Hilang Budi

Mustaan Basran, wartawan Lampung Post

SIANG itu, Inem pulang dengan lari tergopoh-gopoh dan langsung ke belakang rumah majikannya. "Bang... Bang, ngendi sampean?" jeritnya di dapur sembari terus lalu lalang di teras belakang rumah itu.
Tak lama karibnya, Kacung, datang dari halaman belakang membawa sapu dan karung yang penuh berisi sampah. "Ada apa sih, Nem? Injuk jelma bingung niku." Begitu kata Kacung saat berada dekat Inem. "Coba ambil minum dulu dua. Satu untuk saya dan satu untuk kamu. Terus ceritalah," lanjut Kacung.
"Begini, Bang. Si Budi, anak tetangga yang pendiam, santun, dan baik itu dikabarkan hilang setelah banjir semalam," kata Inem. "Itu orang-orang isik podo nggoleki, Abang nggak ikut mencari apa?"
Memang tadi malam hujan deras sempat menggenangi kampung itu hingga sepinggang orang dewasa. Saat itu warga langsung ke luar menyelamatkan barangnya. Beruntung rumah majikan mereka berdua hanya tergenang semata kaki, jadi mereka membantu tetangga lainnya. Jadi, Kacung, Inem, majikan berserta anak, dan tetangga sebelah keluarga Budi membantu tetangga yang terkena genangan sepinggang.
"Hilang gimana sih, Nem? Itu dia masih tidur di kamar saya. Tadi malam saya ajak menginap di kamar saya karena kelelahan," kata Kacung. "Wajarlah anak sebaik itu saya tolong. Kalau orang seperti Budi wajib diberi kebaikan. Kalau orang tidak berakhlak, baru dibiarkan saja," cerocos Kacung.
"Oalah, Abang. Yang lain pada bingung lo nyariin. Tuh banyak juga yang salih menyalahkan karena Budi hilang," Inem tak kalah berani nyerocos.
Langsung Kacung menjawab. "Si Budi itu kan sudah besar dan berpikir baik, jadi tidak mungkin hilang. Yang saya khawatir itu kan orang-orang kampung yang kehilangan budi pekerti alias akhlak." Kacung mencontohkan warga saling menyalahkan akibat Budi hilang.
"Iya, Bang. Memang kehilangan akhlak itu yang membuat warga kampung ribut, bukan kehilangan si Budi," kata Inem. "Karena ternyata Budi masih nyaman tidur di kamar Abang."
"Tapi, anehnya kok, mereka yang hilang akhlaknya seperti tidak merasa kehilangan, ya?" kata Kacung. "Bahkan, setiap kali diminta perbaikan akhlak, justru selalu makin melenceng akhlaknya."
Inem pun beringsut ke kamar Kacung. "Betul, Bang. Tapi, ayo kita bangunkan Budi dan suruh pulang. Biar orang yang hilang budi pekertinya itu tidak ribut lagi." n