Gemerlap Batu Akik Meredup

Batu akik. LAMPUNG POST/YON FISOMA

BANDAR LAMPUNG -- Fenomena batu akik sempat menggemparkan seluruh jagat Nusantara, termasuk Lampung, beberapa tahun lalu. Semua kalangan dari orang tua, remaja, hingga wanita pun menggandrungi keunikan batu akik tersebut.
Pada saat booming beberapa tahun lalu, masyarakat sedang mengalami tahap rasa penasaran terhadap sebuah batu cincin sehingga hampir di seluruh sudut kota pada saat itu mudah sekali dijumpai perajin batu.
Dilihat dari sisi ekonomi, batu akik memiliki nilai investasi yang menggiurkan. Sebab, setiap orang hanya membeli batu dengan harga murah dan pada beberapa waktu ke depan harga jualnya bisa mencapai angka yang fantastis.
Alasan lain batu akik menjadi tren, yakni dilihat dari performanya. Banyak jenis batu akik yang mempunyai karakter kuat sehingga siapa pun yang memakainya akan merasa bangga, eksklusif, dan prestise karena setiap batu tentu akan berbeda dilihat dari motif dan unsur lainnya.
"Walaupun keuangan sedang minim, jika ada batu yang berkualitas, siapa pun akan berlomba untuk membelinya," kata Adi Dermawan, pemilik gerai batu cincin di lantai I Plaza Lotus, pekan lalu.
Ia mengaku mulai menggeluti hobi batu akik sejak 2008 silam. Setelah melewati proses yang panjang, akhirnya Adi memutuskan membuka gerai pada 2011. Menurutnya, fenomena batu akik mulai berkembang dan melejit pada 2012 dengan puncak demam batu akik pada 2014.
Saat itu sejumlah jenis batu akik sedang booming, di antaranya bacan, bungur, garut, dan biru langit. Saat itu harga batu akik dengan kualitas bagus bisa dihargai ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah. Bahkan, banyak orang yang kesengsem dengan satu jenis batu rela menukarkannya dengan barang mewah yang dimilikinya, seperti mobil.

Menurun
Sayang, kejayaan batu akik tak selamanya secemerlang warnanya. Menginjak 2015, euforia batu akik mengalami penurunan yang drastis. Hal tersebut disebabkan ketidakstabilan perekonomian negara yang berdampak ke semua daerah. "Tidak hanya batu cincin, tetapi semua produk juga mengalami kelesuan ekonomi," kata Adi.
Penurunan tersebut dapat dilihat dari minat masyarakat yang tak lagi mencari batu dalam jumlah banyak. "Indikator sepinya peminat karena masyarakat lebih memilih batu yang bersifat kualitas, bukan kuantitas. Pada saat booming setiap orang beli batu yang bersifat kuantitas," ujarnya.
Adi pun mengakui redupnya kilau batu akik berimbas pada berkurangnya para pencinta batu. Kini mereka kembali ke dunia birokrasi atau membuka usaha lain. "Namun, saya yakin suatu saat mereka akan kembali lagi untuk menekuni batu saat booming kembali," kata dia.
Dia menambahkan kelebihan dari jalinan yang terhubung dari batu akik, yaitu koneksi dan hingga kini masih terjalin. "Memang enggak kelihatan, pakai celana pendek dan enggak mengenal jabatan, suku, ras, dan lainnya. Dengan batu cincin, kita bisa mengobrol dengan siapa pun, mau dengan gubernur, wali kota, artis, pejabat, hingga lainnya. Itulah hobi batu, bisa menyatukan semua kalangan," ujarnya.