Damai Natal untuk Negeri

Selamat Natal. sidomi.com

KEPOLISIAN Republik Indonesia dengan tegas memberikan jaminan bahwa perayaan Natal dan Tahun Baru berlangsung aman dan damai. Korps Bhayangkara berkomitmen bekerja keras untuk memastikan umat Nasrani bebas dari teror dan ancaman intoleransi.
Jaminan itu disampaikan lewat Operasi Lilin yang dimulai pada 23 Desember 2016 hingga 1 Januari 2017 dengan melibatkan 85 ribu personel Polri dibantu 15 ribu anggota TNI. Jumlah tersebut belum termasuk tenaga kesehatan dan bantuan organisasi massa serta instansi lain sebanyak 50 ribu anggota.
Negara lewat aparaturnya dan dibantu ormas bahu-membahu bergerak melindungi jemaat gereja yang merayakan Natal. Tidak boleh ancaman teror menghalangi umat merayakan hari rayanya. Jangan ada lagi pembubaran perayaan umat Nasrani seperti terjadi di Sabuga, Bandung, 7 Desember 2016 lalu.
Sejumlah pihak mengkhawatirkan adanya teror pada Natal. Dua gereja sudah menjadi sasaran teror beberapa waktu lalu. Pertama, penyerangan pastor oleh pelaku menggunakan pisau di Gereja Katolik Medan, Sumatera Utara, Agustus lalu. Kedua, pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda, November lalu. Satu anak tewas dan tiga lainnya mengalami luka bakar.
Namun, kekhawatiran mulai mereda dengan tindakan pencegahan Tim Densus 88 Antiteror. Pada 21 Desember lalu, Densus membekuk beberapa terduga teroris di empat lokasi, yaitu Tangerang Selatan; Desa Balai Nan Duo, Payakumbuh, Sumatera Barat; Deli Serdang, Sumatera Utara; dan Batam, Kepulauan Riau. Beberapa terduga teroris itu berencana meledakkan bom pada malam Natal.
Kita berharap damai Natal bisa dirasakan semua umat Nasrani di Nusantara, juga di Lampung. Mereka berhak mendapatkan ketenangan dan kekhidmat tanpa ada gangguan sekecil apa pun. Dengan perayaan yang khidmat, umat beragama bisa menunjukkan toleransi dan rasa melindungi membuat keberagaman lebih indah.
Usaha keras penegak hukum dan negara untuk menjamin kebebasan beragama memang belum maksimal. Kasus kekerasan dan intoleransi masih tinggi. Hal ini tecermin dari data Setara Institute yang merilis indeks kebebasan beragama atau berkeyakinan pada 2016.
Variabel kebebasan beragama turun 0,10%, dari 2,57 menjadi 2,47 pada 2016. Lembaga itu menyebut ada 182 pelanggaran kebebasan beragama hingga 8 Desember 2016. Angka ini diperkirakan bisa bertambah saat perayaan Natal.
Sementara pada 2015, terdapat 197 peristiwa mengganggu kebebasan beragama atau berkeyakinan. Artinya, penurunan angka kekerasan tidak signifikan.
Lewat momen Natal tahun ini, umat lintas agama perlu kembali merefleksikan kondisi kebangsaan yang penuh dengan kekerasan. Kekerasan atas nama apa pun, apa lagi agama, harus segera diakhiri. Semua agama mengajarkan umatnya tentang kasih sayang dan kepedulian, bukan kekerasan dan caci maki. Segala tindak kekerasan amat bertentangan dengan ajaran agama mana pun. n