Emery dan Jack Ma

Padli Ramdan, wartawan Lampung Post

USAI menaklukkan Barcelona dengan skor cukup telak, manajer Paris Saint-Germain, Unai Emery, tetap bersikap tenang tanpa ekspresi berlebih. Padahal, kemenangan yang diraih timnya terbilang fantastis.
Para pendahulu Emery yang menukangi klub kaya raya ini belum pernah mampu memperlakukan Tim Catalan dengan margin gol yang cukup besar. Saat menjadi pelatihan beberapa klub Spanyol, Emery hanya mampu mencatat satu kali kemenanganan melawan Barcelona dari total 23 kali pertemuan.
"Tim ini telah membuat satu upaya besar dengan permainan yang bagus. Tapi, saya tetap punya rasa hormat yang sama untuk Barcelona. Dan, 90 menit berikutnya di Camp Nou adalah waktu yang lama," kata Emery setelah memimpin anak asuhnya bertanding di Stadion Parc des Princes, Paris.
Respek yang tinggi dan sikap santun menjadi bagian dari diri pria 45 tahun tersebut. Mantan manajer yang membawa Sevilla tiga kali beruntun juara Piala Eropa ini tidak kehilangan kerendahan hati saat menang dan tetap percaya diri kala menerima kekalahan.
Kekalahan membuatnya tetap bekerja keras untuk membawa timnya lebih baik. Kerja keras itu ditunjukkan dengan melihat berjam-jam rekaman pertandingan calon lawannya. Ia pun meminta para pemainnya untuk melihat rekaman pertandingan klub lawan selama mungkin.
Kesantunan dan pekerja keras juga ditunjukkan oleh Ma Yun atau yang akrab disapa Jack Ma (51). Pendiri situs e-commarce Alibaba.com ini memiliki total kekayaan hingga 27,4 miliar dolar AS. Jack mengatakan kekayaan miliaran dolar AS miliknya merupakan simbol kepercayaan masyarakat. ”Kepercayaan ini akan tetap saya jaga,” kata dia.
Pria yang hanya lulusan D-3 Sastra Inggris ini kerap dicap gagal karena beberapa kali tidak diterima masuk perguruan tinggi. Termasuk ditolak saat mendaftar di salah satu toko cepat saji di daerahnya. Ia pun sempat menjadi pemandu wisata di hotel yang banyak dikunjungi turis.
Awalnya Ma hanya mendapatkan gaji 12 dolar AS sebulan. "Ketika tidak memiliki banyak uang, Anda tahu bagaimana menghabiskannya," ucap Ma. "Uang 1 miliar dolar AS bukanlah uang Anda. Uang yang saya miliki hari ini adalah tanggung jawab. Itu merupakan kepercayaan orang terhadap saya," katanya.
Kita patut belajar tentang bagaimana manjadi pribadi yang santun dan rendah hati dari dua sosok beda profesi ini. Banyak orang yang kini kehilangan rasa respek dan kerendahan hati, terutama ketima menjadi pengguna media sosial (netizen).
Media sosial mereduksi sifat seseorang dan mengubahnya menjadi sosok yang mudah sekali mengumpat, memaki, atau merendahkan martabat orang lain. Perlu kehendak baik untuk terus merawat akal sehat agar tidak menjadi orang buwas di jagat maya. n