Habisi Jagal Jalanan!

Ilustrasi. penembakan begal. penatangerang.com

BEGAL mencoreng Lampung di kancah nasional. Maraknya begal beraksi tidak hanya di daerahnya sendiri, tetapi juga merambah ke Pulau Jawa sehingga membawa dampak buruk bagi nama baik Sai Bumi Ruwa Jurai. Keamanan provinsi di ujung Sumatera ini pun disangsikan.

Kondisi itu pulalah yang mendorong Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Lampung sejak 2015 memprioritaskan pemberantasan begal dari Tanah Lada. Polda terus membidik pelaku yang datang dari kampung begal di Jabung, Lampung Timur.

Penggerebekan pun dilakukan tiga Kapolda Lampung. Pertama, pada Agustus 2015, Kapolda Brigjen Edward Syah Pernong. Lalu, era Kapolda Brigjen Ike Edwin yang penggerebekannya dipimpin langsung Wakapolda Kombes Krishna Murti pada September 2016.

Terbaru, Kapolda Irjen Sudjarno dengan tim Subdit III Jatanras Ditreskrimum menggerebek dua kampung begal di Kecamatan Melinting dan Jabung, Lampung Timur, Selasa (27/12/2016). Enam pelaku begal ditangkap dan dua di antaranya tewas tertembak. Kemarin juga, pelaku begal dari Way Galih, Lampung Selatan, dihabisi oleh peluru tajam aparat kepolisian.

Begal dalam aksi merampas kendaraan kerap berlaku kejam, baik bersenjata tajam maupun senjata api. Aksi mereka telah lama menimbulkan keresahan. Pemberantasan begal pun terkesan pelik lantaran banyaknya kelompok begal beraksi di berbagai tempat.

Saat beraksi, komplotan begal itu pun tidak pilih bulu, pria, wanita, muda, tua, petani, PNS, bahkan Polri dan TNI. Mereka juga tidak pilih-pilih lokasi dan waktu. Tidak jarang di tempat ramai dan siang hari pun mereka melancarkan aksinya.

Butuh keberanian, ketegasan, dan pantang lelah aparat memberantas begal di Lampung. Kenyataannya, tindakan begal dilakukan bukan sekadar mengisi perut dan memenuhi kebutuhan primer para pelakunya, melainkan untuk membeli narkoba.

Tidak aneh memang begal berkaitan erat dengan narkoba. Apalagi kenyataannya, pelaku pembegalan sebagian besar berusia remaja, setara siswa SMA atau mahasiswa. Lantaran sakau zat terlarang, mereka memilih jalan pintas merampas kendaraan di jalan.

Oleh karena itu, penggerebekan sarang begal mestinya juga dapat menjadi pintu masuk pemberantasan peredaran narkoba. Bahkan, menjadi pembuka jalan untuk membongkar peredaran senjata api rakitan yang biasa digunakan pelaku pembegalan.

Aparat kepolisian pun harus membasmi pelaku begal. Begal juga tergolong teroris karena menyebarkan rasa ketakutan di masyarakat. Jangan beri waktu untuk munculnya bibit-bibit baru begal. Jangan pula semangat memberantas itu kalah dengan semangat begal membentuk kelompok-kelompok baru. Masyarakat dan aparat keamanan harus memegang peranan mengatasi aksi begal yang tidak pernah berhenti setiap minggu bahkan setiap hari.

Pemerintah daerah juga harus menciptakan banyak lapangan kerja baru untuk mengatasi pengangguran yang memicu munculnya begal baru. Mata rantai regenerasi begal harus diputus.

Harus tegas publik mendukung, penggerebekan kampung begal di penghujung 2016 membuka jalan menghabisi pelaku begal lainnya, dan menghukum lebih berat lagi. Perang melawan jagal di jalanan itu tidak pernah surut sampai aksi mereka benar-benar habis hingga ke akar-akarnya. *