Emil Meminta Maaf ke Jemaat KKR!

H. Bambang Eka Wijaya (Lampost.co)

EMIL, sapaan akrab Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, hadir dan meminta maaf kepada sekitar 3.000 jemaat ibadah Kebaktian Kabangunan Rohani (KKR) di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung yang digelar Jumat malam (23/12/2016), semestinya ibadah itu digelar Selasa (6/12/2016), tapi dibubarkan oleh massa sebuah ormas.
"Apa pun yang terjadi di Bandung, saya sebagai pemimpin menghaturkan permohonan maaf kepada jemaat di sini atas terkendalanya atau ketidaknyamanan di waktu sebelumnya," ujar Emil yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Gerindra saat Pilkada Bandung 2013.

Keputusannya menunjuk hari pengganti kegiatan KKR akan menuai pro dan kontra, ujarnya. Namun, ia teringat pesan sang ibu agar selalu menjadi pemimpin yang adil. "Sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpin yang adil dan agama saya mengajarkan surga dan neraka pemimpin ada di atas adil-tidaknya keputusan pemimpin. Batin dan akal sehat saya mengatakan semua yang saya putuskan saya pertanggungjawabkan. Itulah kenapa saya memutuskan untuk memberi hari pengganti dari tanggal 6 yang terkendala,” jelas Emil. (Kompas.com, 23/127)

Lebih jauh Emil mengatakan Pemkot Bandung telah melakukan sejumlah upaya untuk menekan aksi intoleransi, antara lain mengeluarkan maklumat kebebasan beragama serta pembentukan tim satuan tugas toleransi. Langkah itu untuk meminimalisasi kejadian intoleransi di Bandung. Pemerintah wajib melindungi segala aktivitas keagamaan selama dikerjakan sesuai aturan.
"Di negeri ini tidak boleh ada warga yang ketakutan dalam menjalankan ibadahnya. Kita harus melawan ketakutan dengan cara yang baik," tegas Emil.
"Agama saya mengajarkan cinta itu ada tiga, cinta kepada Tuhan, kepada manusia, dan kepada Tanah Air," ungkap Emil. "Kalau kita tak bisa bersaudara dalam keimanan, bersaudaralah dalam kemanusiaan dan kebangsaan."
Satgas toleransi, kata Emil, diisi unsur semua agama untuk memastikan tidak ada satu pun ibadah terkendala di kotanya.

Bandung kota heterogen yang menjadi model ideal bagi umumnya kota besar di Indonesia. Karena itu, kalau toleransi antarumat beragama di Bandung buruk, seperti nyaris dicerminkan oleh peristiwa pembubaran ibadah KKR di Sabuga 6 Desember, bisa menjadi contoh buruk yang segera meluas di kota-kota besar lain di Tanah Air.
Sehingga, penanganan masalahnya dengan baik oleh Ridwan Kamil, layak dicontoh oleh kota-kota lain negeri ini. Untuk itu, kita ucapkan selamat dan sukses pada Ridwan Kamil. ***