Facebook Mudahkan Peneliti untuk Obati Penderita Gangguan Mental

Hubungan dalam Facebook bisa membantu mereka yang kurang percaya diri dan menyediakan persahabantan bagi mereka yang dijauhi secara sosial. (Foto: Trustbasedlawyermarketing)

Jakarta -- Status atau foto media sosial yang diperbarui ternyata dapat membantu para peneliti untuk lebih baik dalam mengerti tentang penyakit kesehatan jiwa.

Bahkan, diperkirakan media sosial akan digunakan untuk mengobati penyakit mental, terutama pada orang-orang muda.

"Facebook yang sangat populer dapat memberikan kita kekayaan data untuk meningkatkan pengetahuan kita tentang gangguan kesehatan mental, seperti depresi dan skizofrenia," ujar pemimpin penelitian Becky Inkster dari University of Cambridge.

Lebih dari satu juta orang menggunakan media sosial tersebut dan penggunaan media sosial telah meningkatkan penggunaan internet hingga tiga kali lipat.

"Media sosial ini memiliki jangkauan yang sangat luas hingga ke kelompok yang sulit digapai, seperti anak muda yang tuna wisma, imigran, orang-orang dengan gangguan mental, dan para orang yang sudah tua," catatnya.

Para peneliti percaya bahwa Facebook bisa membantu mendeteksi faktor kesehatan mental. Bahkan, Facebook lebih mudah dipercaya daripada laporan pribadi dari penderita, meskipun kelakuan di dunia nyata masih diperhatikan juga.

Selain itu, media sosial tersebut juga dapat mengukur konten apa yang sulit diakses di dunia nyata, seperti intensitas percakapan, dan ukuran sampel yang sebelumnya tak bisa dijangkau.

Status, berita yang dibagikan, dan apa yang disukai dapat memberikan banyak informasi tentang penggunanya.

"Hubungan dalam Facebook bisa membantu mereka yang kurang percaya diri dan menyediakan persahabantan bagi mereka yang dijauhi secara sosial," tambah Inkster.

"Kita tahu bahwa remaja yang terisolasi secara sosial cenderung mengalami depresi dan berpikir untuk bunuh diri, jadi media sosial ini dapat memberanikan mereka untuk memperbarui koneksi sosial di dunia nayta," tambahnya.

Koneksi online, yang berpotensi menjadi pertemuan langsung, dapat memberikan dukungan pada mereka yang rentan mengalami gangguan mental seperti anak muda yang tak memiliki tempat tinggal.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa dukungan tersebut berhubungan dengan pengurangan konsumsi alkohol dan penurunan pada gejala depresi.

Tak seperti komunitas penderita virtual, keuntungan menggunakan jaringan sosial, terutama Facebook, membuat orang-orang secara alami menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari karena tidak ada batasan waktu.