Hatta

Wandi Barboy, wartawan Lampung Post

INI nuansa tentang Bung Hatta. Sebab, nuansa sebagaimana salah satu definisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring adalah kemampuan menyatakan adanya pergeseran yang kecil sekali tentang makna, perasaan, atau nilai. Jadi Hatta yang saya tuliskan hanya menyatakan perasaan saja: perasaan saya tentang Hatta dan segala hal-ihwal renik dalam Hatta. Dari buku Bung Hatta di mata tiga putrinya (2015), yaitu Meutia Farida Hatta, Gemala Rabiah Hatta, Halida Nuriah Hatta, saya menuliskan sekilas catatannya.
Bung Hatta, kata Meutia, telah menunjukkan perjuangannya yang kaya nuansa demi kemajuan Tanah Air dan bangsa Indonesia. Bung Hatta adalah pecinta buku, semua teman dekatnya sudah paham.
Namun, dikemukakan kembali oleh Meutia, ayahnya orang Indonesia yang mengoleksi buku sejak usia 16 tahun ketika baru mulai belajar di Prins Hendrikschool di Batavia dalam bidang ilmu dagang. Koleksinya terus bertambah. Selama 11 tahun sekolah di Belanda, Hatta memiliki koleksi buku terbanyak di antara mahasiswa Indonesia yang sedang studi di sana. Saking cintanya dengan buku, bahkan maskawinnya adalah buku Alam Pikiran Yunani yang ditulisnya sendiri kepada istrinya. Itu soal buku.
Soal ide bagi negara, Hatta adalah konseptor utama dari isi Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945 sebagaimana disatukan dalam Bab XIV Kesejahteraan Sosial. Untuk gagasan Pasal 33 UUD 1945 bahwa sistem perekonomian nasional harus menyejahterakan rakyat, Hatta menegaskan bangun perekonomian yang sesuai dengan itu adalah koperasi.
Pasal 34 jelas negara bertanggung jawab untuk melindungi dan menolong fakir miskin dan anak telantar. Ada lagi hak warga negara yang ditetapkan dalam Pasal 27 Ayat (2). Pekerjaan yang layak.
Pasal 28 UUD 1945 yang memberantas individualisme ihwal berorganisasi. Kemerdekaan berserikat dan berkumpul. Ditambah usulan lain, Pasal 29 Ayat (2) kebebasan memeluk agama.
Jangan salah, bahkan Hatta juga merumuskan pentingnya soal pertahanan negara sebagaimana tertera Pasal 30 Ayat (1). Tidak heran banyak sekali sebutan Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi, Bapak Hak Asasi Manusia, Bapak Kedaulatan Rakyat, dan lainnya.
Hatta dalam tulisan-tulisannya sering mengutip pujangga Jerman, Johann CF von Schiller, yang mengungkapkan, "Abadnya abad besar yang melahirkan zaman besar, tetapi momen besar itu hanya menemukan manusia kerdil". Entah mengapa Hatta sering mengutip hal ini. Mungkinkah Hatta melihat manusia-manusia kala itu manusia kerdil? Atau ia sedang menyindir kondisi hari ini yang jauh dari yang dicita-citakan dahulu?
Setiap zaman akan selalu membawa hal-hal baru. Teknologi baru mempercepat masuknya unsur budaya dari luar negeri ke negara kita, langsung ke rumah tangga penduduk Indonesia yang terdiri dari beranek ragam suku bangsa dan umat beragama.
Oleh sebab itu, pada momentum wafatnya Bung Hatta yang genap 37 tahun lalu, pada hari ini (14/3) perlu diambil sejumlah keteladanan Bung Hatta. Beberapa keteladanan Bung Hatta yang mesti dicontoh, di antaranya selalu mengasah diri menjadi orang yang lebih baik dari waktu ke waktu, beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga jika diberi anugerah oleh Allah dapat menggunakannya dengan sebaik-baiknya demi mencapai kesejahteraan bagi negara dan bangsa Indonesia. n