kepada siswa yang nakal. Semisal memberikan teguran lisan, tertulis, memanggil orang tua, dan membuat perjanjian. Jika tak mampu lagi mengatasinya, guru berhak mengembalikan siswa kepada orang tua.

Guru harus pandai dan cerdas mengelola manajemen di kelas. Pengelolaan itu kini terbalik-balik. Jadi sangat wajar sebuah riset yang dilakukan LSM Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW) merilis pada awal Maret 2015 lalu. Survei menunjukkan fakta bahwa 84 persen anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah.

Angka tersebut lebih tinggi dari tren di kawasan Asia, yakni 70 persen. Riset ini dilakukan di lima negara Asia, yakni Vietnam, Kamboja, Nepal, Pakistan, dan Indonesia. Persentase hasil riset yang buruk itu tidak perlu terjadi. Bangsa yang beradab ini memiliki sejumlah peraturan yang melindungi anak.

Seperti UU No. 35/2014 tentang Perlindungan Anak, Inpres No. 5/2014 tentang Gerakan Nasional Antikejahatan Seksual terhadap Anak, dan UU No. 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Sangat lengkap dan sistematis agar anak-anak dilindungi oleh hukum.

Terhadap penyelesaian hukum aksi kekerasan di SDN 4 Sawah Lama, publik patut mengawalnya. Jangan sampai penerapan hukumnya terbentur beragam kepentingan, apalagi kurangnya komitmen pemerintah daerah membenahi dunia pendidikan. Hukum harus ditegakkan. Negara harus hadir dalam penyelesaian kekerasan terhadap anak. Mengapa? Karena aksi kekerasan guru itu tidak hanya dilakukan hanya hari itu, bahkan berkali-kali, dimulai sejak 2015.

Dalam penuturan Deni Ifani (46), orang tua siswi korban penganiayaan di SDN 4 Sawah Lama, “Anak saya sebelumnya tidak pernah cerita, setelah temannya berhasil merekam, barulah dia cerita.” Pada hari-hari tertentu, kata Deni, putrinya selalu beralasan agar tidak masuk sekolah. “Senin dan Selasa anak saya malas sekolah alasannya sakit, rupanya trauma, ketakutan. Selama ini tidak pernah cerita karena takut."

Mengerikan! Potret memalukan di Sawah Lama itu harus menjadi cermin buruk yang terakhir. Harusnya, kata penyanyi Iwan Fals dalam lagunya Oemar Bakri, bikin otak orang seperti otak Habibie. Pendidikan dibenahi, guru pun perlu dimuliakan karena bisa menyalakan ilmu pengetahuan, memancing, untuk memunculkan kreativitas dan karakter anak bangsa di kelas. Kekerasan di lembaga pendidikan tidak melulu terus berulang di bumi Lampung ini jika dikelola oleh manajemen sekolah yang baik. ***