Cyber Jihad Versus Cyber Army!

H. Bambang Eka Wijaya

KAPOLRI Tito Karnavian mengungkap untuk membongkar jaringan terorisme yang kini melakukan kegiatannya dengan cyber jihad atau cyber terorism, menggunakan internet sebagai sarana perekrutan, pelatihan anggota baru membuat bom, sampai transfer dana operasionalnya, kepolisian telah membentuk satuan khusus bernama Cyber Army.
Satuan tersebut memiliki tugas melakukan pengintaian, investigasi, penyamaran, dan penyerangan di dunia maya. "Teknik cyber patrol ini sama dengan teknik di dunia nyata. Ada yang melakukan pengintaian, undercover atau penyamaran, seolah-olah jadi bagian kelompok mereka, menggunakan berbagai akun media sosial dan ikut berkomunikasi," ujar Tito. (Kompas.com, 22/12/2016)
Mengenai cyber jihad, Tito mencontohkan terduga teroris yang ditangkap di Bekasi, Muhammad Nur Solihin, sebagai orang yang direkrut dan dilatih melalui dunia maya. "Memang rekrutmen sekarang adanya di media sosial. Ada istilahnya cyber terorism atau cyber jihad. Mereka melakukan perekrutan dan pelatihan tidak lagi fisik, tetapi online," ujar Tito.
Dunia maya juga digunakan jaringan kelompok teroris untuk mendanai seluruh aksinya. Dana yang disalurkan, kata Tito, menggunakan sistem bitcoin (satuan mata uang dunia maya).
Kelompok cyber terorism yang ditengarai aktif membentuk sel-sel kecil di banyak tempat Indonesia adalah Jamaah Anshar Daulah Khilafah Nusantara (JADKN) yang dipimpin Bahrun Naim. Irawan dan Helmi, dua dari tiga terduga teroris yang tewas saat penggerebekan di rumah kontrakan di Tangerang Selatan, diketahui polisi merupakan bagian dari kelompok JADKN.
Dalam kesehariannya, kata Kombes Awi Setiyono, dari Divisi Humas Polri, Irawan sopir perusahaan air mineral di Tasikmalaya, sedangkan Helmi penjual bubur. Terduga teroris tewas yang bernama Omen, mantan terpidana kasus pembunuhan. Ia direkrut Ovi, napi bom Kedubes Myammar 2013.
Dengan dukungan Cyber Army melakukan cyber patrol melacak cyber terorism, menjadi tidak aneh dalam waktu singkat Densus 88 Polri berhasil menyingkap jaringan teroris yang luas, membekuk banyak teroris dengan sejumlah bom aktif siap melakukan serangan.
Sukar dibayangkan sebelumnya jaringan teroris yang sudah sedemikian meluasnya di Tanah Air, dari Bekasi ke Ngawi, Solo, dan Tasikmalaya, lantas dari Tangerang Selatan ke Payakumbuh, Deli Serdang, hingga Batam. Hanya orang kurang waras menyatakan pengungkapan jaringan teroris dengan bom-bom berdaya ledak tinggi itu cuma pengalihan isu. ***