Desember

D Widodo, wartawan Lampung Post

ANGIN dingin sering meniup mencekam. Air hujan pun turun deras dan kejam membuat hati berdebar-debar. Debar akhir tahun di setiap Desember.
Desember dikenal sebagai bulan gede-gedenya sumber karena tingginya curah hujan. Badai merobohkan pepohonan. Papan reklame menimpa rumah, kendaraan, dan kabel listrik. Banjir bandang datang tanpa terduga-duga. Sungai-sungai meluap merendam sawah dan permukiman. Saluran drainase meluber menggenangi jalanan aspal. Kontraktor nakal pusing melihat lapisan aspal tipis tersapu aliran air.
Desember adalah kenangan akan datangnya bencana besar di negeri ini. Melumat kawasan pesisir dan merenggut ratusan ribu korban. Ketika kerak bumi bergolak, ia akan meluluhlantakkan hampir seluruh kehidupan di permukaannya. Andai saja bumi yang satu ini punya mata hati, tentu bencana itu akan digesernya ke kawasan tanpa penghuni, termasuk peristiwa pekan lalu.
Desember, bulan ke-12 itu, menjadi bulan terakhir di penghujung tahun. Inilah bulan tersibuk para pengelola keuangan untuk menyusun laporan laba rugi selama setahun. Tambal sulam pos-pos pengeluaran dengan pos lain yang melampaui target.
Desember adalah bulan untuk mengevaluasi kelemahan sekaligus menyusun strategi baru di tahun depan. Menyiapkan langkah terbaik guna mendongkrak kinerja. Dengan demikian, Desember tidak selalu menjadi yang terakhir. Desember justru menjadi awal.
***
Meskipun angin dingin sering meniup dan mencekam, Desember tidak harus kelabu. Desember menjadi bagian terpenting dari suka cita tahunan umat Kristiani. Dalam tradisi Katolik, tiga pekan pada Desember disebut masa advent, yakni masa menunggu kedatangan-Nya hingga Natal tiba. Itu sebabnya, berbagai acara Natal lazimnya diselenggarakan setelah Misa malam Natal.
Selama masa advent banyak dijual pernak-pernik Natal dengan fokus dekorasi pohon Natal. Pohon Natal lazimnya menggunakan pohon cemara atau bahan lain yang dibentuk menyerupai pohon cemara dengan lapisan salju di permukaan daun. Agaknya tradisi ini mengadopsi perayaan Natal di Eropa karena di Betlehem tidak mengenal musim salju.
Andai pohon Natal di Indonesia memakai pohon jambu, rambutan, atau nangka boleh, kan? Boleh saja. Dalam beberapa hal simbol menjadi tidak penting. Pohon jambu boleh-boleh saja dipakai sebagai pohon Natal. Angin dingin boleh saja meniup dan mencekam. Air hujan silakan turun deras dan kejam asalkan sesama manusia hidup saling mengasihi. Dan, malam Natal pun berlangsung aman tanpa berdebar-debar. n