Garam, Ukuran Kemampuan Indonesia!

H. Bambang Eka Wijaya

BETAPA dahsyat pun retorikanya, kehebatan Indonesia ukurannya ada pada kemampuan bangsa yang hidup di kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia ini memenuhi sendiri kebutuhan garam penduduknya. Fakta nyatanya, impor garam Indonesia pada 2016 menurut Dirut PT Garam (Persero) Achmad Budiono sebanyak 3 juta ton, naik dari 2,1 juta ton tahun sebelumnya.
Dari jumlah itu, menurut Budiono, 1,7 juta ton di antaranya untuk kebutuhan industri kimia. Sedangkan kebutuhan garam untuk industri pangan antara 350.000 ton-400.000 ton per tahun. (Kompas.com, 26/8/2016)
Produksi garam rakyat baik di Cirebon maupun Madura dilaporkan gagal panen hingga 60% akibat kemarau basah sepanjang tahun 2016, yang tidak memberi cuaca panas cukup empat pekan setiap proses produksi.
Ketua Ikatan Petani Garam Indonesia M. Insyaf Supriadi mengatakan, "Dari keseluruhan tambak garam yang berada di Cirebon yaitu sekitar 16.000 hektare, paling yang bisa diproduksi hanya 40%, dan dapat dipastikan produksi menurun drastis." (Bisnis.com, 30/8/2016)
Menurut Insyaf, selain terguyur hujan tambak garam petani juga terendam air rob (pasang). "Hujan belum berhenti kemarin ada banjir rob yang menggenangi sekitar 700 hektare tambak garam petani sehingga dipastikan gagal panen," tuturnya.
Hujan yang turun diiringi banjir rob, bukan cuma menyebabkan krisis produksi garam, tapi menurut Insyaf, dipastikan para petani garam juga menderita krisis ekonomi tidak memiliki pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari.
Hal serupa terjadi di Madura, sentra produksi garam nasional. "Faktor cuaca tetap jadi persoalan, bahkan sering hujan membuat kami tak bisa maksimal dalam masa panen," ujar Zainol Fatah, petani garam asal Pengarengan, Sampang. Kemarau basah, ujar Fatah, bukan hanya mengurangi jumlah garam yang dipanen, tapi juga menurunkan kualitas garamnya. (Okezone, 2/9/2016)
"Sudah hasil panen berkurang, kami juga terancam dengan harga beli yang murah," keluh Fatah.
Tak tercapainya target produksi garam 2016 itu, menurut Guru Besar Teknik Kimia UI Misri Gozan karena petambak garam masih menggunakan sistem tradisional, bukan teknologi tinggi. Menurut dia, tidak semua pantai bisa digunakan sebagai lahan untuk memproduksi garam. Harus yang gelombang tidak terlalu tinggi, kadar lumpur pada air laut di pantai yang rendah. (Bisnis.com, 7/1/2017)
Tapi Indonesia semata mengandalkan alam tanpa dukungan teknologi memadai, gemar beretorika swasembada garam. ***