Filsafat Moral Ulun Lappung

Filsafat ulun Lappung. 1.bp.blogspot.com

CATATAN tentang dinamika pembangunan daerah Lampung dapat dipahami karena adanya hubungan sebab akibat dan saling hubungan antarfenomena alam, sosial, serta pembangunan daerah yang merupakan perilaku manusia sebagai pelaku pembangunan yang saling berinteraksi dalam komunitasnya dan antara manusia dengan alam serta pasar global.
Sebab pada dasarnya, sumber segala eksistensi atau yang maujud adalah Tuhan (teosentris; dalam Islam disebut Allh swt). Pemahaman itu jelas memiliki implikasi yang berbeda dalam pengembangan ilmu pengetahuan, dibandingkan dengan paradigma lainnya, bahwa pedagang muslim sebagai manusia mempunyai kedudukan sentral di jagad raya ini (antroposentris).
Mengapa sebuah proses simbolis mengalami transformasi, padahal ada benarnya jika manusia sebagai pelaku pembangunan di daerah juga berubah, sehingga perlu dipahami atas dasar kebenaran tentang sikap, perilaku ekonomi, sosial, dan tatanan masyarakat, tempat perbuatan-perbuatan itu berlangsung. Pelaku ekonomi, sosial, dan budaya dalam keseharian mendapati pengertian dan pembenaran dalam suatu dunia pengetahuan yang dimiliki bersama.
Untuk itu mereka perlu mengerti, memahami, dan memiliki sense of belonging, rasa memiliki terhadap pembangunan daerahnya sendiri sebagai wujud dari identitas dalam keluarga pedagang muslim, masyarakat, bangsa, dan negara.
Dinamika pembangunan daerah membutuhkan pemahaman tentang struktur-struktur konsepsi, identifikasi gagasan-gagasan, persepsi, klasifikasi, dan penafsiran yang dimiliki pelaku pembangunan ekonomi, sosial, serta budaya yang merupakan sistem mental yang dilandasi moral, spiritual, dan kultural, yang berfungsi untuk dipedomani dan mengarahkan perilaku sosial pada kehidupan yang lebih baik dan sempurna.
Djuretna, dosen Filsafat Universitas Gadjah Mada, menyatakan pemahaman yang mendasar semacam itu sangat penting bagi masyarakat yang sedang membangun, mengingat persoalan moral dan agama sebagai dasar strategi pembangunan yang menyeluruh, dalam upaya menuju ke satu masyarakat yang sejahtera, seimbang material dan spiritual masih jauh dan penuh dengan liku-liku yang rumit. Jika moral dan agama dijadikan dasar strategi pembangunan berarti persoalan itu dapat dikaji secara fungsional dan pragmatis, sehingga dapat diposisikan dalam rencana strategis pembangunan, yang diarahkan untuk menuju masyarakat madani. Mengingat kompleks dan rumitnya persoalan-persoalan ekonomi, sosial, dan kebudayaan dalam realitas pembangunan daerah.
Perspektif pembangunan daerah yang bersifat dinamis menunjukkan konsepsi dan gagasan-gagasan yang merupakan rangkaian pengalaman dan aktivitas masyarakat yang berkesinambungan dalam proses perubahan sosial. Menurut Niels Mulder, pandangan dunia adalah seperangkat gagasan mengenai susunan praktis kehidupan di dunia ini yang mengandung suatu teori mengenai hubungan-hubungan sosial dan mengenai hubungan antara pribadi dan masyarakat.
Penafsiran-penafsiran yang beraneka ragam ini akan terbentuk oleh orientasi kognitif dasar yang sama, yang menyatakan diri dalam suatu mentalitas yang khas. Dari suatu pandangan dunia yang menerangkan susunan eksistensi sebenarnya secara logis mengikuti peraturan-peraturan kehidupan, yaitu suatu sistem moral yang berisikan pengetahuan mengenai bagaimana kehidupan dijalani secara bijaksana dan teratur.
Konsep tentang pandangan dunia itu dapat diarahkan pada persoalan moral, mentalitas, dan agama, yang pada dasarnya merupakan inti kebudayaan, berada pada posisi sentral dan strategis dalam kerangka membangun kehidupan masyarakat berbudaya agar lebih bermakna bagi manusia di masa depan. Hal itu dapat dipahami karena pembangunan daerah sebagai perubahan yang direncanakan merupakan bagian integral dari dinamika kebudayaan. Sebab, pada hakikatnya kebudayaan adalah proses kreatif diri manusia yang aktual dalam menjawab tantangan yang dihadapinya.
Lebih lanjut di menyatakan manusia sebagai pelaku atau aktor pembangunan daerah yang dalam hidupnya beraktivitas atas dasar budaya lebih menunjuk pada dimensi kualitas kemanusiaannya, terutama dalam kaitannya dengan kemampuan konseptual dan juga terletak pada komitmennya yang tinggi terhadap tuntutan moralitas kemanusiaan yang universal. n