2013-02-05 08:10:00
Dinas Pendidikan Mesuji Dinilai Abaikan Guru

MESUJI (Lampost.co) : Sebagian besar guru yang ada di daerah terpencil Kabupaten Mesuji pertanyakan dana bantuan khusus daerah terpencil. Pasalnya, hampir seluruh guru di daerah terpencil tidak mendapatkan bantuan tersebut. Padahal mereka mengaku telah melengkapi segala persyaratan sebagai penerima.

Seperti terungkap di Desa Sritanjung, Kecamatan Tanjungraya. Menurut Sarinawati, guru setempat, di sekolah SD N Sritanjung terdapat dua belas guru. Namun dari jumlah itu, yang mendapatkan bantuan insentif dana guru desa tertinggal hanya kepala sekolah dan seorang guru.

Guru lainnya tidak mendapatkan dana tersebut. Padahal, kata dia, pihaknya sudah melengkapi semua persyaratan yang ditentukan oleh Dinas Pendidikan. “Termasuk memiliki nomor unit pendidik dan tenaga kependidikan (NUPTK) dan tentunya keterangan berada di tempat terpencil. Kami pernah coba tanyakan ini ke dinas terkait namun jawabannya berbelit-belit. Kami mohon agar kami yang berada di daerah terpencil ini bisa sedikit diringankan bebannya," jelas Sarinawati, Senin (4-2).

Dari data di Dinas Pendidikan Kabupaten Mesuji melalui Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas),tahun 2011, jumlah guru di daerah terpencil di Mesuji mencapai 500 orang. Dari jumlah tersebut, jelasnya, yang mendapatkan bantuan hanya 48 orang guru saja. "Syarat yang harus dipenuhi sebagai calon penerima adalah harus berada di kaerah terpencil dan harus miliki NUPTK. Bantuan ini bersumber pada APBN, dan yang menentukan berapa jumlah penerimanya adalah pusat, sesuai penerima dengan kouta Data Pokok Pendidik (Dapodik). Tahun 2011, kita hanya memiliki jatah 48 saja, tahun 2012, kita dijatah untuk 100 orang saja. Guru terpencil di Mesuji sendiri mencapai 500 orang dari 2000 guru se-Mesuji," jelas Gatot, Staf di Bidang Dikdas.

Ia menambahkan mengapa semua guru di wilayah terpencil belum terdata ia tidak bisa menjelaskan. Sementara, Kabid Dikdas, Hapzi, tidak bisa dikonfirmasi karena sangat jarang berada di kantor Dinas Pendidikan dengan alasan Dinas Luar (DL). "Hari ini dia DL lagi, selama ini jarang terlihat, saya tidak tahu alasannya. Namun besok dia harus masuk karena kepala dinas memintanya masuk," jelas Sekertaris Pendidikan Sunardi.

Selain persoalan insentif guru desa tertinggal. Carut marut data di dinas pendidikan Kabupaten Mesuji juga terpaksa mengorbankan hak guru honor satu tahun tidak terbayar yakni tunjangan fungsional guru non Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebesar Rp1,7 juta. Bahkan informasi yang diterima dari salah satu guru honor yang tidak mau disebut namanya, honor yang mereka terima juga tidak penuh sesuai jumlah. “Ada potongan apalah namanya di Provinsi, jadi berapa orang (guru honor) kami yang dapat patungan untuk menutupi potongan itu. Sehingga kami dapatnya hanya kisaran rp1-1,2 juta,”jelas guru honor tersebut.

Lain halnya dua guru honorer lainnya, salah satunya Edi Suprayogi, di SMA Muhammadiah Mesuji Timur. Bahkan tidak menerima sama sekali untuk Tahun 2012. Padahal mereka sebelumnya sudah pernah menerima tunjangan tersebut.

Menurut Azhar, staf Dikmen Dinas Pendidikan setempat, mengakui hal tersebut. “Itu kesalahan data. Jadi tidak dapat cair uangnya,” ujarnya. Mengenai dimana saat ini dana tersebut ia menjawab di Dinas Pendidikan Provinsi Lampung.

Ia melanjutkan semua baik pendataan dan segala macam terkait tunjangan tersebut urusan provinsi. “Jadi maaf saja, kita tidak bisa bantu, “ujarnya. Mengenai potongan yang disampaikan guru honorer yang tidak mau disebut namanya mengenai provinsi meminta “jatah” dari tiap pencairan tunjangan tersebut, Azhar membantahnya. “Setahu saya tidak ada seperti itu,” ujarnya. (UAN/L-1)

komentar facebook